27.12.15

Ringkasan artikel 5: Sawitri Supardi Sadarjoen, Transformasi Kemarahan Berhasilkah?
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Transformasi emosi adalah suatu proses di aman terjadi aliran energi psikis dari pola disfungsional yang bersifat negatif menjadi lebih terbuka, bebas, dan mengarah pada pembentukan pola kehidupan perasaan yang sehat (V Satir, dalam Sadarjoen 2012). Proses tersesbut membawa perubahan meliputi:
  Persepsi seseorang

·         Arti yang dibangun atau diciptakannya
·         Perasaan terhadap kemarahan yang dihayati
·         Harapannya
·         Motivasi dan aksi yang ditunjukkan sesuai dengan hasrat kehidupannya
Mengelola perasaan diri sendiri dengan sadar dan bertanggungjawab adalah tugas yang terpenting, misalnya dengan mengelola rasa marah yang disfungsional menjadi lebih fungsional. Rasa marah adalah salah satu penghayatan emosi yang umumnya sulit serta kurang mendapat perhatian untuk dikelola dengan baik. Rasa marah yang disfungsional merupakan rasa marah yang tanpa kita sadari menjadi memiliki perasaan yang negatif, yang serta merta berpengaruh terhadap penurunan harga diri.

Bila kita menyimak rasa marah yang kita hayati, kita sebenarnya memiliki beberapa alternatif untuk mengatasinya, antara lain:
·         Kita bisa memberitahu diri kita sendiri bahwa pada saat itu kita sedang sangat  marah dan merasakan benar kemarahan menguasai diri kita
·         Kita bisa menyimpan kemarahan tersebut dalam hati dan kemudian pelan-pelan menekan hingga ke dalam hati yang paling dalam
·         Kita bisa menyimak pada taraf sedalam apakah dari pengalaman masa lalu kemarahan yang sedang kita alami saat ini
·         Kita mungkin saja mengalihkan rasa marah kita pada perasaan sakit hati, takut, dan justru menghadapinya dengan rsa terluka dan ketakutan yang berlebihan
Selain hal yang telah disebutkan di atas terdapat cara untuk mengelola rasa marah dengan melepaskan diri dari kondisi disfungsional menjadi lebih fungsional dengan upaya proses transformasi kehidupan emosi, antara lain sebagai berikut:
·         Mengubah persepsi/ pengamatan awal yang membuat kita terpaku pada sikap negatif terhadap lingkungan di mana kita berda dengan cara menerima diri seperti apa adanya dengan jiwa besar, artinya berlatih untuk menempatkan diri sewajarnya dalam lingkungan sosial kita
·         Membangun citra diri melalui upaya menunjukkan prestasi sosial, sehingga kecuali terbangun rasa harga diri, serta merta kita menghayati perubahan sikap lingkungan yang terasa semakin menghargai diri kita
·         Menyadari penghayatan marah yang muncul sebagai reaksi dari persepsi negatif yang pernah terbangun dan mulai memanfaatkan hasil evaluasi diri dengan sikap positif, sehingga pelan tapi pasti kita akan mampu mengungkap kemarahan dengan cara proporsional, bila memang perlu menunjukkan kemarahan
·         Mengembangkan kemampuan menilai diri dan potensi diri sehingga harapan yang terungkap dalam diri kita terpenuhi, karena sesuai dengan potensi yang kita miliki
·         Mengenali motivasidan aksiyang terkait dengan hasrat hidup, anatara laindengan memanfaatkan hasil introspeksi, disamping mawas diri terhadap pemanfaatan umpan balik dari lingkungan
Mari kita mulai melakukan tranformasi kehidupan emosi kita demi terbangunnya reaksi marah yang lebih fungsional.

Sumber Tulisan
Kompas. (2012). Konsultasi Psikologi: Tranformasi Kemarahan Berhasilkah?. Kompas, 23 September



0 comments:

Post a Comment