28.12.15

Mari Kompak di Depan Anak



RINGKASAN ARTIKEL: MARI KOMPAK DI DEPAN ANAK
Umi Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Ayah dan Ibu harus selaras dalam mendidik anak. Ini mutlak dilakukan. Keluarga ibarat kapal yang berlayar. Jika awaknya tidak kompak, maka kapal akan terombang-ambing di tengah lautan. Jika orangtua tak searah, maka anak akan jadi korbannya. Masalahnya kebanyakan sepele, tetapi karena mereka tidak kompak, anak-anak bersiasat dengan cara mendekati salah satu orang tuanya yang mendukung keinginan mereka.
Ketidakkompakan mereka dikhawatirkan berdampak buruk.Anak menjadi manja, mudah membangkang, dan tidak hormat. Orang tua harus disiplin, disiplin dalam artian jangan sampai anak anak kehilangan teladan. Jangan samapai omngan yang berbeda denga sikap kita anak menjadi kehilangan kepercayaan terhadap orang tuanya dan tidak disiplin.


Orang tua yang tidak kompak mengakibatkan anak menjadi peragu, pembangkang dan tak taat aturan. Sebab, ketidakkompakan itu sama dengan mendidik anak untuk melanggar aturan asal mendapat dukungan dari salah satu pihak, entah ayah ataupun ibu. Untuk itu orang tua sangat perlu kompak dengan cara mendiskusikan kembali hal-hal yang boleh, tidak boleh, atau boleh dilakukan anak dengan syarat tertentu. Ketidakkompakan biasanya muncul karena tidak ada kominikasi yang cukup dan memadai. Ada baiknya anak dilibatkan dalam diskusi agar memahami alasan aturan itu. Namun, untuk hal yang memungkinkan perdebatan panjang dan serius ada baiknya dilakukan tanpa anak. Sebab dikhawatirkan mereka malah bingung. (Psikolog dari UMM).

Hendra A Setyawan, (2015). Mari Kompak di Depan Anak. Kedaulatan Rakyat. 1  Desember, Halaman 30.

0 comments:

Post a Comment