13.10.15

Tuntutan Berprestasi dari Orang tua menyebabkan Stres Pada Anak

Naurmi Rojab Destiya
(Fakultas Psikologi)
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Penulis ingin mengutarakan bagaimana seorang siswa dapat mengalami stress dikarenakan adanya tekanan dari pihak orang tua. Kemajuan zaman yang semakin modern dan maju, membuat persaingan semakin ketat. Hanya individu-individu dengan kualitas terbaik dan tangguh yang akan berhasil melewati tantangan zaman ini.
Salah satu bidang yang masih dipercaya mampu digunakan untuk menjawab tantangan tersebut adalah pendidikan. Keadaan ini membuat pihak orang tua memberikan tuntutan yang harus dipenuhi agar anak dapat menjadi individu yang berkualitas. Tapi terkadang orang tua tidak bisa membedakan mana kebutuhan berprestasi agar sang anak bisa menjadi individu berkualitas, dan mana hal yang menjadikan hal ini menjadi sebuah Tekanan. Salah satu contoh seorang anak bernama “Sayang” yang sudah beprestasi tapi karena belum mencapai sempurna, belum juara 1 atau peringkat 1. Terus dituntut untuk mencapai sempurna, orang tua tidak menghargai kerja keras anak dan terus menuntut. Tekanan inilah yang dapat mengakibatkan siswa menjadi stress.
Hal ini diperkuat dengan adanya definisi stress sebagai situasi karakteristik lingkungan yang memiliki efek ancaman atau tekanan bagi individu yang melebihi kemampuan mereka (syle, 1956 dalam scoufis, 1993 dalam Walgito, 2005). Ketika tuntutan orang tua menjadikan tekanan bagi sang anak, tindakan yang akan dilakukan seperti mencontek, menyuruh teman untuk mengerjakan tugasnya, belajar hingga larut malam, berlatih tanpa mengenal waktu. Sikap ini lah yang mulai membuat siswa stress.
Anak yang mempunyai tekanan seperti ini biasanya dialami oleh keluarga Upper class. Upper class dimana orang tua mereka dari keluarga yang disegani, dan bekerja pada sosial yang prestis, ini adalah golongan kelas sosial yang paling tinggi ( Notosoedirjo & Latipun, 2001). Menurut penulis kebanyakan orang tua menuntut anak hanya karena ingin menjaga reputasi dan nama baik diri mereka sendiri maupun keluarga karena mereka berasal dari keluarga yang disegani dan prestis.
Jika ini terjadi terus menerus, anak akan mengalami sampai pada tahap collapse dimana sumber tubuh tidak sanggup untuk toleran terhadap stress. Walaupun keadaan stress reda, individu tampak seperti memiliki gejala sakit (Scoufis,1993). Tanda-tanda yang akan terjadi, nyeri kepala, mual, muntah dan  sakit fisik lainnya. Bahkan pada kesehatan mentalnya juaga akan terganggu, sebagai contoh dalam keadaan frustasi yang menumpuk akan membuat tingkah laku anak cenderung kearah sifat-sifat asocial dan tidak jarang anak melarikan diri, bersikap agresif (Notosoedirjo & Latipun,2001)
Menurut penulis masalah seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi karena anak membutuhkan dukungan ungkapan kasih sayang bukan tuntutan yang terus di ungkapkan oleh orang tua. Manusia juga memiliki kebutuhan penghargaan sebagai yang dikemukakan oleh Maslow bahwa pemenuhan kebutuhan penghargaan menjurus pada kepercayaan terhadap diri sendiri dan perasaan diri berharga (Sobur,2003). Dimana semua kerja keras yang dilakukan oleh siswa atau setiap individu membutuhkan penghargaan.
Penghargaan itu bukan serta merta berupa piala atau reward tapi berupa pujian dan pengakuan dari keluarga dan lingkungannya. Hal ini justru akan menjadikan individu lebih termotivasi untuk lebih maju. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk memupuk rasa percaya diri, dan menghilangkan tuntutan dengan pujian dan motivasi. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai dan dicintai.
Dengan artikel ini, penulis menarik kesimpulan, peran orang tua dalam mendidik anak sangatlah penting, karena rasa percaya diri anak akan tumbuh ketika semua kerja keras anak dihargai dan mendapat motivasi dari orang tua untuk terus lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA
·         Scoufis M. (1993). Stress and Coping. In McWaltrers, M (Revised Edition), Understanding Psychology (pp 206-224). NSW: McGraw-Hill.
·         Notosoedirjo & Latipun. (2001). Kesehatan Mental Konsep & Penerapannya. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

·         Sobur Alex. (2003). Psikologi Umum dan Lintas Sejarah. Bandung: CV. PUSTAKA SETIA.

0 comments:

Post a Comment