20.10.15

Pamrih
Umi Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Pada waktu liburan tiba, Ani beserta keluarganya liburan kepantai. Mereka sekeluarga besenang – senang dipantai menghilangkan beban pikiran  yang selama ini membebani pikirannya. Dipantailh tempat yang mereka tuju. Sedang asyik bermain  tiba – tiba tanpa orang tua ani sadari ada salah satu keluarganya yang menghilang, kebetulan saudara ani pun diajak untuk berlibur.  Kemudian semua keluarga mencarinya, tetapi tidak mendapatkan hasil. Akhirnya ayah ani pun mengumumkan berita kehingan tetapi hasilnya pun nihil, banyak yang mengabaikan pengumuman tersebut. Orang lain tidak ada yang menghiraukan pengumuman tersebut, hampir tidak seorang pun yang mau membantunya. Waktu demi waktu tidak ada kabar apapun tentang saudarany yang hilang itu. Akhirnya orang tua ani mngumumkan lagi , “ Bagi yang menemukanny akan mendapatkan suatu imbalan, mendengar pengumuman tersebut banyak orang yang mau mambantu mencarikan anak yang hilang itu.

 Dari ilustrasi diatas bahawa seseorang memeberikan  pertolonngan pada  orang lain berdasarkan imbalan, Manusia itu selalu egois  dan segala sesuatu dipertimbangkan atas dasar pemenahan kepuasan diri sendiri. (Micener & Delamater, 1999 : 233 dalam shinta 2002). Ketika seseorang membantu hannya melihat dari imbalan yang akan diberikan, ini merupakan salah satu bantuan yang bukan dari hati nurani dan ini selalu mengutamakan egonya sendiri. Sebagai manusia sosial kita wajib membantu orang yang membutuhkan bantuan tanpa mengharapkan imbalan.

Penulis memprediksi seandainya manusia mau menolong hanya karena mangharapkan immbalan dari orang yang ditolongnya itu, berarti manusia tersebut sudah mampu hidup sendiri dan tidak membutuhkan bantuan dari orang lain, ia termasuk manusia  yang individual, sebab manusia sosial itu masih membutuhkan orang lain.

Sebaiknya manusia membantu orag dengan hati nurani, sebab kita sendiri pun membutuhkan orang lain. ketika kita tidak bisa mambantu dengan ikhlas paksakanlah, dengan begitu hati kita dengan sendirinya akan merasakan nikmatnnya saling membantu orang lain dan bisa membatu orang lain tanpa mengharapkan imbalan lagi.

Daftar pustaka:

Shinta, A. 2002. Penghantar psikologi sosial. Edisi-2. Yogyakarta: Universitas proklamasi 45.

0 comments:

Post a Comment