20.10.15

Daya Tarik Individu
Umi Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Manusia adalah mahkluk sosial , sehingga manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Salah satunya ketika seorang pria berpacaran dengan seorang wanita. Ini merupakan bukti bahwa manusia makhluk sosial, karena hidup bersosialisasi (berhubungan dengan orang lain) dan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Dalam psikologi sosial, salah satu contoh terpenting dari hidup bersosialisasi ialah hubungan dyadic (hubungan anatara 2 orang), Shinta 2002.

Ketika seseorang sudah merasakan kenyamanan diluar rumah, karena ia sudah menemukan ketertarikan dengan sesuatu yang membuatnya nyaman. Sebut saja namanya arka, ia sudah berumur 19 tahun dan lulus SMA tahun kemarin, Kemudian ia melanjutkan kesalah satu universitas disemarang. Pertama masuk kuliah, ia mulai tertarik dengan salah satu teman barunya dikampus sebut saja namanya dara. Arka mulai menyukai dara sejak pertama kali arka melihatnya, Arka merasa ada caimistri saat melihat darah, Akhirnya arka pun mulai mendekati dara. Setelah mengenalinya, Arka merasa nyaman dengan dara, sehingga ia menjalin hubungan dengan dara. Menurut arka, dara itu anaknya pintar, baik, pintar, lemah lembut pokoknya semua kebaikan ada pada dara.

Anderson mengemukakan bahwa Individu akan lebih menaruh perhatian (terpaku) pada informasi – informasi yang diterimanya pada saat ia bertemu pertama kali dengan orang lain atau pada saat individu membentuk kesan pertama tentang orang lain tersebut.(shinta, 2002). Setelah lama menjalin hubungan hubungan dengan dara , Arka mulai mengetahui kelemahan/ kekurangan dara, tetapi arka bisa menerimanya dengan tulus, karena arka arka mencintai dara apa adanya. Walaupun awalnya arka mencintai dara hanya melihat sisi baiknya saj, tetapi kini arka berfikir bahwa setiap makhluk hidup tidak ada yang sempurna, hingga akhirnya arka memutuskan untuk melanjutkan hubungannya dengan dara.

Ketika seorang pria mencintai lawan jenisnya dengan apa adanya, seberat apapun cobaan yang dihadapi pasti bisa terselesaikan tanpa ada rasa saling menyakiti, tetapi ketika pria tersebut hanya menyukai kelebihannya saja, suatu saat pasti akan menyesal ketika megetahui pasangannya mempuyai kekurangan yang si pri tersebut tidak menyukainya.

Setiap manua tidak ada yang sempurna, pasti ada kelebihan maupun kekurangannya. Ketika kita tertarik dengan lawan jenis/ orang lain sebaiknya jangan melihat dari kelebihannya saja, tetapi harus bisa menyukai kekurngannya. Andai tidak bisa mencintai kekurangan dari orang tersebut  sebaiknya jangan memberi peluang / harapan dalam hidup kita, karena bisa membuat orang lain tersakiti.

Daftar Pustaka:

Shinta, A. (2002). Penghantar psikologi sosial. Edisi ke – 2. Yogyakarta: Universitas proklamasi 45.  

0 comments:

Post a Comment