20.10.15

Menyelamatkan Generasi Muda Melawan Radikalisme


MENYELAMATKAN GENERASI PEMBERI BAKTI MELAWAN RADIKALISME
Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Generasi muda sebagai mana mestinya adalah sebuah tombak berdirinya sebuah negara. Bisa dikatakan bahwa generasi muda adalah generasi yang tengah berjuang memberikan cinta baktinya kepada negara, juga sebagai cermin bangsa di masa yang akan datang. Diibaratkan jika bangsa ini adalah sebuah pohon maka generasi muda adalah tunas – tunas yang sedang menyemai tumbuh. Apabila tunas – tunas rusak maka sudah pasti pohon yang tumbuh nantinya juga demikian. Dalam ibarat tersebut sudah sangat nyata bagaimana peran generasi muda untuk sebuah bangsa. Generasi muda yang rusak sudah pasti menciptakan bangsa dan negara yang rusak pula.
Salah satu yang mengancam generasi muda kita saat ini yaitu radikalisme. Radikalisme adalah suatu pemikiran sekelompok orang yang menginginkan perubahan sosial dan politik yang signifikan. Namun dari sudut pandang agama radikalisme juga bisa diartikan sebagai pemikiran yang terlalu fanatis terhadap fondasi agama dengan cara kekerasan. Fanatik, radikalisme memang selalu fanatik. Para radikalisme memiliki keyakinan yang kuat akan konsep pemahamannya.
Radikalisme di Indonesia saat ini sudah cukup mengancam dari berbagai kalanagan. Mulai dari anak SMP hingga mahasiswa. Mahasiswa inilah yang paling rentan akan pemikiran – pemikiran radikalisme. Karna mereka sejatinya memiliki pemikiran yang cenerung luas dan rasa ingin tahu lebih menggebu. Pemikiran terbuka mereka membaca hal – hal yang rancu dan mulai menginginkan perubahan. Mahasiswa pada umumnya memiliki kelompok yang tidak sedikit, dan hal ini mempermudah sasaran penyebaran radikalisme.
Maraknya aksi radikalisme mahasiswa di Indonesia dinilai sudah memprihatinkan. Bahkan tidak sedikit dari mereka tanpa ragu pergi ke luar negeri karena keyakinannya akan faham radikalisme tersebut. Apalagi kelompok yang menggnakan kekerasan sebagai alat penyampaian pendapat. Kasus radikalisme ini bukan masalah sepele. Mengingat penyebarannya yang sangat cepat dan mendalam.
Kenapa penulis mengatakan cepat dan mendalam. Cepat, karna kumpulan mahasiswa ini sudah seperti lingkaran domino yang sangat besar, jadi jika satu terjatuh maka teman dekat sudah pasti terkena imbasnya sedikit atau banyaknya. Lihat saja dalam satu kota besar di Indonesia saja sudah bisa dipastikan memiliki lebih dari 30 kampus yang rata – rata memiliki ribuan mahasiswa. Skala sebesar itu saling berhubungan dalam beberapa organisasi. Maka tidak heran kan jika penyebaran pemahaman ini bisa sangat cepat. Faktor lain yang membuat mahasiswa mudah terpengaruh yaitu, mahasiswa memiliki masa dimana mereka memikirkan ketidak adilan dan penolakan dan mencoba mencari kebenaran. Saat seperti ini pemahaman yang menurut mereka cocok akan situasi yang mereka rasakan akan sangat mudah diterima.
Mendalam, karna pemahaman yang mereka yakini bisa jadi memberikan efek sampai mereka tua nanti. Bahkan ke lingkungan ia sekitar, yang mungkin sudah menganggap mereka asing. Walaupun mereka nantinya sadar dan kembali hidup tanpa radikalisme, namun belum tentu orang sekitar dan lingkungan mereka mampu memahaminya. Bisa jadi berimbas kepada keluarganya juga. Bagaimanapun juga radikalisme sudah seperti penyakit yang meskipun sembuh tapi menimbulkan bekas. Yah, begitulah adanya pemahaman yang keras bisa meracuni masa depan bangsa melalui mahasiswa atau anak bangsa lainnya.
Entah disadari atau tidak munculnya kelompok radikalisme dan faham yang fundamentalisme agama ini mengancam keutuhan NKRI. Keprihatinan yang muncul di aktivis organisasi pelajar akan menambah panjang daftar perpecahan diantaranya. Apalagi kelompok radikalisme ini menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya sebagai negara yang menjunjung tinggi pendidikan mampu mengantisipasi persoalan radikalisasi yang mengancam generasi. Bukan berarti ini hanya semata–mata tanggung jawab negara. Beberapa pihak harus terlibat, perihal radikalisme ini bisa berkembang dimana saja. Guru atau dosen, sebagai pembimbing di lingkungan sekolah maupun kampus sudah pasti memiliki andil besar memantau murid atau mahasiswanya. Orang tua, sebagai pembimbing dan pengasuh utama di rumah tentu memiliki peran penting ketika anak masih dalam pengawasannya. Selanjutnya teman, masyarakat, ustadz, memiliki peran yang sama dalam ruang–ruang saling bertukar pikiran.
Upaya pencegahan bisa ditingkatkan. Melihat faktor masuknya paham-paham radikalisme salah satunya yaitu minimnya pengetahuan masyarakat sehingga ketika paham radikalisme itu datang mereka hanya menelannya mentah–mentah. Tidak heran pembawa paham ini sengaja menyasar kelompok-kelompok minim pengetahuan juga.
Faktor kedua yaitu himpitan ekonomi, siapapun dalam kondisi himpitan ekonomi dengan sempit pemikiran, pasti mudah menelan mentah-mentah paham yang menguntungkan mereka dari segi ekonomi. Celakanya paham yang menguntungkan itu adalah paham radikalisme. Seperti yang sedang top sekarang ini adalah ISIS, dalam organisasi ini anggota mereka diberikan upah. Siapa yang tidak mau diupah dengan kondisi mencari upah kerja itu susah. Seakan mereka tetap tidak dapat makan meski dengan peluh payah. Harus meminta-minta belas kasihan para koruptor yang memakan uangnya tanpa merasa salah. Tentulah hal seperti ini semakin meracuni mereka dengan cara manis yang berpihak pada mereka. Masa bodoh dengan apa yang mereka jalani yang penting anak dan keluarga bisa makan. Sangat miris bukan?
Faktor ketiga bisa dibilang adalah benteng terkuat di setiap masing-masing individu. Kenapa demikian ? Karna faktor ketiga ini adalah iman yang kuat. Iman atau keyakinan setiap individu yang kuat tidak akan menjerumuskan pikiran mereka dengan pemikiran baru yang asing. Iman dalam diri akan membuat kita berfikir lebih jernih dan rasional. Iman juga berfungsi sebagai filter terdekat dengan pemikiran kita sendiri. Sudah seharusnya semua pemahaman atau pemikiran asing yang baru datang kita saring dengan lebih jeli, mana yang memang baik dan sudah pada tempatnya dan mana yang bukan pada tempatnya buruk pula untuk kita.
Ketiga faktor tersebut bisa dinilai bagaimana hendaknya generasi muda bisa membentengi diri akan faham radikalisme dan fanatikisme. Di luar upaya dari diri sendiri, negara sebenarnya sudah membentuk badan khusus untuk menghadapi radikalisme tumbuh bebas di Indonesia. BNPT misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini sengaja dibentuk pemerintah untuk memberikan penjagaan ketat untuk paham-paham atau kelompok radikalisme dari negara asing masuk ke Indonesia. BNPT secara terus-menerus menggaungkan perdamaian di dunia maya. Melakukan sosialisasi terhadap kampus-kampus dan sekolah-sekolah di Indonesia.
Siapa yang tidak ingin hidup di negara yang aman dan tentram ? Pastinya semua orang menginginkan hidup tentram tanpa polemik di sekitar. Tanpa aksi kekerasan para kelompok radikal juga para oknum fanatik dalam suatu paham. Jika generasi muda di Indonesia dari awal sudah di doktrin pemahaman merusak, lantas mau jadi apa Indonesia.
Negara ini milik kita semua, mahasiswa, guru, ustadz, pelajar, orang tua, pekerja, dan masyarakat dari golongan lainnya. Sudah sepantasnya kita sebagai anggota masyarakat Republik Indonesia turut serta melindungi aset Indonesia, yaitu masa depan negara. Upaya dari segala golongan memang harus terlibat. Kasus semacam ini bukan untuk diributkan siapa yang bertanggung jawab menanggulangi melainkan bersatu untuk memberantas radikalisme yang memang harus diperangi. Demi keutuhan NKRI dan bukti cinta tanah air ini. Memberikan masa depan dan pengetahuan terbaik untuk anak cucu kita nanti. Bagaimanapun Indonesia adalah tetap Ibu Pertiwi, dari tanahnya kita lahir dan mati. Sebagai generasi pemberi bakti, sepantasnya memegang teguh NKRI bak harga diri kita sendiri.

0 comments:

Post a Comment