31.8.15

Perayaan Hari Valentine




 Fx. Wahyu Widiantoro
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Perayaan valentine di Indonesia selalu menimbulkan kontroversi. Bagi sekelompok masyarakat melihat perayaan hari tersebut sebagai sebuah bentuk perayaan yang berasal dari budaya barat dan merusak tatanan budaya yang telah ada. Sedangkan bagi kelompok lainnya cenderung menerima budaya tersebut dan tertarik untuk menerimanya. Kaum muda biasanya lebih mengenal tentang hari valentine dan bagi sebagian kelompok cenderung merayakannya secara berlebihan. Perayaan hari valentine biasa identik dengan warna merah muda. Pernak-pernik berupa pakaian, pita, hiasan berbentuk bunga mawar merah, boneka dan coklat dengan bungkus yang bertuliskan kata-kata mutiara yang bertemakan cinta. Perayaan valentine tepatnya dilakukan setiap tanggal 14 Februari.
           
Esensi dari perayaan tersebut positif, yaitu peringatan tentang kasih sayang kepada orang lain. Menjadi kontraversi ketika pemahaman Valentine disempitkan dengan peringatan kasih sayang hanya kepada pasangan. Terutama pasangan yang belum menikah, yaitu yang sedang berpacaran, sehingga seringkali muncul istilah hari Valentine sebagai COUPLE DAY hanya untuk mereka yang berpacaran. Perlu untuk lebih dicermati bahwa adanya kecenderungan di kalangan remaja yang bersikap evoria sehingga jangan sampai menjadi sesuatu yang salah kaprah kearah hedonis.
Perayaan Valentine bukan hari raya tapi SOCIAL DESIREBELITY masyarakat, mengingat peristiwa tentang “cinta kasih”. Pada dasarnya masyarakat memandang hari valentine hanya sebagai simbol mengingatkan akan pentingnya cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari dan yang terpenting adalah relasi dari cinta kasih terebut setiap harinya. Tanggal 14 Februari tidak perlu dipergunjingkan sebab tidak ada yang menjadikan sebagai hari raya. Kondisi psikologis akan labil dengan fenomena masyarakat jika individu tidak bisa memahami dan menerima kesamaan dan perbedaan. Individu tidak berpandangan luas atas peristiwa sebab-akibat. Hendaknya adanya kebebasan dalam bersikap, bagi yang merayakan ataupun yang tidak. Hal terpenting adalah esensi dan jangan berlebihan. Di sinilah pengalaman dan kesempatan untuk mengembangkan hasrat membantu, memberi, mengasihi atau yang sering disebut dengan ALTRUISM.


*Materi pada Siaran Interaktif Psikologi di RRI Kotabaru DIY, pada hari Rabu, 18 Februarui 2015, pukul 20.15 – 21.00.                                                                        

0 comments:

Post a Comment