31.8.15

MENOLONG DENGAN PAMRIH




 Fx. Wahyu Widiantoro
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Kalimat yang sering terlontar dan menjadi sebuah nasehat dari para orang tua kepada anak-anaknya yaitu ”menolong-tanpa-pamrih”. Kalimat tersebut menjadi janggal dan patut dicermati bila diubah menjadi ”menolong-dengan-pamrih”. Seperti halnya pada pertengahan bulan Februari 2015, berbagai media memberitakan tentang pihak Autralia yang mengingatkan Indonesia dulu pernah menolong Tsunami. Pemberitaan tersebut membentuk persepsi masyarakat bahwa Australia menolong-dengan-pamrih. Hal yang mungkin terjadi adalah ketika terjadi bencan Tsunami di Aceh, pihak Australia memang memiliki dorongan altruism untuk menolong korban di Aceh. Bila sekarang seolah bersyarat bisa dikarenakan adanya kasus eksekusi oleh pemerintah Indonesia terhadap warga Australia. Bagi pemerintah Indonesai saat ini waktunya bangkit, berbagai bentuk peristiwa yang tidak mendukung kemajuan bangsa segera ditindak dengan tegas. Keputusan tegas pemerintah Indonesia menjadi semacam shock terapi bagi Australia. Cukup bisa dipahami, karena eksekusi mati biasanya hanya berlaku di negara-negara tertentu dan apakah tindakan ini tegas dan sungguh berkarakter Indonesia atau karena adanya faktor lain.

Dorongan untuk menolong atau yang sering disebut sebagai altruism secara psikologis pasti ada pada setiap individu, baik disadari maupun tidak. Bila terjadi sikap menolong-dengan- pamrih biasanya karena adanya faktor eksternal yang mempengaruhi individu, seperti luka batin, kekecewaan, serta pengalaman yang tidak mengenakan. Pada dasarnya menolong-dengan-pamrih tetaplah perlu dikritisi. Apabila pamrih yang dimaksud merupakan simbiosis mutualisme dalam hal positif maka sikap tersebut akan mendukung kerukunan bersama. Individu yang memiliki altruism yang baik adalah: memberi, empati, kerelaan yang tentu saja sesuai dengan porsinya dan tidak bersyarat. Pengembangan altruism hendaknya dimulai sejak dini. Alternatif cara mendidik anak sedini mungkin untuk memiliki jiwa altruism yaitu anak sering diajak berkegiatan bersama, dibiasakan spontan dalam menolong tanpa harus ada alasan tentunya dalam konteks yang positif, sehingga anak akan terbiasa melakukan “menolong” merupakan sesuatu yang lumrah, wajar dan memang semestinya.
*Materi pada Siaran Interaktif Psikologi di RRI Kotabaru DIY, pada hari Rabu, 25 Februarui 2015, pukul 20.15 – 21.00.        

0 comments:

Post a Comment