30.4.24

Tugas Essay 2: Psikologi Lingkungan - Plogging - "Plogging: Not Just a Regular Jogging" Oleh Abdul Basit Cahyana

 Mata Kuliah: Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

Mahasiswa: Abdul Basit Cahyana

NIM: 22310410166

Plogging

Not Just a Regular Jogging

Plogging merupakan sebuah trend aktivitas yang awal mulanya datang dari negara Sewdia dengan menyatukan konsep Jogging dan Plocka upp (yang berarti Pick up) atau memungut, yang dalam kegiatan ini ditujukan khusus untuk memungut sampah yang dipelopori oleh Erik Ahlström. Kegiatan ini merupakan fitness activity sekaligus aksi pro-lingkungan yang dapat dilakukan di waktu luang oleh individu untuk berkontribusi terhadap kegiatan pro-lingkungan mengenai sampah dan pengelolaannya.


Plogging

Dalam kegiatan ini dua benefit yang dapat diperoleh dari kegiatan plogging yaitu kesehatan dan kebersihan yang keduanya tentu saling berhubungan. Plogging sendiri sebenarnya dapat menjadi alternative campaign yang juga bisa dilakukan oleh penggiat hidup sehat dalam mengkampanyekan hidup sehat. Bahkan Plogging sendiri sebenarnya sudah memiliki “alternative variant” misal dikombinasikan kegiatan memungut sampah sembari melakukan kegiatan olah raga lainnya, seperti berjalan-jalan sambil plogging yang disebut “taking a palk” atau mendaki sembari plogging yang juga disebut “pike”. Intinya adalah kita melakukan suatu kegiatan fisik sambil memungut sampah.


Area: Alun-alun Kidul Yogyakarta

Untuk kali ini, saya melakukan plogging pada Minggu sore, tepatnya di tanggal 28 April 2024 jam 15.00 WIB di area Alun-alun Kidul Yogyakarta dan area Pasar Ngasem. Bila dilihat sepintas rasanya tidak ada yang aneh di area tersebut, mungkin bahkan tampak relatif bersih. Namun, bila diperhatikan dengan cermat khusunya di area lapangan rumput banyak “harta karun tersembunyi”, banyak sampah-sampah berserakan yang didominasi oleh sampah tissue bekas yang mengering, bungkus dan puntung rokok, hingga sampah plastik seperti sedotan, plastik kemasan, serta botol dan gelas plastik, bahkan botol kaca. Hal itu tidak terlepas dari lokasi Alun-alun Kidul Yogyakarta yang meruapakan area untuk wisata apa lagi di malam hari yang disekililingnya banyak penjual makanan dan lain sebagainya, tentunya sampah yang berserakan sudah dapat ditebak keberadaannya.

Before

After

Sedangakan untuk lokasi Pasar Ngasem ini sampahnya didominasi oleh beberapa sampah plastik seperti botol plastik dan gelas plastik hingga kantong plastik, selain itu juga ada sampah dedaunan dan bunga dari pohon kamboja yang berguguran, nah untuk area pasar ini cenderung lebih minim karena keberadaan petugas kebersihan yang membersihkan area tersebut. Kegiatan plogging ini memakan waktu sekitar 120 menit dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 1.5 kilometer.




Dari total sampah berserakan yang diperoleh sebanyak kurang lebih 2 kilogram ini akhirnya diputuskan untuk dimasukan kedalam tong sampah yang tersedia, namun sayang sekali sampah yang telah dipisahkan tersebut dalam kantong masing-masing harus masuk ke dalam satu keranjang sampah karena belum tersedia tempat sampah terpisah.

0 komentar:

Posting Komentar