11.10.23

Essay 3 wawancara Disonasi Kognitif

MELAKUKAN WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF PADA PEROKOK

Essay 3 Psikologi Inovasi

Meme Normasari

NIM : 21310410088

Kelas Reguler / Semester 5

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Merokok sudah menjadi kebiasaan di masyarakat Indonesia. Kebiasaan merokok ini dijadikan hal yang wajar di suatu daerah. Sebagai mana di daerah saya jika ada hajatan, maka pemilik hajatan harus menyediakan rokok untuk siapa saja yang membantu hajatan. Di Indonesia prevelensi perokok meningkat setiap tahunnya. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya seperti kampanye dan menaikkan harga rokok. Para perokok sebenarnya sudah mengetahui dampak buruk dari merokok. Namun, mereka mengalami disonansi kognitif sehingga sulit untuk berhenti merokok. Untuk mengtahui lebih lanjut, saya melakukan wawancara dengan seorang perokok aktif.

 

Inisial  : CN

Usia     : 21 tahun

Jenis kelamin  : Laki-laki

Pekerjaan         : Mahasiswa

 

Berikut beberapa pertanyaan yang saya tanyakan pada CN;

1.      Sejak kapan merokok?

2.      Siapa yang pertama kali mengajari merokok?

3.      Apakah orang tua juga perokok?

4  Pernahkah orang tua melarang atau menegur  saat merokok?

5.     Dimana biasanya merokok?

6. Bagaimana sikap teman-teman yang tidak    merokok terhadap anda yang merokok?

7.     Rokok apa saja yang pernah anda hisap?

8. Adakah kenikmatan yang diperoleh ketika merokok?

9.     Pernahkan sehari tidak merokok?

10.  Kenapa tidak bisa sehari merokok?

11.  Apakah tahu bahaya dari merokok?

12.  Pernahkah sakit akibat merokok?

13.Pernahkah ada keinginan untuk berhenti merokok?

 

CN adalah seorang perokok aktif, ia mulai merokok saat berusia 17 tahun tepatnya saat duduk di bangku SMA. Awal mula CN merokok karena melihat banyak teman-temannya yang merokok dan dari situ CN penasaran dengan rasa rokok dan akhirnya ia mencobanya. Pertama kali merokok CN tidak merasakan kenikmatan dan malah batuk. Namun, karena ejekan dari teman-temannya CN mencoba lagi untuk merokok. Orangtua CN adalah perokok aktif dan beliau tidak pernah menegur jika melihat anaknya merokok. CN lebih memilih merokok dirumah daripada di kampus alasannya karena tidak percaya diri jika dilihat oleh teman-teman kampusnya. CN hidup di lingkungan perokok, jadi temannya sudah memaklumi hal tersebut. CN mengaku pernah mencoba semua jenis rokok untuk mengetahui rokok apa yang enak untuk dikonsumsinya. Setelah mencoba berbagai rokok akhirnya ia memutuskan hanya mau rokok Djarum Super dan setiap hari CN menghabiskan satu bungkus (isi 16 batang). CN mengatakan bahwa setiap merokok ia mendapatkan kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dan merasa sedikit bebannya sebagai mahasiswa hilang. CN juga pernah berusaha untuk berhenti merokok tetapi selalu gagal karena tidak mendapat support dari lingkungan dan orangtua yang akhirnya CN kecanduan merokok sampai saat ini. Sebagai mahasiswa CN juga mengetahui bahaya akibat merokok. Namun, lagi-lagi tidak ada support untuk dirinya. CN juga pernah sakit akibat merokok, seperti batuk yang tidak kunjung sembuh. Meskipun CN sudah mengetahui dampak negatif dari merokok, sampai saat ini belum ada niat untuk berhenti merokok.

 

 

Referensi

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, I., & Hasna, S. (2020). Disonansi            Kognitif Perokok Aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas            Negeri Padang), 11(1), 1-14.

 

0 komentar:

Posting Komentar