21.4.22

Pandangan Teori Atribusi Tentang Perilaku bodoh berkumpul di masa Pandemi Corona

Psikologi Sosial

Oleh:
Maliqazuhra Iqbal (21310410003)
Kelas A (Reguler)
Dosen Pengampu :
Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Semester Genap T.A 2021/2022

Apasih Teori Atribusi itu?

Teori Atribusi adalah teori yang membahas tentang penyebab perilaku seseorang atau diri kita sendiri, yang dimana nantinya akan membentuk suatu penilaian, dan dari penilaian itu bisa diambil kesimpulan apa penyebab yang  mempengaruhi perilaku orang lain. Adapun para ahli Psikologi sosial yang membahas tentang teori atribusi ini yakni Fritz Heider (tahun 1958) sebagai pencetus pertama teori atribusi, lalu dilanjutkan oleh Edward Jones & Keith Davis (tahun 1965), Harold Kelley (tahun 1967,1972) (Shaver,1983).

            Atribusi memiiki 3 elemen dasar, yakni : pertama persepsi (riset) adalah pengetahuan manusia agar dapat memilah cara bersikap dan berperilaku, kedua yaitu pengaruh perilaku yang dikeluarkan baik secara sadar maupun tidak sadar, terakhir exposure waktu yang dilakukan secara berkala.

 Proses Atribusi menurut para ahli :

  • Fritz Heider , perilaku seseorang dapat disimpulkan disebabkan oleh kekuatan-kekuatan internal (termasuk disposisi), adapun kekuatan internal (personal forces) dilihat sebagai hasil dari kemampuan (ability), power dan usaha yang diperlihatkan.
  • Edward Jones & Keith Davis, mereka menganalisa kondisi-kondisi yang memunculkan atribusi disposisional, atau apa yang mereka sebut dengan istilah inferensi korespodensi, yaitu kasus dimana pengamat memutuskan bahwa disposisi khusus dari actor (persin stimuli) adalah penjelasan yang cukup masuk akal bagi perilaku atau tindakan actor.
  • Harold Kelley, Atribusi kausal, memfokuskan diri pada pertanyaan apakah perilaku seseorang berasal dari faktor internal atau eksternal. Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa aspek yang mesti dipertimbangkan, yaitu consensus, konsistensi, dan distingsi teori atribusi ini meliputi beberapa penjelasan:
  1. Fungsi Menerangkan
  2. Fungsi Memprediksi Teori
  3. Fungsi Menjelaskan Seperti
  4. Fungsi Strategis
  5. Kesimpulan Kehadiran

Nah, pandangan teori atribusi kepada masyarakat yang masih sering berkumpul dimasa pandemi dimana pemerintah sudah memberikan informasi untuk semasa pandemic harus memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak (social distancing). Sosial distancing diberlakukan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Maka dari itu pemerintah mengeluarkan peraturan serta ketentuan pidana apabila ada masyarakat yang melanggar. Terkait ketentuan pidana dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular yaitu dalam Pasal 14 (1) Barang siapa dengan sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah). Sementara Pasal 14 (2) Barang siapa karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah). 

Oleh karena itu, diharapkan semua masyarakat untuk mematuhi aturan tersebut agar pandemic cepat selesai, dan apabila diharuskan bertemu dengan orang banyak usahakan untuk selalu menjaga  protocol kesehatan. Buat masyarakat sekitar jangan langsung menghakimi karna tidak selamanya kegiatan perkumpulan itu selalu buruk, sebaiknya di lihat apakah kegiatan perkumpulan itu ada dampak positifnya kalaupun mereka kumpul alangkah baiknya protocol kesehatan itu diberlakukan. Masyarakat umum bisa melaporkan orang-orang yang berkumpul tersebut kepihak yang berwenang apabila ketika perkmpulan itu tidak baik dan tidak menjalan kan protocol yang berlaku.

Kesimpulan

Ternyata everybody makes mistakes, tanpa disadari mungkin kita sangat sering mengambil “jalan pintas” dalam menjelaskan mengapa seseorang berperilaku tertentu. Sangat mungkin penilaian kita salah, maka dari itu menilai suatu perilaku setiap manusia itu ada ilmunya maka dari itu tidak baik oleh ita menilai seseorang dengan terburu-buru., so message behind the story is don’t judge the book by its cover. Ternyata kemandirian seseorang dapat mempengaruhi cara orang tersebut mengatribusikan kegagalan, dan sebagainya.

Referensi

Samsuar, S. (2019). ATRIBUSI. Network Media, 2(1).
Sears, David O., Freedman, Jonathan L., Peplau, L. Anne, Psikologi Sosial, Erlangga, Jakarta, 1985
Prakarsa, A., Herli, D., & Yulia, R. (2021). MENGKAJI PENERAPAN SANKSI PIDANA DALAM PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 DI INDONESIA. Jurnal Hukum & Pembangunan, 51(3), 773-785.
https://psikologi.unnes.ac.id/penasaran-dengan-alasan-di-balik-perilaku-seseorang-yuk-intip-apa-itu-atribusi/
(diakses tanggal 21 April 2022, jam 13.15 WIB)

 

 

0 komentar:

Posting Komentar