9.1.21

Kemampuan resiliensi pekerja dalam penyesuaian diri pada tekanan pekerjaan

UJIAN PSIKOLOGI INOVASI

DOSEN PENGAMPU : Dr. Arundati Shinta


Nama : Fadilaturochman Tririzki Permana 
NIM : 183104101189



Ketika sudah masuk kedalam dunia kerja banyak permasalahan yang akan menerpa, dari masalah ringan hingga yang paling berat, dari rekan kerja hingga atasan. Terkadang permasalahan yang ada menumpuk hingga menjadi beban yang sangat berat bagi seorang individu. Individu yang memiliki kesehatan mental yang baik akan dapat bangkit dari keterpurukan itu. Cara individu bangkit dari penglaman yang telah dia lakukan inilah yang dinamakan resiliensi.

Tugade & Fredericson dalam Ruswahyuningsih dan Tina (2015) menyatakan bahwa resiliensi mempunyai pengertian sebagai suatu kemampuan untuk bangkit kembali (to bounce back) dari pengalaman emosi negatif dan kemampuan untuk beradaptasi secara fleksibel terhadap permintaan-permintaan yang terus berubah dari pengalaman-pengalaman stres. sedangkan Yu & Zhang dalam Ruswahyuningsih dan  (2015) menyatakan bahwa individu yang memiliki kemampuan resilien, sebagai berikut: (a) Individu mampu untuk menentukan apa yang dikehendaki dan tidak terseret dalam lingkaran ketidakberdayaan; (b) Individu mampu meregulasi berbagai perasaan terutama perasaan negatif yang timbul akibat pengalaman traumatik; dan (c) Individu mempunyai pandangan atau kemampuan melihat masa depan dengan lebih baik.

Seorang karyawan harus memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dalam menghadapi tuntutan perusahaan. Kemampuan seorang individu untuk menyesuaikan diri pada tekanan ini yang kan menjadi point penting pada karir individu tersebut. Menurut Levine dan Adelman  dalam Kirana (2012) seseorang dengan watak yang terbuka, fleksibel dan toleran akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sehingga untuk seorang pekerja harus bisa fleksibel dan toleran pada situasi yang dia hadapi. Individu yang memiliki sifat terbuka diharapkan oleh perusahaan agar dapat mengikuti ritme tempat mereka bekerja.

Selain itu pengaruh dari lingkungan kerja akan berpengaruh pad acara individu bertindak. Menurut Nitisemito dalam Makarau (2016) Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja yang baik akan membuat seorang individu nyaman dalam menjalankan tugasnya. Meski individu tertekan dengan banyak tugas dari tempat mereka bekerja, dengan lingkungan yang baik individu dapat bangkit dari tekanan tersebut. Sehingga individu akan menjadi pribadi yang ulet dan memiliki dedikasi yang tinggi.

Kemampuan dari seorang individu dalam beradaptasi ini akan mempengaruhi masa depan dari individu tersebut.  Salah satunya adalah intensitas dari pekerjaan yang diterima oleh individu dan persaingan pada lingkungan dimana tempat mereka kerja. Akibatnya stress dari pekerjaan tersebut akan membebani individu dalam meraih prestasi yang lebih. Fenomena ini dikenal dengan sebutan burn out, Leatz & Stolar dalam sihotang (2004) menyatakan bahwa burn-out yaitu kelelahan fisik, mental dan emosional yang terjadi karena stres diderita dalam jangka waktu yang cukup lama, di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi.

Pada kenyataannya karyawan yang bisa mengendalikan diri terhadap kelelahan mental dan emosinya bisa mencapai tujuan dari apa yang ingin mereka capai. Kemampuan resiliensi pekerja inilah yang membuat pekerja dapat bertahan pada lingkungan yang keras, tempat dimana mereka bekerja. Semakin tinggi stressor yang diterima maka dibutuhkan kemampuan adaptasi yang lebih pada seorang karyawan.

Menurut Robbins dalam Suryaratri dan Heny (2016) faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya stres kerja terdapat tiga faktor, antara lain: faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor individu. Sehingga pada karyawan atau pekerja sebuah perusahaan pengaruh dari tiga hal itu aka membuat mereka menjadi lebih terbebani. Jika stressor terus terjadi dan diabaikan oleh perusahaan, pekerja yang memiliki kemampuan adaptasi yang rendah akan mengalami burn-out

Pada karyawan yang memiliki kemampuan adaptasi yang rendah, karyawan akan mengalami stress kerja bahkan burn-out dan hal ini akan mempengaruh kemampuan resiliensi pekerja sendiri. Perusahaan harus mengerti faktor apa saja yang mempengaruhi stress karyawan itu sendiri, agar dapat meminimalisir hal tersebut dan membantu karyawan untuk beradaptasi pada bidang kerja mereka.  Spector dalam Suryaratri dan Heny (2016)  menjelaskan faktor eksternal yang terdiri dari karakteristik pekerjaan, batasan organisasi, peran dalam pekerjaan, konflik antara keluarga serta pekerjaan dan gaji. Kemudian terdapat juga faktor internal yang terdiri dari karakteristik kepribadian dan kesesuaian antara individu dengan pekerjaan.

Kesesuaian pekerjaan yang dimiliki seorang karyawan dengan kemampuan pada karyawan itu sendiri memilki pengaruh yang cukup tinggi pada kemampuan resiliensi seorang karyawan. Contohnya seorang SPG (Sales Promotion Girl), yang harus dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan penampilan menarik. Hal ini mempengaruhi tuntutan seorang karywan untuk melakukan kegiatan tersebut, sehingga apabila ada seorang SPG yang tidak berkompeten karena tidak memiliki kompetensi skill komunikasi yang baik. Hal ini akan mempengaruhi kinerja SPG tersebut dan jika dia tidak dapat beradaptasi maka beban tersebut akan semakin membebani dirinya.

Perusahaan disini harus lihai dalam menempat karyawan tersebut, atau erusahaan berkewajiban untuk memberikan training skill berupa pelatihan komunikasi bagi SPG tersebut. Hal ini di peruntukan agar SPG tersebut bisa mulai beradaptasi pada jenis pekerjaannya. Selain itu pada test masuk karyawan SPG tersebut harusnya dinilai dahulu pada test wawancara tentang kemampuan yang dimiliki oleh SPG tersebut. Kemudian hasil evaluasi pada test masuk tersebut akan dinilai kelayakan perusahaan, untuk memposisikan karyawan pada jabatan yang sesuai. 

Selain itu pekerja yang bekerja dalam bidan kesehatan juga memiliki tuntutan waktu yang sangat besar dalam pekerja. Pada masa pandemi Covid-19 ini petugas kesehatan harus menyediakan tenaga dua kali hingga tiga kali lipat untuk penanganan pandemi ini. Tentu saja hal ini akan membuat petugas yang bekerja akan mengalam stress kerja yang berlebih. Stressor ini bukan hanya dari jumlah pasien yang membludak tetapi juga tuntutan professional mereka. Lingkungan dimana mereka bekerja sangat berdampak dalam mengatasi stress kerja ini. Kemampuan dari individu dalam beradaptasi juga akan memicu kemampuan resiliensi mereka dala menghadapi situasi ini, baik situasi kerja mereka hingga mereka pulang kerumah.

Kemudian jika kita melihat dari petugas telekomunikasi, mereka juga memiliki stress yang cukup besar dalam dunia kerja mereka. Contohnya pekerja telekomunikasi yang bergerak pada bidang maintenance atau perbaikan jaringan. Hal ini dikarenakan pekerjaan mereka yang di tuntut untuk stand by call 24 jam. Khususnya pada era digital saat ini dimana internet merupakan kebutuhan utama bagi setiap individu. Pengannan gangguan ini bisa terjadi beruntun dalam sehari di berbagai titik yang membuat para pekerja harus extra bekerja keras. Tuntutan dari perusahaan dimana gangguan harus diselesaikan dengan target waktu yang sangat minim biasanya membuat para pekerja telekomunikasi ini mempunyai waktu istirahat yang tidak cukup. Hal ini akan memicu bagaimana kondisi emosi mereka baik dalam pekerjaan maupun di lingkangan keluarga mereka. Disinilah kemampuan resiliensi diperlukan terutama kemampuan untuk beradaptasi pekerja dan kemampuan untuk mengontrol emosi dari stress pekerjaan mereka.



Referensi :

-    Ruswahyuningsih, M.C. Dan Afiatin, T. (2015). Resiliensi Pada Remaja Jawa. Gadjah Mada Journal Of Psychology.  1 (2).  95-105.

-    Kirana, R.P. (2012). Strategi Adaptasi Pekerja Jepang Terhadap Culture Shock: Studi Kasus Terhadap Pekerja Jepang Di Instansi Pemerintah Di Surabaya. Japanology. 1 (1).   1 – 13.

-     Makarau,S.E. Massie, J. & Uhing, Y. (2016) . Analisis Lingkungan Kerja Dan Orientasi Kerja Terhadap Peningkatan Kinerja Karyawan Di Pt. Agung Utara Sakti. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi. 16 (4).  992 – 1002.

-  Sihotang, I.N. (2004). Burnout Pada Karyawan Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Lingkungan Kerja Psikologis Dan Jenis Kelamin. Jurnal PSYCHE. 1(1).  9-17

-    Suryaratri, R.D. dan Heny K. (2016) . Stres Kerja Dan Kepuasan Kerja Bagian Sales/ Penjualan Di Pt Telkom Indonesia TBK . Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi. 5 (1). 5-90

1 komentar: