15.6.20

BYSTANDER EFFECT: Dari Egois Hingga Apatis




Novia Zahra Zakiah/19310410025
Ujian Akhir Semester Genap Tahun Ajaran 2019/2020

Mata Kuliah : Psikologi Sosial I
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA.



Bystander effect sering terjadi di kehidupan sosial masyarakat. Banyak orang-orang yang melakukan ini dan tidak tahu dampak yang akan terjadi. Apa itu bystander effect? Menurut Bibb Latane dan John Darley (1968, ahli psikologi sosial), bystander effect merupakan situasi dimana orang hanya menjadi pengamat, menyaksikan bahaya yang terjadi, namun tidak melakukan apapun untuk membantu atau menghentikan kejadian tersebut (pijar psikologi, diakses pada 13 Juni 2020). Hal tersebut sebagai bukti tanda menurunnya kepekaan masyarakat.
Kita semua pasti pernah melakukan bystander effect. Salah satu contoh kecilnya ketika kita melihat orang lain terjatuh, yang kita lakukan hanya diam dan melihat. Bukan hanya kita, bahkan orang disekitar kita melakukan hal yang sama. Bahkan Bibb Latane dan John Darley (1968) mengatakan, semakin banyak orang yang menyaksikan, maka akan semakin kecil kemungkinan orang-orang untuk bertindak. Artinya, akan semakin besar terjadinya bystander effect.
Kalau kita sebagai korban, pasti kita pernah merasa atau mempertanyakan kenapa orang-orang tidak peduli. Dalam psikologi terdapat beberapa faktor penyebab terjadiya bystander effect. Tiga diantaranya yaitu:
  • Pluralistic Ignorance

Menurut pendapat Latane dan Rodin (1969), pluralistic ignorance adalah situasi dimana orang-orang berada pada situasi yang membingungkan saat sebuah bahaya sedang terjadi (Oxford Bibliographies, diakses pada 13 Juni 2020). Saat sebuah bahaya terjadi, mereka memang berpikir untuk menolongnya. Namun, mereka merasa ragu dan lebih memilih diam didalam situasi yang canggung daripada membantu korban.
  • Difusi Tanggungjawab

Ini merupakan situasi dimana orang-orang yang berada disekitar kejadian yang bahaya yang sedang terjadi, merasa tidak harus menolong karena ada orang lain juga yang melihat tersebut (CNN Indonesia, diakses tanggal 13 Juni 2020). Jika semua orang yang berada di lokasi tersebut berpikir demikian. Maka, hasilnya tidak ada yang membantu korban saat kejadian bahaya terjadi. Hal ini serupa dengan kasus Genovese yang terjadi pada tahun 1964. Wanita berana Genovese mati tragis dengan cara ditusuk di apartement. Ia berteriak dan meminta tolong pada saat kejadian berlangsung. Setidaknya terdapat 38 saksi yang mendengar teriakan Genovese, bahkan 3 orang diataranya melihat kejadian penusukan tersebut. Namun, dengan saksi sebanyak, tidak ada satupun orang yang ingin melaporkan saat kejadian itu berlangsung (tirto.id, diakses pada 13 Juni 2020).
  • Evaluation Apprehension

Latane dan Darley (1970) berpendapat bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya bystander effect adalah evaluation apprehansion (Oxford Bibliographies, diakses apada 13 Juni 2020). Evaluation apprehansion merupakan situasi dimana para bystander merasa takut untuk melakukan sebuah tindakan. Hal itu karena para bystander takut mereka melakukan sesuatu hal yang mmenyimpang sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian juga. Ini terjadi sebab ada pandangan “jika kamu tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut maka kamu akan dicemooh” (Oxford Bibliographies, diakses pada 13 Juni 2020). Jika demikian, sikap para bystander bisa saja disebut sikap egois. Karena lebih mementingkan ketakukannya daripada menolong orang lain yang sedang terancam.
Bystander effect ini menjadi bukti bahwa, kepedulian atau keinginan untuk saling tolong menolong semakin menurun. Manusia semakin cuek terhadap kehidupan sosial mereka atau biasa disebut apatis.  Kita harus paham dampak yang terjadi dari sikap apatis kita dalam situasi yang bahaya.
Mulailah untuk peduli pada keadaan sekitar kita. Lakukan dari hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Tak apa jika kita menjadi pusat perhatian atau tak mampu menyelesaikan masalah dengan benar. Namun, setidaknya kita sudah membantu orang lain dari sebuah situasi yang bahaya.

Referensi:
Urschler, David F., Julia Fischer,Andrean Kastenmuller, Peter Fischer. 2015. Bystander Effect. Oxford Bibliographies. 14 (34): 4. Doi: 10.1093/OBO/9780199828340-0172.
Octaviani, Anindya. 2017. Bystander Effect: Menolong Tidak Harus Memilih Situasi dan Kondisi. Pijarpsikologi.org. diakses di https://pijarpsikologi.org/bystander-effect-menolong-tidak-harus-memilih-situasidankondisi/#:~:text=Bibb%20Latane%20dan%20 John%20Darley,menjadi%20pengamat%2C% 20menyaksikan%20bahaya%20yang (diakses pada 13 Juni 2020)
Wahyuni, Tri. 2015. ‘Bystander Effect’ Tidak Hanya Terjadi Pada Orang Dewasa. CNN Indonesia. Diakses di https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150327130618-255-42332/bystander-effect-tak-hanya-terjadi-pada-orang-dewasa (diakses pada tanggal 13 Juni 2020).
Nancy, Yonada. 2019. Mengenal Bystander effect, Sikap Apatis Saat Keadaan Darurat. Tirto.id. Diakses di https://tirto.id/mengenal-bystander-effect-sikap-apatis-saat-keadaan-darurat-ekce (diakses pada tanggal 13 Juni 2020).

11 comments: