3.6.20

DISONANSI KOGNITIF PARA PEROKOK AKTIF

DISONANSI KOGNITIF PARA PEROKOK AKTIF


ERLYNA RAHMA SARI (19.310.410.084)

Mata Kuliah : Psikologi Sosial I

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

Seperti yang kita ketahui, saat ini perokok dari berbagai usiah sudah banyak di jumpai. Mulai dari anak SMP hingga orang tua memiliki kebiasaan merokok. Pemandangan ini sudah tidak asing lagi. Padahal rokok tidak baik untuk kesehatan. Tentu seorang perokok juga tau hal itu. Merokok adalah kebiasaan berbahaya yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan parah hingga kematian (Liputan6). Dari wawancara yang sudah saya lakukan beberapa orang berkeinginan berhenti merokok. Namun mereka juga berpendapat menghilangkan kebiasaan merokok cukup sulit. Hal ini merupakan disonansi kognitif perokok. Disonansi kognitif adalah kesenjangan/gap antara pendapat, keyakinan, sikap dengan perilaku yang ditunjukkan. Pada contoh di atas, ada kesenjangan antara pengetahuan bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan dengan perilaku merokok yang terus menerus dilakukan (Kompasiana)

Para perokok tau, akan bahaya merokok. Mereka tau beberapa organ tubuh akan rusak karena merokok.

“Iya rokok itu membuat sakit jantung, tenggorokan, dan paru-paru” Kata EF.

Kata teman saya yang berinisial FW “Aslinya jangan merokok tapi sudah candu susah menghilangkannya, rokok menurutku sebuah sugesti yang merekat, semisal aku naik gunung lalu kedinginan kalau merokok itu badannya jadi hangat, tapi yang belum merokok gak usah aja kasian paru-parunya”.

Disini ada kesenjangan antara kemauan dengan pendukung logikanya. Seseorang itu tau harusnya tidak merokok karena berdampak buruk bagi tubuh. Namun dia juga beranggapan jika merokok itu memadukan sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang baik, sehingga terjadi kebingungan di kepala publik.


“Ada keinginan mau berhenti, tapi gimana ya, mau berhenti juga udah kecanduan, lingkungan juga mempengaruhi” Kata FJ, teman saja yang juga perokok.

Perbedaan antara pendapat,  sikap, dan perilaku terjadi. Berpendapat bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan, tapi perilakunya bertolak belakang. Kata Leon Festinger, seorang psikolog abad 16, itu namanya disonansi kognitif.

Disonansi kognitif merupakan teori psikologi sosial. Hubungan disonansi kognitif dengan perokok aktif itu seperti barang atau suatu hal yang buruk namun terlihat menarik. Menjadikan logika yang satu mengingkari logika yang lainnya. Jelas sekali pada pembahasan di atas bahwa rokok itu tidak baik untuk kesehatan. Pada kenyataannya mereka masih merokok. Ada kesenjangan antara pendapat, sikap, dan perilaku.

Referensi :

Anugrah. (10/3/2020). Liputan6.com : 12 Manfaat Berhenti Merokok untuk Kesehatan, Cegah Penyakit Kronis. Diakses pada 1 Juni 2020 dari :

https://hot.liputan6.com/read/4198040/12-manfaat-berhenti-merokok-untuk-kesehatan-cegah-penyakit-kronis

Naftalia. (28/6/2017). Kompasiana : Disonansi Kognitif, Makin Lebar Makin Menderita. Diakses pada 1 Juni 2020 dari :

https://www.kompasiana.com/naftalia/5952cd00771117781d2d03d3/disonansi-kognitif-makin-lebar-makin-menderita?page=all

Referensi gambar :                                                                                                  

https://d3p0bla3numw14.cloudfront.net/news-content/img/2019/12/31133958/GettyImages-1141358432.jpg

 

0 comments:

Post a Comment