6.6.20

Bagaimana peran orang tua dalam sosialisasi peran gender pada anak?


Kharisma Ayu Mutiara Dewi
19310410070
Dr. Arundati Shinta, MA

Sosialisasi pada anak merupakan proses belajar anak tentang segala sesuatu yang meliputi bahasa, norma, dan perilaku. Menurut Brinkerhof dan White dalam Damsar mengartikan bahwa sosialisasi ialah suatu proses belajar peran, status, dan nilai yang diperlukan untuk keikutsertaan (partisipasi) dalam institusi sosial. Sedangkan menurut Durkheim sosialisasi adalah proses dimana seorang individu belajar dan menginternalisasikan norma dan nilai sepanjang hidupnya dalam masyarakat mana dia berada, dan membangun identitas sosialnya.Nasution juga mengatakan bahwa sosialisasi adalah soal belajar. Dalam proses sosialisasi individu belajar tingkah laku, kebiasaan serta pola-pola kebudayaan lainnya, juga keterampilan-keterampilan sosial seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, cara makan, dan sebagainya.
Namun pada saat anak sedang bersosialisasi dalam bentuk bermain atau sebagainya, terdapat pengaruh yang mengubah kepribadiannya. Contoh saat anak perempuan yang sering bermain dengan anak laki-laki. Terlalu seringnya sang anak mengikuti perilaku temannya yang seorang laki-laki seperti memanjat pohon, bermain dengan mesin mesin, atau perilaku laki-laki yang tidak seharusnya dilakukan oleh wanita.
Ini membuat para orang tua tidak nyaman atau resah dengan perilaku anak. Lalu bagaimana peran orang tua dalam menyikapi hal ini sehingga anak dapat bersosialisasi dengan benar. Mengingat bersosialisasi sangat penting karena anak dapat percaya diri, dapat mengembangkan bakatnya, atau dapat membentuk kepribadian yang baik. Orang tua mengenal kan identitasnya sebagai seorang wanita maupu pria. Dengan mengenalkan barang-barang yang harus dimiliki anaknya. Sebagai contoh seorang anak wanita maka, orang tua mendekatkan dengan pemilihan warna, accessories, mainan dan yang lain.
Konstruksi sosial budaya gender, seorang laki-laki misalnya haruslah bersifat kuat, agresif, rasional, pintar, berani, dan segala macam atribut kelelakian lain yang ditentukan oleh masyarakat tersebut, maka sejak seorang bayi laki-laki lahir, dia sudah langsung dibentuk menjadi seoranga laki-laki, dan disesuaikan dengan atribut-atribut yang melekat pada dirinya itu. Demikian pula halnya dengan seorang perempuan yang karena dia lahir dengan jenis kelamin perempuan, maka dia pun kemudian dibentuk untuk menjadi seorang perempuan sesuai dengan kriteria yang berlaku dalam suatu masyarakat dan budaya diman dia lahir dan dibesarkan, bahwa karena dia dilahirkan sebagai perempuan makan sudah menjadi “kodrat” pula bagi dia untuk menjadi sosok yang cantik, anggun, irrasional, emosional, dan sebagainya.
Jadi sebagai orang tua kita harus memberikan penekanan dalam gender seperti memberikan pujian (Reward) dan hukuman (Punishment) atau yang disebut teori Reinfocement. Pujian jika sang anak melakukan suatu hal yang sesuai dengan gendernya. Dan hukuman untuk anaknya jika tidak sesuai dengan gendernya. Sanksi/hukuman bertujuan untuk mendorong sang anak untuk bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya. Peran orang tua sangat penting untuk perkembangan gender pada anak.

Daftar Pustaka
Ismail. Pentingnya Sosialisasi Bagi anak. Di akses pada tanggal 05 Juni 2020 dari: http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ijtimaiyah/article/download/5716/2592
Pujisatuti, T. 2014. PERAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS GENDER ANAK. Syi’ar. Vol. 14 No. 1. Di akses pada tanggal 05 Juni 2020: https://media.neliti.com/media/publications/288045-peran-orang-tua-dalam-pembentukan-identi-6d06eba6.pdf
Miskahuddin. 2014. PENGARUH SOSIALISASI GENDER TERHADAP PEMBENTUKAN POLA PIKIR PEREMPUAN ACEH (Studi Kasus di Banda Aceh dan Aceh Besar). Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies. Vol. 1 No. 2. Di akses pada tanggal  05 Juni 2020: file:///C:/Users/user/Downloads/19-45-1-SM.pdf
Referensi Gambar
https://www.pngwing.com/id/free-png-bfvrn (Di akses pada tanggal 06 Juni 2020)

0 comments:

Post a Comment