23.11.19

SANATA DHARMA BERBAGI “Masyarakat yang Peka: Sebuah Tinjauan Psikologis”

        



            Oleh                              :  Alia Nanda Rumekti (19310410066)
          Dosen Pembimbing      :  FX. Wahyu Widiantoro, S. Psi., M. A.


Sanata Dharma Berbagi merupakan acara yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian akan tinjauan Psikologi yaitu Autisme dan relasi di masyarakat. Seminar yang dilaksanakan pada Jumat, 22 November 2019 di Ruang Kadarman Kampus 2 Universitas Sanata Dharma ini dihadiri oleh para dosen, mahasiswa, pengasuh anak dengan Autisme, dan dari kalangan lain. Seminar yang mengusung tema “Masyarakat yang Peka: Sebuah Tinjauan Psikologis” ini juga menghadirkan dua narasumber dengan materi yang berbeda.
Dr. Maria Laksmi Anantasari, M. Si., salah satu narasumber dalam Sanata Dharma Berbagi, mengusung materi “Perempuan yang Bertumbuh dalam Tekanan dan Kisah Asuh Para Ibu”. Dalam materinya, beliau menuturkan bahwa Autisme menduduki peringkat tertinggi pada gangguan mental dimana hal tersebut memiliki efek yang sangat besar. Kasus Autisme yang terus meningkat setiap tahunnya tentu memerlukan pemahaman dan perhatian khusus dari masyarakat.
Dr. Ari menyampaikan bahwa ada beberapa karakteristik gangguan Autisme sebagai stressor diantaranya komunikasi, perilaku makan, perilaku berulang, sensitivitas indera, tantrum, keterampilan dasar, dan kesehatan pencernaan. Selain stressor pada penderita, stressor ini juga terjadi pada ibu dari penderita. Seperti sulitnya mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK), sulit menerima takdir, suami yang tidak menerima kondisi anak, dan beratnya mengikhlaskan kemerdekaan sepanjang usia karena harus mengurus ABK. Anak dengan Autisme juga seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, seperti dianggap gila dan menjijikkan yang tentunya menjadi tekanan bagi ibu maupun anak.
Selain materi yang disampaikan oleh Dr. Ari, disampaikan pula materi “Relasi Interpersonal dalam Masyarakat yang Semakin Non-Komunal” yang disampaikan oleh Dr. Y. Heri Widodo, M. Psi., Psi. Dalam materinya, beliau menuturkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi justru membuat masyarakat cenderung kehilangan kepekaan terhadap keadaan di sekitarnya. Hal tersebut bisa dipahami dari bagaimana ia berelasi dengan manusia lainnya. Dr. Heri juga menyampaikan bahwa relasi interpersonal memiliki dampak terhadap kondisi fisiologis terkait kondisi kesehatan seseorang. Kondisi positif seseorang dapat meningkatkan kesehatan mental dan menurunkan risiko kematian.

Dari kedua materi yang disampaikan, terdapat beberapa hal yang dapat diambil. Diantaranya anak dengan Autisme dapat digali potensinya dengan  pendekatan-pendekatan dan terapi-terapi Psikologi. Pendekatan yang biasa dilakukan adalah pendekatan secara personal. Dibutuhkan waktu sekitar 10 sampai 12 tahun bagi orangtua dari anak dengan Autisme untuk menerima kondisi anak. Selain itu, orientasi komunal masih tampak dalam relasi antarindividu dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bisa dilihat dari adanya saling mengenal yang kemudian memunculkan kedekatan di masyarakat. Seseorang akan merasa bahagia ketika ia dicintai dan diinginkan, dan masyarakat yang peka adalah masyarakat yang saling menggantungkan.



0 comments:

Post a Comment