24.3.18

JUDUL ARTIKEL KETUJUH: GANGGUAN SOMATOFORM (SOMATISASI)



JUDUL ARTIKEL KETUJUH: GANGGUAN SOMATOFORM
(SOMATISASI)

 I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Dosen Pembimbing. Wahyu Widiantoro, S.Psi, MA.

MATA KULIAH: PSIKOLOGI ABNORMAL

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Gangguan somatisasi atau disebut juga somatoform adalah suatu kelompok kelainan psikiatrik yang manifestasinya dapat berupa berbagai gejala fisik yang dirasakan signifikan oleh pasien, namun tidak ditemukan penyebabnya secara medis. Sebuah penelitian di Jakarta menyebutkan bahwa di Puskesmas, jenis gangguan piskiatri yang tersering adalah neurosis, yaitu sebesar 25,8%, dan di dalamnya termasuk gangguan somatoform. Angka ini cukup besar, dan meningkat lebih banyak di daerah perkotaan. Pasien biasanya datang dengan keluhan fisik tertentu dan spesifik.

Apa saja ciri khas gangguan somatisasi?
  1. Biasanya menyerang usia sebelum usia 30 tahun dan lebih sering pada wanita.
  2. Keluhan atau gejala fisik berulang, banyak gejala dan berubah-ubah. Gejala yang sering dialami pasien antara lain:
    • Sakit perut, diare, atau sembelit
    • Sakit kepala yang berpindah-pindah
    • Sakit punggung, sakit lengan, dan sendi-sendi tubuh seperti lutut dan pinggul
    • Pusing bahkan sampai pingsan
    • Masalah menstruasi, misalnya kram saat menstruasi
    • Sesak napas
    • Sakit dada dan jantung berdebar-debar
    • Mual, kembung, begah
    • Masalah saat berhubungan seksual
    • Gangguan tidur, baik insomnia atau hipersomnia
    • Lemah, letih, lesu dan kurang bertenaga
  3. Perilaku tersebut sudah berlangsung lebih dari 2 tahun.
  4. Pasien datang dengan disertai permintaan pemeriksaan medis, bahkan sampai memaksa dokter.
  5. Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan dokter tidak menunjukkan adanya kelainan yang dapat menjelaskan keluhan tesebut.
  6. Pasien biasanya menolak membahas kemungkinan adanya penyebab psikologis. Pasien selalu mencari informasi tentang gejala yang dialaminya dan bersikap “sok tahu”.
  7. Gejala awal dan lanjutan dari keluhan yang dialami berhubungan erat dengan peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau konflik-konflik di kehidupan pasien.
  8. Pasien biasanya menunjukkan perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama karena pasien tidak puas dan tidak berhasil membujuk dokter menerima pikirannya bahwa keluhan yang dialami merupakan penyakit fisik dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
  9. Pasien selalu tidak mau menerima nasihat dari berbagai dokter yang menyatakan tidak ada kelainan medis yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut
Bagaimana bila Anda atau anggota keluarga mengalami gangguan somatisasi
Langkah awal untuk menghentikan gangguan somatisasi adalah menerima bahwa gejala yang timbul berasal dari pikiran. Dengan sikap menerima, Anda akan lebih mudah untuk mengatasi gejala yang diderita. Kemudian, hentikan kebiasaan “belanja dokter” secara bertahap.Periksakan gejala yang Anda alami konsisten pada satu dokter dan bangun kepercayaan pada dokter tersebut. Anda juga sebaiknya mengontrol tingkat stress yang dapat memicu gejala tersebut datang menghampiri.
Caranya dengan banyak melakukan aktivitas fisik, hobi, olahraga, ataupun rekreasi bersama keluarga.Selain itu, olahraga yang memadukan olah fisik dan pikiran seperti yoga, dapat dicoba sebagai pengalaman baru.Relaksasi dan olah napas juga dapat membantu meredakan gejala yang dialami. Keluhan yang dialami berasal dari pikiran, sehingga Anda harus mampu mengendalikan jika keluhan tersebut mulai datang.Perbanyak komunikasi dengan keluarga dan sahabat tanpa membantu melupakan gejala tersebut.Bergabung dengan komunitas baru juga mampu mengusir gejala yang selama ini Anda alami secara bertahap.Jika memungkinkan, Anda bisa meminta dokter kepercayaan untuk mengikuti program tertentu.Salah satu program untuk penderita gangguan ini adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT).Terapi ini merupakan salah satu tatalaksana yang efektif untuk mengelola gangguan somatoform dalam jangka panjang.

Contoh kasus
Iwan pegawai swasta berusia 34 tahun ini sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin.
Iwan juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Dia bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes, namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal.
Pria itu tentunya tidak percaya hal tersebut, karena sebenarnya dia merasa ada yang salah memang dengan dirinya.Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Iwan disarankan untuk datang ke bagian psikiatri/jiwa karena mungkin ada problem psikis yang melatari keluhannya. Dia pun sempat kesal karena saran itu, dia berkata “Memangnya saya gila Dok?!”.Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Iwan memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
1.      Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
2.      Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
3.      Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
4.      Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
5.      Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.

DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
Gangguan somatoform dibagi menjadi beberapa sub, namun yang paling sering dijumpai di klinik adalah yang dinamakan gangguan somatisasi dan gangguan hipokondrik. Gangguan Somatisasi, Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang bermacam-macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. Keluhan ini biasanya sudah berlangsung lama dan biasanya keluhannya berulang-ulang namun berganti-ganti tempat. Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping).Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi, namun hasilnya negatif.Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih. Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan.Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid.Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.
Biasanya bermula sebelum usia 30-an dan telah berlangsung beberapa tahun. Pasien biasanya tidak mau menerima pendapat dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari gejalanya. (Andri Suryadi, 2007)
.
1.    Teori Psikodinamika
Menurut teori psikodinamika, simtom histerikal memiliki fungsi : Memberikan orang tersebut keuntungan primer dan keuntungan sekunder. Keuntungan primer, yang didapat adalah memungkinkan individu untuk mempertahankan konflik internal direpresi. Orang tersebut sadar akan simtom fisik yang muncul namun bukan konflik yang diwakilinya. Dalam kasus-kasus seperti itu, “simtom” merupakan symbol dari, dan memberikan orang tersebut “pemecahan sebagian” untuk konflik yang mendasarinya.
2. Teori Belajar
Dalam pandangan teori belajar, simtom dari gangguan hipokondrias dan gangguan dismorfik tubuh dihubungkan dengan gangguan obsesif kompulsif (Barsky dkk., 1992; Cororve&Gleaves, 2001).Pada hipokandrias, orang terganggu oleh pikiran-pikiran yang obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai kesehatan mereka. Pergi dari satu dokter ke dokter lain dapat merupakan suatu bentuk dari perilaku kompulsif yang diperkuat oleh hilangnya kecemasan yang dialami secara temporer saat mereka diyakinkan kembali oleh dokternya bahwa kekuatan mereka tidak terbukti. Namun pikiran-pikiran yang menggangu kembali muncul, mendorong mereka melakukan konsultasi ayng berulang.
3. Teori Kognitif
Teori kognitif berspekulasi bahwa hipokondrias dapat mewakili sebuah tipe dari strategi self-handicapping, suatu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada kesehatan yang buruk (Smith, Synder & Perkins, 1983). Teori ini juga berspekulasi bahwa hipokondriasis dan gangguan panic yang sering kali terjadi secara bersamaan, dapat memiliki penyebab yang sama, cara berpikir yang terdiostorsi yang membuat orang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam sensasi tubuh sebagai tanda dari bencana yang akan terjadi (Salkovskis7 Clark, 1993). Perbedaan antara kedua gangguan itu terletak pada apakah interpretasi yang salah dari tanda-tanda tubuh membawa sebuah persepsi tentang ancaman yang akan segera terwujud dan lalu menyebabkan terjadinya kecemasan yang berputar cepat ataukah tentang ancaman dengan kisaran yang lebih panjang dalam bentruk proses penyakit yang mendasarinya.
Berdasarkan hasil analisis bahwa subjek sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin, hal ini menurut Andri Suryadi (2007), bahwa Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping). Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi, namun hasilnya negatif. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih. Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan.Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid.Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria.
Somatization Disorder 
Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkaan sistem organ yang multiple (sebagai contoh, gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini bersifat kronis dengan gejala ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun dan disertai dengan penderitaan psikologis yang bermakna, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan, dan perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan somatisasi pada populasi umum diperkirakan 0,1 – 0,2 %, walaupun beberapa kelompok penelitian percaya bahwa angka sesungguhnya mungkin mendekati 0,5 %. Prevalensi gangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 1 – 2 %. Rasio penderita wanita dibanding laki-laki adalah 5 berbanding 1 dan biasanya gangguan mulai pada usia dewasa muda (sebelum usia 30 tahun). Beberapa peneliti menemukan bahwa ggangguan somatisasi seringkali bersama-sama dengan gangguan mental lainnya.Sifat kepribadian atau gangguan kepribadian yang seringkali menyertai adalah yang ditandai oleh ciri penghindaran, paranoid, mengalahkan diri sendiri dan obsesif konpulsif.
ETIOLOGI
Penyebab ganggguan somatisasi tidak diketahui secara pasti tetapi diduga terdapat faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya gangguan somatisasi yakni:
Faktor Psikososial
Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikis dibawah sadar yang mempunyai tujuan tertentu. Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai sutu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai contoh: mengerjakan ke pekerjaan yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (sebagai contoh: kemarahan pada pasangan), atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan (sebagai contoh: nyeri pada usus seseorang). Beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari rumah yang tidak setabil dan telah mengalami penyiksaan fisik.Faktor sosial, kultural dan juga etnik mungkin juga terlibat dalam perkembangan gangguan somatisasi.
Faktor Biologis 
Ditemukan adanya faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer nondominan.Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi.

GAMBARAN KLINIS
Ciri utama gangguan somatisasi adalah adanya gejala-gejala fisik yang bermacam-macam (multiple), berulang dan sering berubah-ubah, yang biasanya sudah berlangsung beberapa tahun sebelum pasien datang ke psikiater.Kebanyakan pasien mempunyai riwayat pengobatan yang panjang dan sangat kompleks, baik ke pelayanan kesehatan dasar, maupun spesialistik, dengan hasil pemeriksaan atau bahkan operasi yang negatif. Keluhannya dapat mengenai setiap sistem atau bagian tubuh manapun, tetapi paling lajim mengenai keluhan gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, mual, muntah), kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, napas pendek yang tidak berhubungan dengan aktivitas dan keluhan-keluhan perasaan abnormal pada kulit (perasaan gatal, rasa terbakar, kesemutan, baal, pedih, dsb.), serta bercak-bercak pada kulit.Keluhan mengenai seks dan haid juga lazim terjadi.
Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal adalah menonjol, dan sering sekali terdapat anxietas dan depresi yang nyata sehingga memerlukan terapi khusus. Pasien biasanya tetapi tidak selalu menggambarkan keluhannya dengan cara yang dramatik, emosional, dan berlebih-lebihan, dengan bahasa yang gamblang dan bermacam-macam. Pasien wanita dengan gangguan somatisasi mungkin berpakaian eksibisionistik. Pasien mungkin merasa tergantung, berpusat pada diri sendiri, haus akan pujian atau sanjungan dan manipulatif.  Gangguan somatisasi sering disertai oleh gangguan mental lainnya, termasuk gangguan depresi berat, gangguan kepribadian, gangguan berhubungan dengan zat, gangguan kecemasan umum, dan fobia. Kriteria diagnosis gangguan somatisasi berdasarkan DSM IV:
a.       Riayat banyak keluhan fisik dengan onset sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
b.      Tiap kriteia berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan.
c.    Empat gejala nyeri: Riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlebihan (misalnya: kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi).
d.    Dua gejala gastrointestinal: Riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain dari nyeri (misalnya: mual, kembung, muntah selain dari kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap berbagai jenis makanan).
e.    Satu gejala seksual: Riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduksi selain dari nyeri (misalnya: indiferensi seksual, disfungsi erektil, atau ejakulasi, menstruasi yang tidak teratur, perdaraahan menstruasi yang berlebih, muntah sepanjang kehamilan).
f.    Satu gejala pseudoneurologis: Riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguaan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan ditenggorokan, retensi urin, hilangnya sensasi sentuh atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia atau hilangnya kesadaran selain pingsan).

Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau pura-pura). Diagnosis pasti gangguan somatisasi berdasarkan PPDGJ III:
1.      Ada banyak dan berbagai gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan adanya kelainan fisik yang sudah berlangsung sekitar 2 tahun.
2.      Selalu tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya.
3.      Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampaak daari perilakunya.
PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Gangguan somatisasi merupakan gangguan yang berlangsung kronik, berfluktuasi, menyebabkan ketidakmampuan dan sering kali disertai dengan ketidakserasian dari perilaku sosial, interpersonal dan keluarga yang berkepanjangan. Episode peningkatan keparahan gejala dan perkembangan gejala yang baru diperkirakan berlangsung 6 – 9 bulan dan dapat dipisahkan dari periode yang kurang simtomatik yang berlangsung 9 – 12 bulan.Tetapi jarang seorang pasien dengan gangguan somatisasi berjalan lebih dari satu tahun tanpa mencari suatu perhatian medis.
Seringkali terdapat hubungan antara periode peningkatan stress atau stress baru dan eksaserbasi gejala somatik. Prognosis gangguan somatisasi umumnya sedang sampai buruk.
TERAPI
Pasien dengan gangguan somatisasi paling baik diobati jika mereka memiliki seorang dokter tunggal sebagai perawat kesehatan umumnya.Klinisi primer harus memeriksa pasien selama kunjungan terjadwal yang teratur, biasanya dengan interval satu bulan.
Jika gangguan somatisasi telah didiagnosis, dokter yang mengobati pasien harus mendengarkan keluhan somatik sebagai ekspresi emosional, bukannya sebagai keluhan medis.Tetapi, pasien dengan gangguan somatisasi dapat juga memiliki penyakit fisik, karena itu dokter harus mempertimbangkan gejala mana yang perlu diperiksa dan sampai sejauh mana.
Strategi luas yang baik bagi dokter perawatan primer adalah meningkatkan kesadaran pasien tentang kemungkinan bahwa faktor psikologis terlibat dalam gejala penyakit.Psikoterapi dilakukan baik individual dan kelompok.Dalam lingkungan psikoterapetik, pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya, untuk mengekspresikan emosi yang mendasari dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka. Pengobatan psikofarmakologis diindikasikan bila gangguan somatisasi disertai dengan gangguan penyerta (misalnya: gangguan mood, gangguan depresi yang nyata, gangguan anxietas. Medikasi harus dimonitor karena pasien dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obat secara berlebihan dan tidak dapat dipercaya.

Hipokondria
Kecemasan seorang penderita hipokondria tidak sebatas meyakininya saja, tetapi diikuti dengan tindakan, misalnya "Belanja Dokter", "Belanja Rontgen Hipokondria adalah kecemasan yang berlebihan terhadap suatu atau beberapa penyakit. Penderita hipokondria akan selalu menanggapi keluhan-keluhan fisik dengan sangat serius, dan menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit tertentu.
Contoh:
Orang normal jika batuk ya menganggap dia sedang batuk saja.
Penderita hipokondria jika batuk berpikir bahwa dia terkena TBC, atau bahkan kanker paru.", sampai "Belanja Lab".
Hal ini disebabkan penderita hipokondria selalu meragukan atau bahkan tidak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter yang dia terima.Padahal hasilnya sudah sangat super akurat.
Selanjutnya dia akan mengunjungi dokter lain yang dianggapnya lebih pintar, dan seterusnya. Tak cukup dengan "Belanja Dokter", penderita hipkondria juga berusaha mencari informasi tentang penyakitnya melalui buku-buku atau internet. Dalam dunia psikiatri, hipokondria termasuk ke dalam gangguan mental atau psikis.Biasanya ditandai dengan perhatian berlebih terhadap kesehatan tubuh sendiri.Pikiran penderita selalu terpusat pada imajinasi tentang penyakit gawat yang menyerang tubuhnya, sehingga kehidupan pribadi dan sosialnya terganggu.
Penyebab
Penyebab hipokondria umumnya adalah trauma, kecemasan, emosi negatif yang dipendam, beban emosional dan konflik psikologis.
Gejala
* Ketakutan atau kecemasan berlebihan mengalami penyakit tertentu
* Khawatir bahwa gejala minor berarti ada penyakit yang serius
* Mencari, mengulangi ujian atau konsultasi medis
* Sering berganti dokter
* Frustrasi dengan dokter atau perawatan medis
* Hubungan sosial tegang
* Gangguan emosi
* Sering memeriksa tubuh untuk masalah-masalah, seperti benjolan atau luka
* Sering memeriksa tanda-tanda vital seperti denyut nadi atau tekanan darah
* Ketidakmampuan diyakinkan oleh ujian medis
* Berpikir mempunyai penyakit setelah membaca atau mendengar tentang hal itu
* Menghindari situasi yang membuat merasa cemas, seperti berada di rumah sakit
TERAPI
Secara umum, pendekatan cognitive-behavioral terbukti efektif dalam mengurangi hypochondriasis (e.g. Bach, 2000; Feranandez, Rodriguez&Fernandez, 2001, dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Penelitian menujukkan bahwa penderita hypochondriasis memperlihatkan bias kognitif dalam melihat ancaman ketika berkaitan dengan isu kesehatan (Smeets et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Cognitive-behavioral therapy dapat bertujuan untuk mengubah pemikiran pesimistis. Selain itu, pengobatan juga hendaknya dikaitkan dengan strategi yang mengalihkan penderita gangguan ini dari gejala-gejala tubuh dan meyakinkan mereka untuk mencari kepastian medis bahwa mereka tidak sakit (e.g. Salkovskis&Warwick, 1986;Visser& Bouman, 1992; Warwick & Salkovskis, 2001 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Somatoform Pain Disorder atau Gangguan Rasa Nyeri
Gangguan nyeri (pain disorder)
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan secara signifikan; faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan.Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak didapat. Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit karena pengalaman subjektif dari rasa nyeri selalu merupakan fenomena yang dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa nyeri itu sendiri bukanlah pengalaman sensoris yang sederhana, seperti penglihatan dan pendengaran.Untuk itu, memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan gangguan nyeri yang tergolong gangguan somatoform, amatlah sulit.Akan tetapi dalam beberapa kasus dapat dibedakan dengan jelas bagaimana rasa nyeri yang dialami oleh individu dengan gangguan somatoform dengan rasa nyeri dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah fisik.
Gejalanya:
Pada gangguan ini individu akan mengalami gejala sakit dan nyeri pada satu tempat atau lebih, yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan medis (non psikiatris) maupun neurologis. Simptom ini menimbulkan stress emosional ataupun gangguan fungsional, dan gangguan ini di anggap memiliki hubungan sebab akibat dengan factor psikologis. Keluhan yang dirasakan pasien berfluktuasi intensitasnya, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi, kognitif, atensi, dan situasi (Kaplan , sadock, dan Grebb, 1994).
Ciri-ciri:
Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri yang dialaminya dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris dari rasa nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit atau lebih berkurang (Adler et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Pandangan psikodinamika
Mengemukakan bahwa rasa sakit yang dialami penderita mungkin secara simbolis mengekspresikan konflik intrapsikis pada keluhan tubuh.
Terapi:
Prevalensi gangguan nyeri pada perempuan 2 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan puncak onsetnya terjadi sekitar usia 40-50 tahun mungkin karena pada usia tersebut toleransi terhadap rasa sakit sudah berkurang. Terapi untuk Pain Disorder: Berdasarkan mutakhir, biasanya tidak ada gunanya membuat perbedaan yang tajam antara rasa nyeri psikogenik dan rasa nyeri yang benar-benar di sebabkan oleh factor medis, seperti cedera jaringan otot. Umumnya diasumsikan bahwa rasa nyeri selalu mengandung kedua komponen tersebut.penanganan yang efektif cenderung terdiri dari hal-hal berikut:
  • Memvalidasikan bahwa rasa nyeri itu adalah nyata dan bukan hanya ada dalam pikiran penderita. 
  • Relaxation training  
  • Memberi reward kepada mereka yang berperilaku tidak seperti orang yang mengalami rasa nyeri. Secara umum disarankan untuk mengubah fokus perhatian dari apa yang tidak dapat dilakukan oleh penderita akibat rasa nyeri yang dialaminya, tetapi mengajari penderita bagaimana caranya menghadapi stress, mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri, terlepas dari keterbatasan fisik atau ketidaknyamanan yang penderita rasakan.
Conversion Disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja.Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan.Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik.
Gejalanya:
Gejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal masa dewasa, dimana biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup. Prevalensi dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli et al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Conversion disorder biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I lainnya seperti depresi dan penyalahgunaan zat-zat terlarang, dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan histrionic personality disorder (Binzer, Anderson&Kullgren, 1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Teori Psikoanalisis dari Conversion Disorder
Pada Studies in Hysteria (1895/1982), Breuer dan freud menyebutkan bahwa conversion disorder disebabkan ketika seseorang mengalami peristiwa yang menimbulkan peningkatan emosi yang besar, namun afeknya tidak dapat diekspresikan dan ingatan tentang peristiwa tersebut dihilangkan dari kesadaran. Gejala khusus conversion disebutkan dapat berhubungan sebab-akibat dengan peristiwa traumatis yang memunculkan gejala tersebut.Freud juga berhipotesis bahwa conversion disorder pada wanita terjadi pada awal kehidupan, diakibatkan oleh Electra complex yang tidak terselesaikan. Berdasarkan pandangan psikodinamik dari Sackheim dan koleganya, verbal reports dan tingkah laku dapat terpisah satu sama lain secara tidak sadar.Hysterically blind person dapat berkata bahwa ia tidak dapat melihat dan secara bersamaan dapat dipengaruhi oleh stimulus visual. Cara mereka menunjukkan bahwa mereka dapat melihat tergantung pada sejauh mana tingkat kebutaannya.
Teori Behavioral dari Conversion Disorder
Pandangan behavioral yang dikemukakan Ullman&Krasner (dalam Davidson, Neale, Kring, 2004), menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering, dimana individu mengadopsi simptom untuk mencapai suatu tujuan. Menurut pandangan mereka, individu dengan conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik, akan bereaksi. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan : (1) Apakah seseorang mampu berbuat demikian? (2) Dalam kondisi seperti apa perilaku tersebut sering muncul ?Berdasarkan bukti-bukti yang ada, maka jawaban untuk pertanyaan (1) adalah ya. Seseorang dapat mengadopsi pola perilaku yang sesuai dengan gejala klasik conversion. Misalnya kelumpuhan, analgesias, dan kebutaan, seperti yang kita ketahui, dapat pula dimunculkan pada orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis.Sedangkan untuk pertanyaan (2) Ullman dan Krasner mengspesifikasikan dua kondisi yang dapat meningkatkan kecenderungan ketidakmampuan motorik dan sensorik dapat ditiru. Pertama, individu harus memiliki pengalaman dengan peran yang akan diadopsi. Individu tersebut dapat memiliki masalah fisik yang serupa atau mengobservasi gejala tersebut pada orang lain. Kedua, permainan dari peran tersebut harus diberikan reward. Individu akan menampilkan ketidakampuan hanya jika perilaku itu diharapkan dapat mengurangi stress atau untuk memperoleh konsekuensi positif yang lain. Namun pandangan behavioral ini tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti literatur.
Faktor Sosial dan Budaya pada Conversion Disorder
Salah satu bukti bahwa faktor social dan budaya berperan dalam conversion disorder ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad terakhir.Beberapa hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai berkurang adalah misalnya terapis yang ahli dalam bidang psikoanalisis menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19, ketika tingkat kemunculan conversion disorder tinggi di Perancis dan Austria, perilaku seksual yang di repress dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini. Berkurangnya gangguan ini dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin berkembangnya ilmu psikologi dan kedokteran pada abad ke 20, yang lebih toleran terhadap kecemasan akibat disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis daripada sebelumnya.
Selain itu peran faktor sosial dan budaya juga menunjukkan bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh mereka yang berada di daerah pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah (Binzer et al.,1996; Folks, Ford & Regan, 1984 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Mereka mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep medis dan psikologis. Sementara itu, diagnosis mengenai hysteria berkurang pada masyarakat industrialis, seperti Inggris, dan lebih umum pada negara yang belum berkembang, seperti Libya (Pu et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004 ).
Faktor Biologis pada Conversion Disorder
Meskipun faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan conversion disorder, penelitian tidak mendukung hal ini. Sementara itu, dalam beberapa penelitian, gejala conversion lebih sering muncul pada bagian kiri tubuh dibandingkan dengan bagian kanan (Binzer et al.,dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Hal ini merupakan penemuan menarik karena fungsi bagian kiri tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak.Hemisfer kanan otak juga diperkirakan lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif.Akan tetapi, berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang dapat diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus bagian kiri otak (Roelofs et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
TERAPI
        Case report dan spekulasi klinis saat ini menjadi sumber informasi penting dalam membantu orang-orang yang mengalami gangguan ini. Pada analisa kasus, bukanlah ide yang baik untuk meyakinkan mereka yang mengalami gangguan ini bahwa gejala conversion yang mereka alami berhubungan dengan faktor psikologis. Pengetahuan klinis lebih menyajikan pendekatan yang lembut dan suportif dengan memberikan reward bagi kemajuan dalam proses pengobatan meeka (Simon dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Para terapis behaviorist lebih menyarankan pada mereka yang mengalami gangguan somatoform, beragam teknik yang dimaksudkan agar mereka menghilangkan gejala-gejala dari gangguan tersebut.
Kata somatoform diambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Gangguan Somatoform merupakan suatu kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik atau dengan kata lain gangguan ini muncul karena adanya kekhawatiran patologis seseorang terhadap penampilan atau fungsi tubuhnya, yang biasanya tanpa disertai oleh kondisi medis yang dapat diidentifikasi. Jadi Gangguan Somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang meliputi simtom fisik (misalnya : nyeri, mual, dan pening) dimana tidak dapat ditemukan penjelasan secara medis. Berbagai simtom dan keluhan somatik tersebut cukup serius, sehingga menyebabkan stress emosional dan gangguan dalam kemampuan penderita untuk berfungsi dalam kehidupan sosial dan pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinis bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk keparahan dan durasi gejala.
Gangguan somatoform dijelaskan dalam DSM-IV (American Psychiatric Association (APA), 1994) sebagai adanya gejala fisik yang menunjukkan kondisi medis dasar, tapi kondisi medis tidak ditemukan sepenuhnya untuk tingkat penurunan fungsional. Pada diagnosis DSM termasuk gangguan somatisasi, gangguan konversi, gangguan nyeri, hypochondriasis, dan gangguan dismorfik tubuh, dengan kondisi terkait termasuk cord dysfunction, distrofi refleks simpatik, dan nyeri perut berulang.
Gejala somatik yang umum pada anak-anak didiagnosis jarang. Dalam komunitas sampel 540 anak-anak usia sekolah, Garber, Walker, dan Zeman (1991) menemukan bahwa hanya 1,1% dari anak-anak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan somatisasi penuh sesuai dengan kriteria DSM-III-R. Demikian pula, tingkat gangguan diperkirakan kurang dari 1% dari populasi umum (APA, 1994). Ciri-ciri gangguan somatofm, yaitu:
a.       Kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik.
b.      Bukan merupakan Malingering: kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil eksternal yang jelas, misalnya menghindari hukuman, mendapatkan pekerjaan, dsb.
c.       Bukan pula Gangguan Factitious/Gangguan Buatan: gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas atau untuk mendapatkan peran sakit.
Macam-Macam dari Gangguan Somatofm
DSM-IV menyebutkan lima gangguan somatoform dasar, yakni: Hypochondriasis, Somatization Disorder, Conversion Disorder, Pain Disorder, Body Dysmorphic Disorder. Pada masing-masing gangguan, individu secara patologis mengkhawatirkan penampilan atau fungsi tubuhnya.
1. HYPOCHONDRIASIS (Hipokondriasis)
Kata “Hypochondriasis” berasal dari istilah medis lama “hypochondrium”, yang berarti dibawah tulang rusuk, dan merefleksikan gangguan pada bagian perut yang sering dikeluhkan pasien hipokondriasis. Pada hipokondriasis ditandai dengan kecemasan atau ketakutan memiliki penyakit serius. Hipokondriasis merupakan hasil interpretasi pasien yang tidak realistis dan tidak akurat terhadap gejala somatik, sehingga menyebabkan ketakutan bahwa mereka memiliki gangguan yang parah (misalnya: Kanker atau masalah jantung), bahkan meskipun tidak ada penyebab medis yang ditemukan.
Rasa takut tetap ada walaupun telah diyakinkan medis bahwa ketakutan itu tidak berdasar.Pada umumnya pasien hipokondriasis mengalami ketidaknyamanan fisik, seringkali melibatkan system pencernaan atau campuran rasa sakit dan nyeri.Selain itu pasien ini juga sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit serta nyeri. Jadi Hipokondriasis adalah gangguan somatoform yang melibatkan kecemasan berat seseorang karena adanya keyakinan bahwa dirinya sedang mengalami proses penyakit tanpa adanya dasar fisik yang jelas. Ciri-ciri diagnostik dari hipokondriasis :
1.    Orang tersebut terpaku pada ketakutan memiliki penyakit serius atau pada keyakinan bahwa dirinya memiliki penyakit serius. Orang tersebut menginterpretasikan sensasi tubuh atatu tanda-tanda fisik sebagai bukti dari penyakit fisiknya.
2.    Ketakutan terhadap suatu penyakit fisik, atau keyakinan memiliki suatu penyakit fisik, yang tetap ada meski telah diyakinkan secara medis.Keterpakuan tidak hanya pada intensitas khayalan (orang itu mengenali kemungkinan bahwa ketakutan dan keyakinan ini terlalu dibesar-besarkan atau tidak mendasar) dan tidak terbatas pada kekhawatiran pada penampilan.
3.    Keterpakuan menyebabkan distress emosional yang signifikan atau mengganggu satu atau lebih area fungsi yang penting, seperti fungsi social atau pekerjaan.
4.    Gangguan telah bertahan selama 6 bulan atatu lebih.
5.    Keterpakuan tidak muncul secara eksklusif dalam konteks gangguan mental lain.

2. SOMATIZATION DISORDER (Gangguan Somatisasi)
Gangguan somatisasi, sebelumnya dikenal sebagai sindrom Briquet, yang mengacu pada nama dokter dari Perancis, Pierre Briquet yang pertama kali menjelaskan gangguan ini. Gangguan somatisasi adalah suatu tipe gangguan somatoform yang melibatkan berbagai keluhan yang muncul berulang-ulang, yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik apapun.Gangguan ini memiliki karakteristik dengan berbagai keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara akurat dengan menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium.
Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup system-sistem organ yang berbeda.Keluhan-keluhan itupun tampak meragukan dan dibesar-besarkan, dan orang itu sering kali menerima perawatan medis dari sejumlah dokter.Perbedaan gangguan somatisasi dengan gangguan somatoform lainnya adalah banyaknya keluhan dan banyaknya system tubuh yang terpengaruh. Ciri-ciri gangguan somatisasi meliputi:
1.    Riwayat banyak keluhan fisik yang mulai muncul sebelum usia 30 tahun, yang berlangsung selama bertahun-tahun dan menyebabkan individu mencari penanganan untuk mengatasi masalahnya atau mengalami hendaya signifikan dibidang-bidang yang dianggap penting.
2.    Menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:(1) Empat gejala fisik (nyeri) pada lokasi berbeda (misalnya kepala,pundak,lutut,kaki); (2) dua gejala gastrointestinal yang tidak menimbulkan nyeri (misalnya mual, diare, kembung); (3) satu gejala seksual (misalnya pendarahan menstruasi yang sangat banyak, disfungsi ereksi); (4) satu gejala pseudoneurologis (misalnya penglihatan ganda,gangguan koordinasi atatu keseimbangan, sulit menelan).
3.    Keluhan-keluhan fisik tidak dapat dijelaskan sepenuhnya berdasarkan kondisi medis secara umum atau berdasarkan efek substansi tertentu (misalnya efek obat atau penyalah gunaan obat) atau bila ada kondisi medis secara umum, keluhan fisik atau hendayanya melebihi perkiraan untuk kondisi medis tersebut.
4.    Keluhan atau daya ingat tidak dibuat secara sengaja atau pura-pura.

3. CONVERSION DISORDER (Gangguan Konversi)
Gangguan konversi adalah mal-fungsi fisik, seperti kebutaan atau kelumpuhan yang mengesankan adanya kerusakan neurologis, tetapi tidak ada patologi organik yang menyebabkan.Pada gangguan ini dicirikan oleh suatu perubahan besar dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis atau neurologi yang dapat ditemukan sebagai simtom atau kemunduran fisik tersebut.Gejala somatik ini biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan.
Gangguan konversi dinamakan demikian karena adanya keyakinan psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi, dari energy seksual atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik.Pada masa lampau, konversi ini dikenal dengan istilah hysteria. Gangguan ini biasanya mulai pada masa remaja atau dewasa muda, terutama setelah mereka mengalami stress dalam kehidupan.Prevalensinya sekitar 22 orang per 100.000 penduduk, dengan penderita perempuan 2 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Ciri-ciri Diagnostik dari Gangguan Konveksi :
a.    Paling tidak terdapat satu simtom atau defisit yang melibatkan fungsi motoriknya  atau fungsi sensoris yang menunjukkan adanya gangguan fisik
b.    Faktor psikologis dinilai berhubungan dengan gangguan tersebut karena onset atau kambuhnya simtom fisik terkait dengan munculnya stresor psikososial atau situasi konflik.
c.    Orang tersebut tidak dengan sengaja menciptakan simtom fisik tersebut atau berpura-pura memilikinya dengan tujuan tertentu.
d.   Simtom tidak dapat dijelaskan sebagai suatu ritual budaya atau pola respons, juga tidak dapat dijelaskan dengan gangguan fisik apapun melalui landasan pengujian yang tepat
e.    Simtom menyebabkan distres emosional yang berarti, hendaya dalam satu atau lebih area fungsi, seperti fungsi sosial atau pekerjaan, atau cukup untuk menjamin perhatian medis.
f.     Simtom tidak terbatas pada keluhan nyeri atau masalah pada fungsi seksual, juga tidak dapat disebabkan oleh gangguan mental lain.

Freud mengemukakan bahwa terdapat empat proses dasar dalam pembentukan gangguan konveksi:
a.       Individu mengalami peristiwa traumatik, hal ini oleh Freud dianggap awal munculnya beberapa konflik yang tidak diterima dan disadari.
b.      Konflik dan kecemasan yang dihasilkan tidak dapat diterima oleh ego, terjadi proses represi (membuat hal ini tidak disadari).
c.       Kecemasan semakin meningkat dan mengancam untuk muncul ke kesadaran, sehingga orang tersebut dengan cara tertentu “mengkonversikannya” ke dalam simtom fisik. Hal ini mengurangi tekanan bahwa ia harus mengatasi langsung konfliknya disebut primary gain (peristiwa yang dianggap member imbalan primer dan mempertahankan simtom konversi).
d.      Individu memperoleh perhatian dan simpati yang besar dari orang-orang di sekitarnya dan mungkin juga dapat melarikan diri atau menghindar dari tugas atau situasi tertentu terdapat pula secondary gain.

4. PAIN DISORDER (Gangguan Nyeri)
Pain disorder atau Gangguan nyeri adalah ganguan somatoform yang memiliki fitur nyeri riil tetapi baik onset, tingkat keparahan, maupun persistensinya banyak ditentukan oleh faktor-faktor psikologis. Gangguan nyeri ini biasanya pada satu tempat atau lebih, yang tidak dapat dijelaskan secara medis maupun neurologis. Simtom ini menimbulkan stress emosional ataupun gangguan fungsional sehingga berkaitan dengan faktor psikologis. Keluhan dirasakan pasien berfluktuasi intensitasnya, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi, kognisi, atensi, dan situasi sehingga faktor psikologis mempengaruhi kemunculan,bertahannya, dan tingkat keparahan gangguan. Ciri-ciri gangguan nyeri meliputi:
1.    Adanya nyeri/rasa sakit serius di satu lokasi antomis atau lebih
2.    Nyeri itu menyebabkan distres  yang signifikan secara klinis.
3.    Faktor-faktor psikologis di nilai berperan pokok dalam onset, tingkat keparahan, keadaan yang memburuk, atau persistensi nyeri.
4.    Nyeri itu bukan pura-pura atau sengaja dibuat.

5. BODY DYSMORPHIC DISORDER (Gangguan Dismorfik Tubuh)
Gangguan dismorfik tubuh adalah gangguan yang memiliki preokupasi disroptif pada kekurangan yang dibayangkan terdapat pada penampilan seseorang (imagined ugliness). Artinya dimana seseorang memiliki preokupasi dengan kecacatan tubuh yang tidak nyata (misalnya hidung yang dirasakan kurang mancung), atau keluhan yang berlebihan tentang kekurangan tubuh yang minimal atau kecil.Orang pada gangguan dismorfik tubuh terpaku pada kekurangan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Pada gangguan ini faktor subjektivitas berperan penting.Penyebab gangguan hingga saat ini belum dapat diketahui dengan pasti.Namun diperkirakan terdapat hubunganhubungan antara gangguan dengan pengaruh budaya atau sosial, dengan adanya konsep stereotip tentang kecantikan.

PENANGANAN GANGGUAN SOMATOFORM
  •  Penanganan biasanya melibatkan terapi psikodinamika atau kognitif-behavioral yang bertujuan untuk mengubah pemikiran pesimistis.
  • Penanganan Biomedis yakni penggunaan anti depresan yang terbatas dalam menangani hipokondreasis.
  • Terapi kognitif Behavioral dapat berfungsi pada menghilangkan sumber-sumber reinforcement sekunder( keuntungan sekunder), memperbaiki perkembangan keterampilan coping untuk mengatasi stress dan memperbaiki keyakinan yang berlebihan atau terdistorsi mengenai kesehatan atau penampilan seeorang
  • Terapi psikodinamika atau yang berorientasi terhadap pemahaman dapat ditujukan untuk mengidentifikasi dan mengenali konflik-konflik yang mendasarinya.

1. Gangguan Somatisasi (DSM III)
a)    Gangguan somatis yang dikeluhkan secara berulang-ulang dan macam-macam keluhan yang membutuhkan perhatian medis
b)   Secara medis tidak ada bukti
c)    Gangguan terjadi mulai umur 25 tahun
d)   Keluhan : sakit kepala, kelelahan, sakit di dada, perut, saluran kencing, mau muntah/mual/pingsan.
e)    Prevelensi wanita lebih banyak daripada pria.
“Sick Role” (modus operan untuk mendapatkan perhatian) → wanita lebih banyak mengalami somatisasi dibanding pria
Butuh perhatian
Konstruk budaya : double burder. Konflik peran yang dialami :nurut, nrimo; tidak boleh complain, hanya bisa menangis.
Biologis : pengaruh hormonal
f)    Secara memikat dapat menunjukkan keluhannya
g)   Dapat meyakinkan dokter atas keluhannya
h)   Ada unsur “secondary gain”.
Dinamika Psikologis
   Kepribadian tertentu (premorbit; rapuh) → stressor (sumber stress) → coping maladaptif → defence mechanism → tidak efektif (proses ketidak sadaran) → keluhan-keluhan fisik → ketidakmampuan mengatasi stress → “secondary gain” (+).
Primary Gain : stressor, coping maladaptif, defence mechanism.

     Menurut DSM IV Gejala-gejala yang muncul harus meliputi :
 Sejarah munculnya berbagai keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun dan muncul selama beberapa tahun. Keluhan tersebut mengakibatkan usaha untuk mencari perawatan atau gangguan dalam interaksi sosial, pekerjaan, atau fungsi dalam bidang lain yang penting. Masing-masing dari kriteria dibawah ini harus terpenuhi, dengan simtom individu muncul pada beberapa waktu selama terjadinya gangguan:
(1)     Empat simtom nyeri pada lokasi yang berbeda, misalnya kepala, pundak, lutut, kaki 
(2)     Dua simtom gastrointestinal, misalnya diare, mual
(3)     Satu simtom seksual yang berbeda dari rasa sakit atau nyeri, misalnya  ketidakmampuan ereksi
(4)     Satu simtom pseudoneurologis seperti pada gangguan konversi
      Keluhan-keluhan
1.    Kardiovaskuler : berdebar-debar, tengkuk pegal, dan darah tinggi
2.    Gastro-intestinal (sistem pencernaan) : ulu hati sakit, perut sakit, kembung, diare kronis
3.    Tractus-respiratorius (sistem pernapasan) : sesak nafas
4.    Muskulo-skeletal (otot dan tulang) : encok/rematik, pegel-pegel, sakit kepala, kejang
5.    Dermis (kulit) : gatal-gatal, eksim
6.    Endokrin : banyak keringat, sering gugup, gangguan haid
7.    Tractus Urogenital (sistem kemih dan alat kelamin) : mengompol, impoten, nafsu seks berkurang/bertambah

Psikosomatis
      Dinamika Psikologis
Kondisi fisiknya dengan imunitas → stressor → appraisal (penilaian; interpretasi, pola pikir) (-) → coping maladptif → reaksi psikofisiologis → gangguan fisiologis yang nyata → perilaku maladptif ketidak mampuan mengatasi stress yang dihadapi → “secondary gain” (+).
  Primary Gain : stressor, appraisal (-), coping maladptif.

      Perbedaan antara somatisasi dan psikosomatis
      Somatisasi
1.    Timbul masalah, kemudian timbul keluhan/gejala fisik
2.    Tidak ada penyakitnya; penyakit dibuat-buat; tidak dapat dijelaskan
3.    Keluhan fisik yang dilakukan secara berulang-ulang
4.    Secara medis tidak terbukti → ada keluhan–keluhan fisik muncul beberapa tahun
5.    Menunggu interaksi sosial, pekerjaan/fungsi dalam bidang lain
     Psikosomatis
1.      Keluhan fisik yang sebelumnya telah dimiliki kemudian baru timbul masalah
2.      Ada penyakitnya; dapat diriwayatkan (dijelaskan)
3. Psychogenic Pain
1.      Keluhan yang muncul biasanya pada punggung dan leher
2.      Diiringi atau dicetuskan dengan oleh perubahan yang meyakinkan dalam hubungan sosial
3.      Individu tidak menyadari ada hubungan antara sakitnya dengan stres
4.      Ada kecenderungan menolak dan mengingkari sebab-sebab psikologis
5.      Tidak mudah ditreatment secara psikologis
4. Hypochondriasis (DSM IV)
1.    Keluhan hampir sama dengan Psychogenic Pain
2.    Ada kecenderungan salah menafsirkan perasaan-perasaan dan sensasi tentang fisiknya yang normal sebagai indikasi penyakit fisik yang berat
3.    Keluhannya pada setiap bagian tubuh biasanya pada perut dan jantung
4.    Pasien selalu datang ke dokter, meskipun dokter tidak mampu melakukan pengobatan → Doctor’s Shopping
5.    Prognosis jelek → tidak bisa menerima feedback/sedikit memungkinkan sembuh
6.    Untuk sembuh sangat sulit karena adanya Negative Style (mis. ngeyel)
7.    Pasien dengan Hipokondri sangat pandai berperan sebagai orang sakit dengan tujuan untuk : mendapatkan sakit, mendapatkan perhatian, dan diterima kegagalannya
           5.    Body Dysmorphic Disorder
1.      Preokupasi (ketidak sempurnaan) dengan kecacatan tubuh yang tidak nyata (misalnya hidung yang dirasakan kurang mancung, kulit yang dirasakan kurang putih)
2.      Perempuan lebih memfokuskan pada bagian kulit, dada, paha, dan kaki sedangkan laki-laki lebih memfokuskan pada tinggi badan, ukuran alat vital, atau rambut tubuh
3.      Prevalensi perempuan lebih banyak daripada laki-laki
4.      Onset biasanya terjadi pada usia 15-20 tahun
      6. Konversi → hysteria
1.    Mengalami anesthesia, yaitu kelumpuhan sebagian/seluruhnya pada bagian kaki, tangan, gangguan koordinasi/kejang
2.    Tunnel vision : lapangan pandangan terbatas
3.    Aphonia : kehilangan suara
4.    Anosmia (kehilangan atau hendaya dalam kemampuan penciuman)
5.    Gangguan dengan munculnya satu/beberapa simtom neurologis
6.    Tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan medis
Asesmen
1. Wawancara → Data demografi klien, Riwayat Keluhan Klien
2. Observasi → penampilan klien saat datang ke terapis, komunikasi verbal (intonasi suara, volume suara), komunikasi non-verbal
3. Tes Psikologis → Tes Kepribadian (Grafis, Ro, TAT-CAT), skala stres dan depresi, dll.
Interversi Psikologis
Persiapan Intervensi :
1.      Menyampaikan langkah-langkah terapi yang akan diberikan, misalnya konseling sebagai langkah awal
2.      Menjelaskan jenis tritmen yang akan diberikan dan berapa kali tritmen dilakukan
3.      Mempersiapkan sarana prasarana yang diperlukan
Jenis intervensi yang dapat dilakukan:
Konseling
1.      Khusus untuk psikosomatis, konseling diarahkan tentang pengaturan pola makan, olahraga, kepatuhan minum obat, problem psikologisnya
2.      Psikoterapi, misalnya relaksasi dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan klien dan penguasaan terapisnya
3.      Pemberian pekerjaan rumah untuk memperlancar proses terapi, contohnya self-monitoring, mempratekkan relaksasi, bibliotherapy, terapi musik, terapi psiko-religius, dll.

KASUS
Contoh Kasus Gangguan Somatoform
     Budi Santoso Spegawai swasta berusia 30 tahun ini sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. Budi juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Dia bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes, namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal. Pria itu tentunya tidak percaya hal tersebut, karena sebenarnya dia merasa ada yang salah memang dengan dirinya.Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Budi disarankan untuk datang ke bagian psikiatri/jiwa karena mungkin ada problem psikis yang melatari keluhannya. Dia pun sempat kesal karena saran itu, dia berkata “Memangnya saya gila Dok?!”. Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Iwan memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
1.      Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
2.      Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
3.      Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
4.      Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
5.      Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
  Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.

KESIMPULAN
Gangguan somatisasi merupakan gangguan dengan karakteristik berbagai keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat dengan menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Keluhan somatic yang tejadi berkali-kali berupa sakit kepala, lelah, alergi, sakit perut, dada dan punggung, gangguan yang berhubungan dengan kelamin, jantung berdebar dan sering juga terjadi simtom konversi, kesulitan menstruasi, ketidak pedulian seksual. Gangguan somatisasi ini biasanya dimulai sebelum usia 30. Pada wanita, gangguan ini dapat terdiri dari menstruasi tidak teratur, menorhagia, atau muntah selama kehamilan.Pada pria, mungkin ada gejala seperti ereksi atau

DAFTAR PUSTAKA
Ahead. 2008. Gangguan Jiwa: Siapa yang Waras. http://sedanghidup.blogspot.com/
Andri Suryadi. 2007. Gangguan psikomatik, problem psikis yang gerogoti fisik.
http://www.maitreya.or.id/forums
Barlow & Durand, 1995 Fausiah Fitri, Widury Julianti. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Universitas Indonesia. Jakarta.
Davison & Neale dari Fausiah Fitri, Widury Julianti. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, Universitas Indonesia. Jakarta
dr. Engelberta Pardamean, SpKJ, 2007. Gangguan Somatoform. Symposium sehari kesehatan jiwa dalam rangka menyambut hari kesehatan jiwa sedunia. Ikatan Dokter Indonesia.
Faruq dalam http://faruqngabar.wordpress.com/2011/10/08/gangguan-somatofm/ diakses pada tanggal 20/04/12.
Jeffrey S. Dkk. 2003. Psikologi Abnormal Jilid I. Jakarta. Erlangga.
Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994 dari Fausiah Fitri, Widury Julianti. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, Universitas Indonesia. Jakarta.
Kellner, R. (1991). Psychosomatic syndromes and somatic symptoms. Washington, DC: American Psychiatric Press.
Kendall & Hammen, 1998 dari Fausiah Fitri, Widury Julianti. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, Universitas Indonesia. Jakarta.
Kovacs, M. (1982).Children's depression inventory. North Tonawanda, NY: Multi-Health Systems, Inc.
Landgraf, J. M., Abetz, L., & Ware, J. E. (1996).The Child Health Questionnaire (CHQ) user's manual. Boston, MA: The Health Institute, New England Medical Center.
Nevid S.Jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT.Gelora Aksara.
Senium Yustinus. 2006. kesehatan Mental, Percetakan Kanius. Yogyakarta.
Supratiknya, Dr. A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta.
Tomb, David. A. 2000. Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC.
V. Mark Durank & Dvid H.Barlow.2006.Psikologi Abnormal. Jilid 1 dan 2.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Wiramihardja Sutardjo, Dr. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal, PT.Refika Aditama. Bandung.
Yayudinaul dalam www.scribd.com/mobile di akses pada tanggal 19/04/2012

0 comments:

Post a Comment