24.3.18

JUDUL ARTIKEL KEENAM: GANGGUAN SKIZOFRENIA (GANGGUAN MENTAL)



JUDUL ARTIKEL KEENAM: GANGGUAN SKIZOFRENIA
(GANGGUAN MENTAL)
 

 I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Dosen Pembimbing. Wahyu Widiantoro, S.Psi, MA.

MATA KULIAH: PSIKOLOGI ABNORMAL

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri. Penyakit skizofrenia bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Kisaran usia 15-35 tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini. Penyakit skizofrenia diperkirakan diidap oleh satu persen penduduk dunia. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) yang dipublikasikan pada tahun 2014, jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai 400 ribu orang. Di Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa, kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan yang tidak layak seperti pemasungan.
Penyebab skizofrenia

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.
Diagnosis dan pengobatan skizofrenia
Jika Anda memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera bawa ke dokter. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang sembuh penderita skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin. Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:
  • Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.
  • Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.
  • Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.
Dalam mengobati skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan obat-obatan antipsikotik. Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat. Meskipun sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain. Skizofrenia adalah penyakit mental kronis yang menyebabkan terganggunya proses berpikir. Penderita skizofrenia tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan. Penderita skizofrenia juga cenderung mendengar suara-suara di dalam pikiran mereka dan melihat sesuatu yang tidak nyata. Mereka delusional, cemas berlebihan (paranoia), dan cepat marah.
Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan berkepanjangan. Kecepatan berpikir pada penderita skizofrenia menjadi lebih cepat atau lambat, bahkan dapat berhenti sepenuhnya, yang juga akan memengaruhi kecepatan berbicara; menjadi lebih cepat, lambat ataupun terbata-bata. Penderita kehilangan kemampuan untuk berpikir, mengingat, ataupun memahami masalah tertentu. Sebanyak 1 dari 100 orang, atau sekitar 1% populasi dunia, mengidap skizofrenia. Angka dari pasien pria dan wanita sebanding, namun pasien pria cenderung mengidap skizofrenia dari usia yang lebih dini, mulai usia pubertas hingga sekitar usia 25. Pasien wanita umumnya mulai mengidap penyakit ini dari usia 25 dan lebih. Gejala dan ciri seseorang mengidap skizofrenia adalah:
  • Konflik pada pikiran, sulit membuat keputusan
  • Kesulitan untuk mengekspresikan dan memperlihatkan emosi
  • Ketakutan akan tempat umum yang ramai
  • Halusinasi, khususnya mendengar suara yang jelas dari orang yang dikenal ataupun orang yang tidak dikenal. Suara ini mungkin akan memberi tahu penderita untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain
  • Paranoia, seperti kecemasan berlebihan, percaya dirinya mempunyai kemampuan khusus atau mengidap penyakit tertentu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya
Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala yang tidak disertakan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran mengenai suatu gejala, konsultasikanlah ke dokter Anda. Simtom-simtom utama skizofrenia dibagi atas tiga, yaitu positif, negatif, dan disorganisasi. Ada juga beberapa simtom yang tidak cukup sesuai untuk digolongkan ke dalam ketiga kategori tersebut (Davidson, 2006).
Simtom Positif
Simtom-simtom positif mencakup hal-hal yang berlebihan dan distorsi,seperti halusinasi dan waham. Simtom-simtom ini, sebagian terbesarnya, menjadi ciri suatu episode akut skizofrenia.
  • Delusi (atau dikenal juga dengan istilah waham)
Waham (delusi), yaitu keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan, semacam itu merupakan simtom-simtom positif yang umum pada skizofrenia. Waham kejaran contohnya terjadi pada 65% dari suatu sampel besar lintas Negara (Sartorius, Shapiro,& Jablonsky, 1974; Davison,Neale, & Kring, 2006). Waham juga dapat memiliki bentuk lain. Beberapa di antaranya digambarkan oleh psikiater berkebangsaan Jerman Kurt Schneider (1959). Gambaran delusi di bawah ini dikutip dari Mellor (1970).
  • Pasien yakin bahwa pikiran yang bukan berasal dari dirinya dimasukkan ke dalam pikirannya oleh suatu sumber eksternal.
  • Pasien yakin bahwa pikiran mereka disiarkan dan ditransmisikan sehingga orang lain mengetahui apa yang mereka pikirkan.
  • Pasien berpikir bahwa pikiran mereka telah dicuri, secara tiba-tiba dan tanpa terduga, oleh suatu kekuatan eksternal.
  • Beberapa pasien yakin bahwa perasaan atau perilaku mereka dikendalikan oleh suatu kekuatan eksternal.
Halusinasi dan gangguan persepsi lain, Para pasien skizofrenia sering kali menuturkan bahwa dunia tampak berbeda dalam satu atau lain cara atau bahkan tidak nyata bagi mereka. Seorang pasien dapat menyebutkan berbagai perubahan dalam cara tubuh mereka merasakan sesuatu, atau tubuh pasien menjadi sangat tidak memanusia sehingga seolah-olah terasa seperti mesin. Distrosi persepsi yang paling dramatis adalah halusinasi, yaitu suatu pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan. Yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditori, bukan visual; 74 persen dari suatu sampel menuturkan mengalami halusinasi auditori (Sartorius dkk.,1974; Davison dkk., 2006. Beberapa halusinasi dianggap sangat penting secara diagnostik karena lebih sering terjadi pada para pasien skizofrenia dibanding pada para pasien psikotik lainnya. Tipe-tipe halusinasi tersebut antara lain:
  • Beberapa pasien skizofrenia menuturkan bahwa mereka mendengar pikiran mereka diucapkan oleh suara lain.
  • Beberapa pasien mengklaim bahwa mereka mendengar suara-suara yang saling berdebat.
  • Beberapa pasien mendengar suara-suara yang mengomentari perilaku mereka.
Simtom Negatif
Simtom-simtom negatif skizofrenia mencakup berbagai defisit behavioral, seperti avolition, alogia, anhedonia, afek datar, dan asosialitas. Simtom-simtom ini cenderung bertahan melampaui suatu episode akut dan memiliki efek parah terhadap kehidupan para pasien skizofrenia. Simtom-simtom ini juga penting secara prognostik; bayaknya simtom negatif merupakan predictor kuat terhadap kualitas hidup yang rendah (a.l., ketidakmampuan bekerja, hanya memiiki sedikit teman) dua tahun setelah dirawat di rumah sakit (Ho dkk.,1998; Davison, 2006). Berikut adalah penjelasan mengenai simtom-simtom negatif di atas(Davidson, 2006).
  • Avolition. Apati atau avolition merupakan kondisi kurangnya energy dan ketiadaan minat atau ketidakmampuan untuk tekun melakukan apa yang biasanya merupakan aktivitas rutin. Pasien dapat menjadi tidak tertarik untuk berdandan dan menjaga kebersihan diri, dengan rambut yang tidak tersisir, kuku kotor, gigi yang tidak disikat, dan pakaian yang berantakan. Mereka mengalami kesulitan untuk tekun melakukan aktivitas sehari-hari dalam pekerjaan, sekolah, dan rumah tangga dan dapat menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan duduk-duduk tanpa melakukan apa pun.
  • Alogia Merupakan suatu gangguan pikiran negatif, alogia dapat terwujud dalam beberapa bentuk. Dalam miskin percakapan, jumlah total percakapan sangat jauh berkurang. Dalam miskin isi percakapan, jumlah percakapan memadai, namun hanya mengandung sedikit informasi dan cenderung membingungkan serta diulang-ulang.
  • Anhedonia merupakan Ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan tersebut disebut anhedonia. Ini tercermin dalam kurangnya minat dalam berbagai aktivitas rekreasional, gagal untuk mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain, dan kurangnya minat dalam hubungan seks. Pasien sadar akan simtom-simtom ini dan menuturkan bahwa apa yang biasanya dianggap aktivitas yang menyenangkan tidaklah demikian bagi mereka.
  • Afek Datar. Pada pasien yang memiliki afek data hamper tidak ada stimulus yang dapat memunculkan respons emosional. Pasien menatap dengan pandangan kosong, otot-otot wajah kendur, dan mata mereka tidak hidup. Ketika diajak bicara, pasien menjawab dengan suara datar dan tanpa nada. Afek datar terjadi pada 66 persen dari suatu sampel besar pasien skizofrenia (Sartorius dkk., 1974; Davison dkk., 2006).Konsep afek datar hanya merujuk pada ekspresi emosi yang tampak dan tidak pada pengalaman dalam diri pasien, yang bisa saja sama sekali tidak mengalami pemiskinan.
  • Asosialitas. Beberapa pasien skizofrenia mengalami ketidakmampuan parah dalam hubungan sosial, yang disebut asosialitas. Mereka hanya memiliki sedikit teman, keterampilan social yang rendah, dan sangat kurang berminat untuk berkumpul bersama orang lain. Memang, seperti yang akan kita lihat nanti, manifestasi skizofrenia ini sering kali merupakan yang pertama kali muncul, berawal pada masa kanak-kanak sebelum timbulnya simtom-simtom yang lebih psikotik.
Simtom Disorganisasi
Simtom disorganisasi mencakup disorganisasi pembicaraan dan perilaku aneh.
  • Disorganisasi Pembicaraan
Juga dikenal sebagai gangguan berpikir formal, disorganisasi pembicaraan merujuk pada masalah dalam mengorganisasi berbagai pemikiran dan dalam berbicara sehingga pendengar dapat memahaminya. Meskipun pasien berulang kali merujuk pada beberapa pemikiran atau tema sentral, berbagai citra dan potongan pikiran tidak saling berhubungan; sulit untuk memahami denagn pasti apa yang ingin disampaikan pasien kepada pewawancara.
Bicara juga dapat terganggu karena suatu hal ynag disebut asosiasi longgar, atau keluar jalur (derailment), dalam hal ini pasien dapat lebih berhasil dalam berkomunikasi dengan seorang pendengar namun mengalami kesulitan untuk tetap pada suatu topik.
  • Perilaku Aneh
Perilaku aneh terwujud dalam banyak bentuk. Pasien dapat meledak dalam kemarahan atau konfrontasi singkat yang tidak dapat dimengerti, memakai pakaian yang tidak biasa, bertingkah laku seperti anak-anak atau dengan gaya yang konyol, menyimpan makanan, mengumpulkan sampah, atau melakukan perilaku seksual yang tidak pantas seperti melakukan masturbasi di depan umum. Mereka tampak kehilangan kemampuan untuk mengatur perilaku mereka dan menyesuaikannya dengan berbagai standar masyarakat. Mereka juga mengalami kesulitan melakukan tugas-tugas sehari-hari dalam hidup.
Simtom Lain
Beberapa simtom lain skizofrenia tidak cukup tepat untuk digolongkan ke dalam ketiga kategori yang telah disampaikan. Dua simtom penting dalam kelompok ini adalah katatonia dan afek yang tidak sesuai (Davidson, 2006).
  • Katatonia. Beberapa abnormalitas motorik menjadi cirri katatonia. Para pasien dapat melakukan suatu gerakan berulang kali, menggunakan urutan yang aneh dan kadang kompleks atara gerakan jari, tangan, dan lengan, yang sering kali tampaknya memiliki tujuan tertentu . beberapa pasien menunjukkan peningkatan yang tidak biasa pada keseluruhan kadar aktivitas, termasuk sangat riang, menggerakkan anggota badan secara liar, dan pengeluaran energy yang sangat besar seperti yang terjadi pada mania. Di ujung lain spektrum ini adalah imobilitas katatonik: pasien menunjukkan berbagai postur yang tidak biasa dan tetap dalam posisi demikian untuk waktu yang sangat lama.
  • Afek yang Tidak Sesuai. Beberapa penderita skizofrenia memiliki afek yang tidak sesuai. Respons-respons emosional individu semacam ini berada di luar konteks pasien dapat tertawa ketika mendengar kabar bahwa ibunya baru saja meninggal atau marah ketika ditanya dengan pertanyaan sederhana, misalnya apakah baju barunya cocok untuknya. Para pasien tersebut dapat dengan cepat berubah dari satu kondisi emosional ke kondisi emosional lain tanpa alasan yang jelas.
Diagnosis DSM-IV-TR
  1. Kriteria Skizofrenia dalam DSM-IV-TR
  • Terdapat dua atau lebih simtom-simtom berikut ini dengan porsi waktu yang signifikan selama sekurang-kurangnya satu bulan: waham, halusinasi, disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku atau perilaku katatonik, simtom-simtom negatif.
  • Keberfungsian social dan pekerjaan menurun sejak timbulnya gangguan.
  • Gejala-gejala gangguan terjadi selama sekurang-kurangnya enam bulan; sejurang-kurangnya satu bulan untuk simtom-simtom pada poin pertama dalam bentuk ringan.
Kategori Skizofrenia dalam DSM-IV-TR
Tiga tipe gangguan skizofrenik yang tercantum dalam DSM-IV-TR yaitu disorganisasi, katatonik, dan paranoid pertama kali dikemukakan oleh Kraepelin bertahun-tahun lalu. Deskripsi saat ini mengenai tipe-tipe yang dikemukakan Kraepelin  menunjukkan keragaman besar pada perilaku yang berhubungan dengan diagnosis skizofrenia.
  • Skizofrenia Disorganisasi
Bentuk hebefrenik skizofrenia yang dikemukakan Kraepelin disebut skizofrenia disorganisasi dalam DSM-IV-TR. Cara bicara mereka mengalami disorganisasi dan sulit dipahami oleh pendengar. Pasien dapat berbicara secara tidak runut, menggabungkan kata-kata yang terdengar sama dan bahkan menciptakan kata-kata baru, sering kali disertai kekonyolan atau tawa. Ia dapat memiliki afek datar atau terus-menerus mengalami perubahan emosi, yang dapat meledak menjadi tawa atau tangis yang tidak dapat dipahami. Perilaku pasien secara umum tidak terorganisasi atau tidak bertujuan.
  • Skizofrenia Katatonik
Simtom-simtom skizofrenia katatonik yang paling jelas adalah simtom-simtom katatonik yang disebutkan sebelumnya. Pasien umumnya bergantian mengalami imobilitas katatonik dan keriangan yang liar, namun salah satunya dapat lebih dominan. Para pasien tersebut menolak perintah dan saran dan sering kali menirukan kata-kata orang lain. Onset reaksi katatonik dapat lebih tiba-tiba dibanding onset bentuk-bentuk lain skizofrenia, meskipun orang yang bersangkutan kemungkinan sebelumnya telah menunjukkan semacam apati dan menarik diri dari kenyataan. Anggota badan orang yang mengalami imobilitas katatonik dapat menjadi kaku dan bengkak.
  • Skizofrenia Paranoid
Kunci diagnosis ini adalah adanya waham. Waham kejaran adalah yang paling umum, namun pasien dapat mengalami waham kebesaran, di mana mereka memiliki rasa yang berlebihan mengenai pentingnya kekuasaan,pengetahuan, atau identitas diri mereka. Beberapa pasien terjangkit waham cemburu, suatu keyakinan yang tidak berdasar bahwa pasangan seksual mereka tidak setia. Waham lain seperti dikejar atau dimata-matai juga dapat terlihat jelas. Halusinasi pendengaran yang jelas dan nyata dapat menyertai waham.Para individu yang mengalami skizofrenia paranoid selalu cemas,argumentatif, marah, dan kadang kasar. Secara emosional mereka responsif, meskipun mereka kaku, formal, dan intens kepada orang lain. Mereka juga lebih sadar dan verbal dibanding para pasien skizofrenia tipe lain. Bahasa yang mereka gunakan, meskipun penuh rujukan pada delusi, tidak mengalami disorganisasi.

           Kasus
Saya tinggal dikawasan Grogol di jalan Tawakal raya. Hampir setiap hari jalan itu saya lalui dengan menggunakan kendaraan ataupun jalan kaki. Hampir setiap hari pula saya melihat seseorang di persimpangan antara jalan Tawakal dan jalan Permata. Orang itu menurut saya sangat aneh dari segi perilaku dan penampakan secara fisik. Dari segi perilaku orang tersebut selalu berbicara sendiri seolah – olah ada lawan bicara di depannya.
Selain itu orang tersebut juga sering tertawa atau berteriak tanpa sebab yang jelas. Bahkan sesekali marah kepada orang lain yang melewati jalan itu. Dari segi penampilan fisik sungguh mengerikan. Orang itu memakai baju berlapis – lapis yang sudah sobek dibeberapa bagian. Aksesoris yang dipakaipun tidak kalah banyak. Orang itu memakai topi berlapis dua dan sangat kotor. Terdapat beberapa anting dikupingnya. Orang itu juga membawa tas besar yang sangat kotor. Tidak jelas apa isi dari tas tersebut tetapi terlihat penuh.
Orang itu juga memakai sepatu yang bolong dibagian depannya dan celana yang juga berlapis. Orang itu terlihat tidak terurus sama sekali, terbukti dari kulitnya yang hitam dan kotor. Jika saya melewati orang itu saya akan mencium aroma yang sangat tidak sedap. Tampaknya orang ini tinggal di sembarang tempat dan tidak pernah mandi. Rambutnya kusut dan lepek. Dapat saya katakan bahwa orang ini adalah gelandangan yang mempunyai masalah kejiwaan. Saya berpikir bahwa orang ini mengalami suatu penyakit jiwa yang tidak tertangani dengan baik. Diagnosis dari penyakit jiwa orang ini akan saya bahas di bagian analisis.
Landasan Teori
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “ Skizo “ yang artinya retak atau pecah (split), dan “ frenia “ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (Hawari, 2003). Menurut Kartono (2002, h.243) Skizofrenia adalah kondisi psikologis dengan gangguan disintegrasi, depersonalisasi dan kebelahan atau kepecahan struktur kepribadian, serta regresi aku yang parah. Menurut Strausal et al (dalam iman setiadi, 2006, h. 3) Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini di tandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitf dan persepsi. Sedangkan gejala negatifnya antara lain seperti avolition ( menurunnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar, serta terganggunya relasi personal. Tampak bahwa gejala-gejala skizofrenia menimbulkan hendaya berat dalam kemampuan individu berfikir dan memecahkan masalah, kehidupan afek dan menggangu relasi personal. Kesemuanya mengakibatkan pasien skizofrenia mengalami penurunan fungsi ataupun ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya, sangat terhambat produktivitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain.
Gejala Klinis Skizofrenia
Gejala pertama, Delusi (waham) adalah suatu keyakinan yang salah yang tidak dapat dijelaskan oleh latar belakang budaya pasien ataupun pendidikannya; pasien tidak dapat diyakini oleh orang lain bahwa keyakinannya salah, meskipun banyak bukti yang kuat yang dapat diajukan untuk membantah keyakinan pasien tersebut. Ada beberapa jenis delusi (a) Grandeur (waham kebesaran), dimana pasien yakin bahwa mereka  adalah seseorang yang luar biasa, misalnya artis terkenal, atau seorang nabi, atau bahkan merasa diri Tuhan, (b) Guilt (waham rasa bersalah) dimana pasien merasa bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang sangat besar, (c) Ill health (waham penyakit), dimana pasien yakin bahwa mereka mengalami penyakit yang sangat serius, (d) Jealousy (waham cemburu), dimana pasien yakin bahwa pasangan mereka telah berlaku tidak setia, (e) Passivity (waham pasif), dimana pasien yakin bahwa mereka dikendalikan atau dimanipulasi oleh berbagai kekuatan dari luar, misalnya oleh suatu pancaran sinar radio makhluk mars, (f) Persecution (waham kejar), dimana pasien merasa bahwa mereka dikejar-kejar oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mencelakainya. (g) Poverty (waham kemiskinan), dimana pasien takut mereka mengalami kebangkrutan, dimana pada kenyataannya tidak demikian, (h) Reference (waham rujukan), dimana pasien  merasa bahwa mereka dibicarakan oleh orang lain secara luas, misalnya menjadi pembicaraan masyarakat atau disiarkan di televisi (Arif, 2006).
Gejala kedua adalah Halusinasi.  Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah dimana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat berwujud pengindraan kelima indera yang keliru, tetapi yang paling sering adalah halusinasi dengar (auditori) dan halusinasi penglihatan (visual). Contoh halusinasi: pasien merasa mendengar suara-suara yang mengajaknya bicara padahal pada kenyataannya tidak ada orang lain yang mengajaknya bicara; atau pasien merasa ia melihat sesuatu yang pada kenyataan tidak ada (Arif, 2006).
Gejala ketiga meliputi disorganization speech (pembicaraan kacau). Dalam pembicaraan yang kacau, terdapat asosiasi yang terlalu longgar. Asosiasi mental tidak diatur oleh logika, tetapi oleh aturan-aturan tertentu yang hanya dimilki oleh pasien (Arif, 2006).
Gejala keempat adalah disorganized behavior (tingkah laku kacau), dimana berbagai tingkah laku yang tidak terarah pada tujuan tertentu. Misalnya: membuka baju didepan umum, berulang kali membuat tanda salip tanpa makna, dan lain-lain (Arif, 2006).
Gejala kelima adalah simtom-simtom negative, seperti (a) avoliation—kondisi kurangnya energy dan ketiadaan minat atau ketidakmampuan untuk tekun melakukan apa yang biasanya merupakan aktivitas rutin, (b) alogia—suatu gangguan pikiran negative, (c) anhedonia—ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan yang tercermin dalam kurangnya minat dalam berbagai aktivitas rekreasional, gagal untuk membentuk hubungan dekat dengan orang lain, dan kurangnya minat dalam hubungan seks, (d) afek datar—pada pasien yang memiliki afek datar hampir tidak ada stimulus yang dapat memunculkan respon emosional, dan (e) asosialitas—ketidakmampuan parah dalam hubungan social. Gejala terakhir adalah berkurangnya ekspresi emosi, berkurangnya kelancaran dan isi pembicaraan, kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal (avoliation) (Kring. 2007).
Kriteria diagnostic skizofrenia menurut DSM-IV TR
Paling tidak terdapat enam kriteria diagnostic skizofrenia menurut DSM-IV TR sebagai berikut (a) Simtom-simtom khas, dua atau lebih yang berikut ini, masing-masing muncul cukup jelas selama jangka waktu satu bulan (atau kurang, bila ditangani dengan baik), yaitu halusinasi, delusi, pembicaraan kacau, tingkah laku kacau atau katatonik, dan simtom-simtom negative, (b) disfungsi social/okupasional, (c) durasi, simtom-simtom gangguan ini tetap ada untuk paling sedikit enam bulan. Periode enam bulan ini mencakup paling tidak satu bulan dimana simtom-simtom muncul, (d) tidak termasuk gangguan skizoaffective atau gangguan mood, (e) tidak termasuk gangguan karena zat atau karena kondisi medis, dan (f) hubungan dengan pervasive developmental disorder. Bila ada riwayat autistic disorder atau gangguan PDD lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat bila ada halusinasi atau delusi yang menonjol, selama paling tidak satu bulan (atau kurang bila tertangani dengan baik) (Kring, 2007).
Gejala Predromal dan Residual Skizofrenia
Sebelum seseorang secara nyata aktif (manifest) menunjukkan gejala-gejala skizofrenia, yang bersangkutan terlebih dahulu menunjukkan gejala-gejala awal yang disebut dengan gejala predromal. Sebaliknya bila seseorang penderita skizofrenia tidak lagi aktif menunjukkan gejala-gejala skizofrenia, maka yang bersangkutan menunjukkan gejala-gejala sisa yang disebut gejala residual.
Gejala-gejala predromal atau residual adalah sebagai berikut (a) penarikan diri atau isolasi dari hubungan social (withdrawn), enggan bersosialisasi dan enggan bergaul, (b) hendaya (impairment) yang nyata dalam fungsi peran sebagai pencari nafkah (tidak mau bekerja), siswa/mahasiswa (tidak mau kuliah/sekolah) atau pengatur rumah tangga (tidak dapat menjalankan urusan rumah tangga); kesemuanya itu terkesan malas, (c) tingkah laku aneh dan nyata, misalnya mengumpulkan sampah, menimbun makanan atau berbicara, senyum-senyum dan tertawa sendiri di tempat umum; atau berbicara sendiri tanpa mengeluarkan suara (“komat-kamit”), (d) hendaya yang nyata dalam hygiene (kebersihan/perawatan) diri dan berpakaian, misalnya tidak mau mandi dan berpakaian kumal (berpenampilan lusuh dan kumuh), (e) afek (alam perasaan) yang tumpul atau miskin, mendatar dan tidak serasi (inappropriate), wajahnya tidak menunjukkan ekspresi dan terkesan dingin, (f) pembicaraan yang melantur (disgressive), kabur, kacau, berbelit-belit, berputar-putar (circumstantial) atau metaforik (perumpamaan), (g) ide atau gagasan yang aneh dan tak lazim atau pikiran magis, seperti takhayul, kewaskitaan (clairvoyance), telepati, indera keenam, orang lain dapat merasakan perasaannya, ide-ide yang berlebihan, gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference), dan (h) penghayatan persepsi yang tak lazim, seperti ilusi yang selalu berulang, merasa hadirnya suatu kekuatan atau seseorang yang sebenarnya tidak ada. Berbeda dengan halusinasi, yang dimaksud dengan ilusi adalah pengalaman panca indera dimana ada sumber atau stimulus, namun ditafsirkan salah. Baik gejala prodromal maupun gejala residual sebagaimana diuraikan di muka sewaktu-waktu dapat aktif kembali yang biasanya didahului oleh factor pencetus, yaitu stressor psikososial yang merupakan “provokator”. Oleh karena itu pemberian obat (psikofarmaka) sebaiknya jangan terputus dan secara berkala control kepada dokter.

Kepribadian Pramorbid Skizofrenia
Kepribadian Paranoid
Seseorang yang berkepribadian paranoid menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut (a) kecurigaan dan ketidakpercayaan yang pervasive dan tidak beralasan terhadap orang lain, (b) Hipersensitivitas, dan keterbatasan kehidupan alam perasaan (afektif).
Kepribadian Schizoid
Seseorang yang berkepribadian schizoid menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut (a) terdapat ciri emosional yang dingin dan tidak acuh serta tidak terapatnya perasaan hangat dan lembut terhadap orang lain, (b) sikap yang acuh tak acuh (indifferent) terhadap pujian, kritikan atau perasaan orang lain, tidak menghargai orang lain, (c) hubungan dekat hanya dengan satu atau dua orang saja, termasuk anggota keluarganya, tidak mampu bersosialisasi, dan (d) tidak terdapat pembicaraan, perilaku, atau pemikiran aneh (eksentrik), yang merupakan ciri khas kepribadian skizopital.
Kepribadian Skizopital
Seseorang yang skizopital memiliki gejala-gejal sebagai berikut, yaitu sekurang-kurangnya terdapat 4 dari 8 hal yang berikut ini (a) pikiran magis atau gaib (magical thinking) seperti takhyul yang tidak sesuai budayanya (superstitious), dapat melihat apa yang terjadi (clairvoyance), telepati, indera keenam, “orang lain dapat merasakan perasaan saya” (pada anak-anak dan remaja terdapat preokupasi dan fantasi yang aneh), (b) gangguan mirip waham yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference), merasa segala peristiwa dan kejadian di sekitarnya selalu ada kaitannya atau bersangkut-sangkut dengan dirinya, (c) isolasi social seperti kawan akrab atau orang yang dapat dipercaya, kontak social yang hanya terbatas pada tugas sehari-hari yang seperlunya, kurang mampu bersosialisasi, (d) ilusi yang berulang-ulang, seperti adanya “kekuatan” atau “orang yang sebenarnya tidak ada (misalnya merasa seolah-olah ibunya sudah meninggal berada bersama dirinya dalam ruangan), depersonalisasi atau derealisasi yang tidak berhubungan dengan serangan panic, (e) pembicaraan yang ganjil (tetapi tidak sampai menjurus kepada pelonggaran asosiasi atau inkoherensi) seperti pembicaraan yang digresif, kabur, bertele-tele, sirkumstansial (berputar-putar), metaforik (perumpamaan), (f) di dalam interaksi (tatap muka) dengan orang lain terdapat hubungan (rapport) yang tidak memadai (inadequate) akibat afek (alam perasaan) yang tidak serasi (inappropriate) atau afek yang terbatas (constricted), misalnya tampak dingin atau tidak acuh, (g) kecurigaan atau ide paranoid, yaitu rasa curiga atau buruk sangka yang tidak rasional, dan (h) kecemasan social yang tidak perlu atau hipersensitivitas yang berlebihan terhadap kritik yang nyata atau dibayangkan.
Kepribadian Ambang
Seseorang yang berkepribadian ambang menunjukkan gejala sebagai berikut (a) impulsivitas atau perubahan yang tidak dapat diduga, setidak-tidaknya dalam dua aspek yang dapat merugikan diri, misalnya boros, hubungan seks, berjudi, penggunaan zat, mencuri di toko, makan berlebihan, dan tindakan cedera diri, (b) ada pola hubungan interpersonal yang dalam (intense) dan tidak stabil, seperti perubahan hebat pada sikap, menyanjung, merendahkan, manipulasi (secara konsisten menggunakan orang lain untuk kepentingan diri sendiri), (c) kemarahan hebat dan tidak wajar, kurangnya pengendalian terhadap kemarahan, misalnya uring-uringan, kemarahan yang menetap, (d) gangguan identitas yang bermanifestasi dalam ketidakpastian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan identitas, misalnya citra diri, identitas gender, cita – cita jangka panjang atau pemilihan karier, pola persahabatan, nilai-nilai dan loyalitas, misalnya “siapakah saya?”, “saya merasa seperti kakak saya bila saya sedang senang”, (e) alam perasaan (mood affect) yang tidak mantap ditandai oleh perubahan hebat dari afek (mood) yang normal menjadi depresi, iritabilitas (mudah tersinggung/marah) atau cemas, biasanya berlangsung beberapa jam dan (sangat jarang) sehingga beberapa hari, dan kembali ke alam perasaan yang normal, (f) tidak tahan bila sendirian, misalnya ia berusaha keras untuk tidak berada sendirian, merasa depresif apabila berada sendirian, (g) tindakan yang mencederai diri sendiri, misalnya usaha bunuh diri, mutilasi diri, kecelakaan berulang kali atau perkelahian fisik, dan (h) perasaan kosong atau rasa bosan (jenuh) yang berkepanjangan (menahun/kronik).
Tipe-tipe skizofrenia
Skizofrenia tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia ini adalah adanya waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afek yang relative masih terjaga. Ciri-ciri dari tipe disorganized dan katatonik (misalnya bicara yang kacau) tidak menonjol. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain muncul. Wahamnya mungkin lebih dari satu, tetapi tersusun dengan rapi di tema utama. Halusinasi juga biasanya berkaitan dengan tema wahamnya (Kring, 2007).
Ciri-ciri lain misalnya, anxiety, kemarahan, menjaga jarak dan suka beragumentasi. Individu mungkin mempunyai tingkah laku superior dan memimpin dan mungkin mempunyai interaksi interpersonal yang kaku, formal, atau terlalu intens. Tema waham kejar bisa menjadi predisposisi bagi individu untuk bunuh diri, dan kombinasi antara waham kejar dengan waham kebesaran dengan disertai kemarahan bisa menjadi predisposisi bagi tindakan kekerasan. Onset biasanya di usia lebih lanjut dibandingkan tipe skizofrenia lainnya, dan ciri khas lainnya mungkin menjadi lebih stabil dengan berlangsungnya waktu. Individu mungkin hanya menunjukkan sedikit atau tidak sama sekali kerusakkan dalam tes neuropsikosis ataupun tes kognitif. Beberapa bukti mendukung bahwa prognosa untuk tipe skizofrenia ini lebih baik, terutama berkenaan dengan fungsi mencari nafkah dan kemampuan untuk mandiri (Kring, 2007).
Kriteria diagnosis untuk skizofrenia tipe paranoid adalah apabila suatu jenis skizofrenia memenuhi kriteria, (a) preokupasi dengan satu atau lebih waham atau sering mengalami halusinasi auditorik dan (b) tidak ada ciri berikut yang mencolok: bicara kacau, motorik kacau atau katatonik, afek yang tidak sesuai atau datar (Kring, 2007).
Skizofrenia tipe Disorganized
Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek datar atau inappropriate. Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat berkaitan dengan isi pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku (misalnya: kurangnya orientasi pada tujuan) dapat membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari (Kring, 2007). Kriteria diagnostik skizofrenia tipe disorganized adalah sejenis skizofrenia dimana kriteria-kriteria berikut terpenuhi dan semua gejala berikut ini mencakup menonjol, yaitu (a) pembicaraan kacau,(b) tingkah laku kacau, (c) afek datar atau inappropriate, dan (d) tidak memenuhi criteria untuk tipe katatonik (Kring, 2007).
Skizofrenia tipe Katatonik
Ciri utama pada skizofrenia tipe katatonik adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (motoric immobility), aktivitas motor yang berlebihan, negativism yang ekstrem, mutism (sama sekali tidak mau bicara dan berkomunikasi), gerakan – gerakan yang tidak terkendali, echolalia (mengulang ucapan orang lain) atau echopraxia (mengikuti itngkah laku orang lain). Motorik immobility dapat dimunculkan berupa catalepsy (waxy flexibility—tubuh menjadi sangat flexibility untuk digerakkan atau diposisikan dengan berbagai cara, sekalipun untuk orang biasa posisi tersebut akan sangat tidak nyaman (Kring, 2007).
Kriteria diagnostik skizofrenia tipe katatonik adalah sejenis criteria dimana gambaran klinis disominasi oleh paling sedikit dua dari gejala berikut ini (a) motorik immobility (ketidakbergerakan motorik) sebagaimana terbukti dengan adanya catalepsy (termasuk waxy flexibility) atau stupor (gemetar), (b) aktivitas motor yang berlebihan (yang tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal), (c) negativism yang ekstrim (tanpa motivasi yang jelas, bersikap sangat menolak pada segala instruksi atau mempertahankan postur yang kaku untuk menolak dipindahkan) atau mutism (sama sekali diam), (d) gerakan yang khas dan tidak terkendali, dan (e) echolalia (menirukan kata-kata orang lain) atau echopraxia (menirukan tingkah laku orang lain) (Kring, 2007).
Skizofenia tipe Undifferentiated
Sejenis skizofrenia dimana gejala-gejala yang muncul sulit digolongkan pada tipe sizofrenia tertentu. Kriteria diagnostic untuk skizofrenia tipe undifferentiated adalah sejenis skizofrenia dimana simtom – simtom memenuhi kriteria tipe A, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia tipe paranoid, disorganized ataupun katatonik (Kring, 2007).
Skizofrenia tipe Residual
Diagnosis skizofrenia tipe residual diberikan bilamana pernah ada paling tidak satu kali episode skizofrenia, tetapi gambaran klinis saat ini tanpa simtom positif yang menonjol. Terdapat bukti bahwa gangguan masih ada sebagaimana ditandai oleh adanya negatif simtom atau simtom positif yang lebih halus (Kring, 2007).
Kriteria diagnostic untuk skizofrenia tipe residual adalah sejenis skizofrenia dimana criteria – criteria berikut ini terpenuhi, (a) tidak ada yang menonjol dalam hal delusi, halusinasi, pembicaraan kacau, tingkah laku atau tingkah laku katatonik dan (b) terdapat bukti keberlanjutan gangguan ini, sebagaimana ditandai oleh adanya simtom – simtom negative atau dua atau lebih simtom yang terdaftar di criteria A untuk skizofrenia, dalam bentuk yang lebih ringan (Kring, 2007).
Skizofrenia Tipe Tak Tergolongkan
Tipe ini tidak dapat dimasukkan dalam tipe yang telah diuraikan dimuka, hanya gambaran klinisnya terdapat waham, halusinasi, inkoherensi, atau tingkah laku kacau. Bagi pihak keluarga gejala-gejala tersebut di atas cukup jelas untuk dikenali, dan karenanya yang bersangkutan sebaiknya segera dibawa berobat agar tidak bertambah parah (Kring, 2007).
Gangguan Skizofrenia Lainnya
Skizofrenia Simpleks
Suatu bentuk psikosis (gangguan jiwa yang dimulai dengan terganggunya realitas/RTA dan pemahaman dari insight yang buruk) yang perkembangannya lambat dan perlahan-lahan dari perilaku yang aneh, ketidakmampuan memenuhi tuntutan masyarakat, dan penurunan kemampuan/ketrampilan total. Tidak terdapat waham atau halusinasi. Dengan bertambahnya kemiskinan hubungan social, dapat menjurus ke arah kehidupan gelandangan dan orang itu menjadi terbenam dalam dirinya, bermalas-malas dan tidak ada pengarahan dan tujuan hidupnya. Penderita skizofrenia simpleks ini banyak terdapat di jalan-jalan dan di tempat-tempat kumuh dengan pakaian seadanya yang lusuh (hampir telanjang) dan tubuh yang kotor (tidak pernah mandi dan merawat diri). Penderita skizofrenia simpleks ini secara social disebut juga sebagai :gelandangan psikotik” yang memerlukan penampungan social misalnya di panti rehabilitasi social guna memperoleh terapi dan rehabilitasi agar mereka tidak menggelandang lagi.
Gangguan Skizofreniform (Episode Skizofrenia Akut)
Gambaran klinis skizofreniform ini sama dengan skizofrenia, perbedaannya adalah bahwa fase-fase perjalanan penyakitnya (fase aktif, prodromal dan residual) kurang dari 6 bulan tetapi lebih lama dari 2 minggu. Secara klinis penderita lebih menunjukkan gejolak emosi dan kebingunan seperti dalam keadaan mimpi (dreamlike state). Tipe atau kelompok ini gambaran klinisnya cenderung untuk timbul dan hilang (resolution) secara segera (akut). Diobati atau tanpa diobati gangguan jiwa tipe ini dapat pulih dengan sendirinya. Atau dengan kata lain gangguan skizofreniform ini adalah gangguan jiwa yang mirip skizofrenia, disebut sebagai Episode Akut Skizofrenia, namun bila perjalanan penyakitnya berlanjut lewat 6 bulan barulah dikatakan sebagai skizofrenia. Pihak keluarga hendaknya tetap mewaspadai gangguan jiwa ini selagi belum melampaui kurun waktu 6 bulan dan perlu berkonsultasi pada dokter (psikiater) agar perjalanan penyakitnya tidak berlanjut menjadi gangguan jiwa skizofrenia.
Skizofrenia Laten
Hingga kini belum terdapat suatu kesepakatan yang dapat diterima secara umum untuk memberi gambaran klinis kondisi ini; oleh karenanya kategori ini tidak dianjurkan unutk dipakai secara umum. Meskipun demikian gambaran yang dapat dicatat antara lain perilaku yang eksentrik atau tidak konsekuen dan keanehan alam perasaan yang memberi kesan seperti skizofrenia. Meskipun demikian sebaiknya pihak keluarga berkonsultasi kepada dokter (psikiater) agar yang bersangkutan dapat diterima secara social dan berfungsi secara produktif dan bila perlu mendapat terapi psikiatrik yang memadai agar penyakitnya tidak berlanjut menjadi aktif (gejala-gejala skizofrenia).
Gangguan Skizoafektif
Gambaran klinis tipe ini didominasi oleh gangguan pada alam perasaan (mood, affect) disertai waham dan halusinasi. Gangguan alam perasaan yang menonjol adalah perasaan gembira yang berlebihan (maniacal) dan atau kesedihan yang mendalam (depresi) yang silih berganti. Pihak keluarga hendaknya mewaspadai perubahan – perubahan alam perasaan yang ekstrim ini, yaitu di suatu saat dalam kondisi ini depresif. Dalam kondisi ini maniacal yang bersangkutan seringkali lepas kendali dan melanggar rambu – rambu moral etika social (perbuatan/tingkah laku yang memalukan); sedangkan jika ia dalam kondisi depresif, ia dapat menimbulkan tindakan bunuh diri. Gejala gangguan – gejala gangguan skizoafektif ini cukup jelas dikenali oleh pihak keluarga, dan karenanya perlu segera dibawa ke dokter (psikiater).
ANALISIS
Orang ini adalah penderita skizofrenia jalanan yang terlantar. Tidak ada perawatan  yang didapatkan oleh penderita yang satu ini. Dari hasil analisis yang didapatkan menunjukkan bahwa penderita yang satu mengalami skizofrenia simpleks. Skizofrenia simpleks merupakan salah satu jenis dari Skizofrenia. Gangguan jiwa jenis ini timbul pertama kali pada masa pubertas dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan (Maramis, 1998). Diagnosis Skizofrenia simpleks sulit secara meyakinkan karena tergantung kepada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan-lahan dan progresif dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia, tanpa didahului oleh riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. Disertai dengan perubahan – perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup dan penarikan diri secara sosial ( PPDGJ – 3,2001 ).
Skizofrenia simpleks merupakan suatu bentuk psikosis (gangguan jiwa yang dimulai dengan terganggunya realitas/RTA dan pemahaman dari insight yang buruk) yang perkembangannya lambat dan perlahan-lahan dari perilaku yang aneh, ketidakmampuan memenuhi tuntutan masyarakat, dan penurunan kemampuan/ketrampilan total. Tidak terdapat waham atau halusinasi. Dengan bertambahnya kemiskinan hubungan social, dapat menjurus ke arah kehidupan gelandangan dan orang itu menjadi terbenam dalam dirinya, bermalas – malas dan tidak ada pengarahan dan tujuan hidupnya. Penderita skizofrenia simpleks ini banyak terdapat di jalan-jalan dan di tempat-tempat kumuh dengan pakaian seadanya yang lusuh (hampir telanjang) dan tubuh yang kotor (tidak pernah mandi dan merawat diri). Gejala ini sangat cocok dengan keadaan orang yang saya lihat di persimpangan jalan. Penderita skizofrenia simpleks ini secara social disebut juga sebagai “gelandangan psikotik” yang memerlukan penampungan social misalnya di panti rehabilitasi social guna memperoleh terapi dan rehabilitasi agar mereka tidak menggelandang lagi.
Skizofrenia simpleks kurang jelas psikotiknya dibandingkan dengan sub tipe skizofrenia jenis lainnya. Penyebab Skizofrenia simpleks secara umum sama sebagaimana skizofrenia, yakni meliputi beberapa faktor:
1.    Keturunan
2.    Sistem endokrin
3.    Sistem metabolisme
4.    Susunan syaraf pusat
5.    Teori Adolf Meyer
6.    Teori Sigmund Freud
7.    Eugen Bleuler.
8.    Skizofrenia sebagai suatu sindroma
9.    Skizofrenia suatu gangguan psikosomatik.
KESIMPULAN
     Orang ini adalah penderita skizofrenia jalanan. Penderita ini adalah penderita yang mengidap skizofrenia tingkatan atas atau yang paling parah. Karena penderita yang satu ini jarang bahkan tidak pernah mendapatkan perawatan. Tidak ada pemberian obat – obatan atau terapi. Sehingga hari demi hari skizofrenia yang ia derita makin bertambah parah. Orang seperti ini banyak kita jumpai di jalanan seperti pasar, terminal kendaraan umum, dan tempat – tempat umum lainnya.
Penderita yang satu ini merupakan penderita yang paling membuat hati saya terenyuh ketika melihatnya. Karena ia hidup menggelandang di jalanan. Tidak ada perawatan yang ia dapatkan sehingga keadaannya begitu parah. Saran saya untuk hal ini lebih ditujukan kepada pemerintah, masyarakat, pihak swasta, dan seluruh elemen yang ada.
Pemerintah melalui dinas sosial dan dinas kesehatannya harus bergerak cepat untuk mengatasi hal ini. Dengan cara melakukan razia terhadap penderita yang menggelandang di jalan. Masyarakat harus aktif membantu pemerintah dengan memberitahukan pemerintah jika melihat penderita di jalanan atau di tempat umum lainnya. Pihal swasta harus senantiasa memberikan andil dengan cara melakukan bakti sosial, sumbangan dalam bentuk materi ataupun non materi. Serta seluruh elemen yang ada harus memberikan perhatian khusus pada hal ini. Karena hal ini merupakan fenomena sosial luar biasa yang terjadi di sekitar kita. Kita hendaknya tidak membiarkan mereka hidup sengsara sedangkan kita hidup dengan nyaman dan aman. Tentunya kita harus merasakan ketidaknyamanan juga ketika kita melihat penderita ini berkeliaran di jalan atau tempat umum lainnya. Sebagai sesama manusia semestinya dan sudah seharusnya kita memberikan perhatian yang layak kepada penderita yang satu ini. Karena kita makhluk sosial yang harus memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan seperti mereka ini. Tiada arti hidup tanpa memberikan manfaat kepada orang lain. Sebaik – baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
Skizofrenia (schizophrenia) adalah gangguan dengan serangkaian simtom yang meliputi gangguan konteks berfikir, bentuk pemikiran, persepsi, afek, rasa terhadap diri (sense of self), motivasi, perilaku, dan fungsi interpersonal. Skizofrenia menyentuh setiap aspek kehidupan dari orang yang terkena. Episode akut dari skizofrenia ditandai dengan waham, halusinasi pikiran yang tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Diantara episode-episode akut, orang yang mengalami skizofrenia mungkin tetap tidak dapat berfikir secara jernih dan mungkin kehilangan respons emosional yang sesuai terhadap orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.
Skizofrenia biasanya berkembang pada masa remaja akhir atau dewasa awal, tepat pada saat orang mulai keluar dari keluarga menuju dunia luar (Cowan & Kandel, 2001; Harrop & Tower, 2001). Orang yang mengidap skizofrenia semakin lama semakin terlepas dari masyarakat. Merek gagal untuk  berfungsi sesuai peran yang diharapkan sebagai pelajar, pekerja, atau pasangan, dan keluarga serta komunitas mereka menjadi kurang toleran terhadap perilaku mereka yang menyimpang. Gangguan ini biasanya berkembang pada akhir masa remaja atau awal usia 20 tahun-an, pada masa di mana otak sudah mencapai kematangan yang penuh. Pada sekitar tiga dari empat kasus, tanda-tanda pertama dari skizofrenia tampak pada usia 25 tahun (Keith, Reiger & Rae, 1991).
Pada beberapa kasus, munculnya (mulai terjadinya) gangguan tergolong akut. Hal ini terjadi secara tiba-tiba, dalam beberapa minggu atau bulan. Individu mungkin sebelumnya apat menyesuaikan diri secara baik dan kalaupun ada hanya sedikit menunjukan gangguan tingkah laku. Kemudian perubahan yang cepat dalam kepribadian dan perilaku membawanya pada episode psikotik akut.
Pada kebanyakan kasus, terjadi penurunan yang lebih perlahan dan berangsur-angsur dalam fungsi individu. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun sebelum perilaku psikotik muncul, meskipun tanda-tanda awal dari kemunduran mungkin dapat diamati. Periode kemunduran ini disebut sebagai fase prodromal. Hal ini ditandai dengan berkurangnya minat dalam aktivitas sosial dan meningkatnya kesulitan dalam memenuhi tanggung jawab di kehidupan sehari-hari. Pada mulanya, orang-orang semacam ini tampak menjadi kurang peduli akan penampilannya. Mereka tidak mandi secara teratur atau menggunakan pakaian yang sama secara berulang-ulang. Seiring waktu, perilaku mereka menjadi bertambah aneh atau eksentrik. Terjadi penurunan-penurunan dalam perrforma kerja dan tugas sekolah. Pembicaraan mereka semakin tidak jelas dan melantur. Mulanya perubahan-perubahan dalam kepribadian tersebut terjadi secara bertahap sehingga hanya sedikit menarik perhatian dari teman-teman dan keluarga. Hal ini mungkin dianggap sebagai salah satu “fase” yang sedang dilalui oleh orang tersebut. Namun ketika perilaku menjadi semakin aneh- seperti menimbun makanan, mengumpulkan sampah, atau berbicara sendiri di jalan- fase akut dari gangguan dimulai. Simtom-simtom psikotik yang sebenarnya berkembang, seperti halusinasi yang merajalela, waham, dan meningkatnya perilaku yang aneh.
Setelah episode akut, oranng-orang yang mengalami skizofrenia memasui fase residual, dimana perilaku mereka kembali pada tingkat sebelumnya yang merupakan karakteristik dari fase prodromal. Meskipun perilaku psikotik yang mencolok mungkin tidak muncul selama fase residual, orang tersebut tetap dapat terganggu oleh perasaan apatis yang dalam ,oleh kesulitan dalam berfikir atau berbicara dengan jelas, dan menyimpan ide yang tidak biasa, seperti keyakinan tentang telepati atau pandangan akan masa depan. Pola perilaku seperti ini mempersulit individu untuk memenuhi peran sosial yang diharapkan seperti mencari nafkah, pasangan dalam dalam pernikahan, atau siswa. Kembalinya seseorang secara penuh pada perilaku normal adalah tidak biasa namun terjadi pada beberapa kasus. Yang lebih umum adalah berkembanganya pola kronis, yang ditandai dengan terjadinya episode-episode psikotik akut dan berlanjutnya hendaya kognitif, emosional, dan motivasional antarepisode (Wiersma dkk., 1998; USDHHS, 1999a).
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas, yang ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Defisit residual dalam area kognitif, emosional, dan sosial dari fungsi-fungsi yang ada sebelum epsode akut. Skizofrenia diyakini mempengaruhi sekitar 1% dari populasi.
Skizofrenia biasanya berkembang pada akhir masa remaja akhir atau awal masa dewasa. Kemunculannya bisa mendadak ataupun perlahan-lahan. Kemunculan yang perlahan-lahan diawali oleh fase prodromal, suatu periode deteriorasi secara perlahan-lahan yang mengawali kemunculan dari simtom-simtom yang akut. Episode akut, yang mungkin terjadi secara berkala sepanjang kehidupan, ditandai oleh simtom psikotik yang jelas, seperti halusinasi dan waham. Antara episode-episode akut, gangguan ditandai oleh fase residual di mana tingkat fungsi seseorang serupa dengan apa yang muncul selama fase prodromal.
Model diatesis stres mengemukakan bahwa skizofrenia berasal dari interaksi antara predisposisi genetis dan stresor lingkungan (misalnya, konflik keluarga, perlakuan yang salah pada anak, deprivasi emosional, hilangnya figur-figur pendukung, trauma otak di awal kehidupan).
Faktor-faktor keluarga seperti penyimpangan komunikasi dan ekpresi emosi mungkin berperan sebagai sumber stres yang meningkatkan risiko berkembangnya atau berulangnya kembali skizofrenia pada orang-orang yang memiliki predisposisi genetis.
Perawatan kontemporer cenderung menyeluruh, menggabungkan antara pendekatan psikofarmakologis dan psikososial. Pengobatan antipsikostik bukanlah penyembuh namun cenderung menghambat aspek-aspek gangguan yang lebih mencolok dan mengurangi kebutuhan akan perawatan rumah sakit serta risiko episode yang berulang.
Jenis-jenis intervensi psikososial yang menunjukan hasil yang menunjukan adalah pendekatan yang pada prinsipnya berdasarkan prinsip belajar, seperti sistem token ekonomi dan pelatihan keterampilan sosial. Hal-hal tersebut dapat membantu meningkatkan perilaku adaptif pada pasien skizofrenia. Pendekatan rehabilitasi psikososial membantu orang-orang yang menderita skizofrenia beradaptasi secara lebih berhasil terhadap pekerjaan dan peran-peran sosial di komunitas. Program intervensi keluarga membantu keluarga untuk melakukan coping terhada beban merawat, berkomunikasi secara lebih jelas, dan belajar cara-cara yang lebih membantu dalam berhubungan dengan pasien.

KESIMPULAN
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang sifatnya merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi, pembicaraan, emosional, dan gangguan perilaku. Gangguan psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi. Faktor-faktor penyebab skozofrenia meliputi faktor biologis, psikologis, lingkungan dan organis. Sedangkan gangguan psikotik disebabkan oleh faktor organo-biologik, psikologik, sosio-agama. Secara umum ciri-ciri skizofrenia yaitu gangguan delusi, halusinasi, disorganisai, pendataran afek, alogia, avolisi, anhedonia. Ciri-ciri gangguan psikotik diantaranya memiliki labilitas emosional, menarik diri dari interaksi sosial, mengabaikan penampilan dan kebersihan diri, mengalami penurunan daya ingat dan kognitif parah, mengalami kesulitan mengorientasikan waktu, orang, tempat, memiliki keengganan melakukan segala hal serta memiliki perilaku yang aneh. Tipe skizofrenia dikelompokkan menjai tipe paranoid, katatonik, tak terperinci atau tak terbedakan, residual. Untuk gangguan psikotik sendiri dikelompokkan menjadi tipe psikotik akut dan kronik. Cara Mengatasi skizofrenia antara lain menciptakan kontak sosial yang baik, terapi ECT (electrocompulsive therapy) dan (insulin comma therapy), menghindarkan dari frustrasi dan kesulitan psikis lainnya, membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan mau melihat hari depan dengan rasa berani, memberi obat neuroleptik. Baik gangguan psikotik akut maupun kronik diatasi dengan memberikan asuhan keperawatan pada klien.

DAFTAR PUSTAKA
Buchanan RW, Carpenter WT. Concept of Schizophrenia. In: Sadock BJ, Sadock VA, eds.  Kaplan & Sadock`s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 8th ed. Philadhelpia: Lippincott Williams & Wilkins, 2005.p.1329.
Davison, G.C., Neale, J.M., dan Kring, A.M. (2008).Psikologi abnromal (Noermalasari fajar, penerjemah). Jakarta: PT. Raja Grafiondo Persada. (Tahun terbit buku asli 2000).
Diagnostic and statistical manual of mental disorders (4 ed). (2000). Washinghton DC: American Psychiatric Association.
Durland VM, and Barlow DH. 2007. Essentials of Abnormal Psychology. 3rd edition Pacific Grove, CA: Wadsworth.
Iyus Yosep. Faktor Penyebab dan Proses Terjadinya Gangguan Jiwa. Available at : http://resources.unpad.ac.id/unpad.
Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari  PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
.
Kartono, K. (1989). Psikologi abnormal dan abnromalitas seksual. Bandung: Maju Mundur.
Kartono, K. (2002). Patologi sosial 3: Gangguan-gangguan kejiwaan. Jakarta: PTRaja Grafindo Persada
Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed 2. Surabaya. Airlangga University Press.
Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya.
Nevid, Jeffrey S., & Rathus,Spencer,A., & Greene, B. (2005) Psikologi Abnrmal Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
P.Halgin,Richard., & K. Whitbourne,Susan (2011) Psikologi Abnormal Persektif Klinis pada Gangguan Psikologis Edisi Kedua Jilid 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2003. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
Schizophrenia. www.emedicine.com diakses tanggal 15 oktober 2011.
Schizophrenia. www.merck.com diakses tanggal 15 Oktober 2011.
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Ed 5. Jakarta. EGC.

0 comments:

Post a Comment