26.12.17

TEORI DASAR: CARL GUSTAV JUNG



TEORI DASAR: CARL GUSTAV JUNG


 I R W A N T O
NIM. 163104101125

Pembimbing: Fx. Wahyu Widiantoro, S. Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45Yogyakarta

Carl Gustav Jung adalah seorang ahli psikologi Inggris terkemuka. Beliau lahir pada tanggal 26 Juli 1875 di desa Kesswil (dekat Basel Swiss) di pinggir Danau Konstanz  (Bodensee)1, dan meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnacht (Switzerland).2 Carl Gustav Jung adalah seorang anak laki- laki tunggal dari Paul Jung dan Emilie Jung. Carl Gustav Jung merupakan salah satu keluarga yang berasal dari Kristen Protestan dan  Katolik, dan di besarkan dari keluarga yang sangat Religius. Bapaknya adalah seorang filolog dan pendeta Protestan. Ibunya berasal dari keluarga tua yang menghasilkan banyak pendeta. Paul, bapaknya, kelahiran Jerman dan berasal dari keluarga yang menghasilkan banyak ahli kitab suci, teolog, dan dokter. Beliau mengajar Carl yang kecil itu dengan bahasa Latin, bahasa yang kemudian di baca secara lancar oleh Jung sepanjang hidupnya.


Kakek Jung dari pihak bapak adalah anggota dewan Katolik di kota Meinz (Jerman). Tapi moyangnya menjadi Protestan sebab di pengaruhi oleh Schleiermacher pada tahun 1813. Warisan religius dari dua keluarganya pasti mempengaruhi Jung dalam interesnya yang sangat besar terhadap masalah-masalah religius dalam psikologinya dan mempengaruhi psikologi arketipis tentang Kristus dan psikologi tentang Protestanisme dan Katolisisme.

Dalam famili bapak terdapat juga tradisi atau warisan medis. Bapaknya, Paul Jung, adalah anak dari Dokter Arts, yang terkenal dan bekerja sebagai professor dan dekan di fakultas medis di Universitas Basel (1822). Di Basel Profesor Jung itu mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan mendirikan satu rumah untuk anak-anak yang cacat mentalnya (lemah mentalnya). Moyang medis yang terkenal ini mempengaruhi hidup C.G. Jung, walaupun C.G.Jung sendiri tidak ikut- ikutan saja. Warisan religius dan medis ini sangat penting untuk Jung yang mempersa                                                                    tukan dua pengaruh ini dalam karyanya.

Sepanjang hidupnya, Jung merasa sangat dalam berakar di dalam tradisi familial ini. Ketika Jung berumur empat tahun, keluarganya berpindah ke kota Basel, tempat Jung memulai sekolah dasar, sekolah lanjutan dan menyelesaikannya di universitas di sana. Sebagai anak, Jung merasa sepi dan terasing. Sehingga membuat Jung ingin menutup diri dalam dirinya sendiri, dan selalu suka bermain sendirian.3 Anak ini memberi kesan yang lamban dan malas. Rupanya Jung merasa bosan dengan hidup real dalam dunia kongkret ini, dan melarikan diri dalam dunia khayalan (sampai masa pubertasnya). Memang Carl yang kecil ini sangat sensitif, punya perasaan halus, dan memiliki fantasi yang hidup. Fantasi ni di kobarkan lagi oleh ibunya yang sering membaca cerita dan dongeng-dongeng menarik dari sebuah buku cerita anak-anak, buku cerita yang penuh ilustrasi dewi-dewi agama Hindu. Carl sangat tertarik pada cerita-cerita ini dan pertemuannya dengan dongengdongeng Hindu mempengaruhi minatnya akan agama dan mistik Asia.

Sebagai seorang anak, perhatiannya sangat tertuju pada tingkah laku ambigu dari orang tuanya, seolah-olah pada mereka terdapat kepribadian ganda. Rupanya kedua orang tuanya itu melindungi diri dari desakan dunia batin yang mengancam hidup mereka yang biasa. Ibunya adalah seorang ibu yang ramah tamah, hangat, humoristis, dan bersifat konvensional. Tapi si anak, Carl Gustav Jung, merasa bahwa ibunya pada dasarnya tidak dapat di percayai. Sebab pada ibu tiba-tiba muncul satu kepribadian aneh yang bersifat tak konvensional dan kuasai-medial (seolah-olah prewangan). Bapaknya, Paul Jung, dapat di percayai, tapi rupanya dalam rumah tangga berfungsi sebagai orang yang lemah dan kurang otoritas. Walaupun bapak dapat menarik hati dan toleran tapi toh dia sering depresif dan agresif karena hatinya termakan oleh keraguan religius.
Menurut Carl Gustav Jung, bapaknya kurang mengalami kontak batin dengan Tuhan yang hidup. Sebab itu dalam keraguan bapaknya berpegang kuat pada keagamaan gerejani yang konvensional dan dogmatis, yang tidak boleh direfleksikan secara kritis dalam diskusi teologis. Perkawinan orang tuanya merupakan hubungan antara dua orang yang tidak cocok. Ibunya bersifat ekstravert, dan punya perhatian praktis dan kongkret; sedangkan bapaknya bersifat introvert dan perhatiannya terarah kepada “langit”, penuh dengan Kitab Suci dan hal-hal yang suci. Sebab itu perkawinan mereka penuh dengan ketegangan dan sebenarnya kurang bahagia.

Carl Gustav Jung adalah salah satu psikolog besar pertama yang sangat memperhatikan psikologi orang Timur. Semasa remaja, Jung adalah seorang penyendiri, tertutup dan sedikit tidak peduli dengan masalah sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Dia kemudian di masukkan ke sekolah asrama di Bassel, Swiss. Di sini dia merasa tertekan karena di cemburui teman-temannya. Walaupun awalnya bidang yang di pilih adalah arkeologi, namun dia masuk ke fakultas kedokteran di University of Bassel. Karena bekerja bersama neuorolog terkenal, Kraft-Ebing, dia kemudian menetapkan psikiatri sebagai karier pilihannya.Pada waktu itu Jung mengerti bahwa hanya dalam ilmu psikiatri dapat menemukan sekaligus dua kebutuhan, yakni kebutuhan akan obyektivitas empiris, yang hanya terdapat dalam ilmu eksakta atau ilmu alam, dan kebutuhan akan pengertian subyektif terhadap maksud atau makna seperti yang terdapat dalam ilmu manusia. Mungkin karena ahli schizophreni, Prof. Ernst Bleuler, bekerja di Zurich, maka Jung berangkat pada tahun 1900 ke klinik psikiatris dari Universitas Zurich yang terkenal, yaitu Burgholzli, untuk mendapat latihan psikiatris pasca-universiter. Dalam klinik ini Jung menjadi asisten di bawah pimpinan Prof. Ernst Bleuler dan kemudian menjadi dokter kepala. Sesudah itu pada tahun 1902, mendapat gelar MD atau doktor dengan disertasinya yang berjudul Uber die Psychologie und Pathologie Sogenanter Okkulter Phanomene (“On the Psychologie and Pathology of so-called Occult Phenomena CW I”) Dalam buku ini Jung mengemukakan salah satu konsep dasarnya yakni kesatuan dan keutuhan jiwa yang mendasari semua gejala psikis. Dia juga mengajar di University of Zurich, membuka praktik psikiatri dan menemukan beberapa istilah yang masih tetap dipakai sampai sekarang.

Pada tahun 1902, Jung pergi ke luar negeri, ke kota paris, di mana dia mengikuti kuliah dari psikiater Pierre Janet di klinik Salpetriere dan sesudahnya dia pergi ke London. Jung menganggap Pierre Janet dan Ernst Bleuler sebagai gurunya. Pada tahun 1903, Jung kawin dengan Emma Rauschenbach yang berasal dari Schaffhausen (Swiss). Istrinya ini sampai kematiannya pada tahun 1955 tetap menjadi kawan hidup yang setia, yang melahirkan empat putri dan satu putra dan yang berfungsi sebagai analis atau psikoterapeutis praktis dan teman ilmiah yang menyelidiki Legend Gral (Graals-Legende). Setelah membaca tulisan Freud yang berjudul Interpretation of Dreams, Jung mulai melakukan korespondensi dengan Freud. Setelah sekian lama mengagumi Freud, akhirnya mereka baru bertemu di rumah Freud di Vienna pada tahun 1907. Dalam pertemuan tersebut Freud begitu terkesan dengan kemampuan intelektual Jung dan percaya bahwa Jung dapat menjadi juru bicara bagi kepentingan psikoanalisa karena ia bukan orang Yahudi. Jung juga dianggap sebagai orang yang patut menjadi penerus Freud dan berkat dukungan Freud Jung kemudian terpilih sebagai presiden pertama International Psychoanalytic Association pada tahun 1910. Kisah mereka berdua berlanjut setelah pertemuan pertama ini, bahkan Freud membatalkan kegiatannya hari itu dan mereka ngobrol selama 13 jam. Dampak pertemuan ini sangat luar biasa bagi kedua pemikir ini. Freud akhirnya menyadari bahwa Jung lah putra mahkota psikoanalisis dan pewaris tahtanya.

Karya-karya Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung adalah salah satu psikolog besar pertama yang sangat memperhatikan psikolog orang Timur. Ia adalah seorang tokoh psikologi yang kritis, ulet, dan productif dalama mengemukakan gagasan-gagasan atau ide-idenya, baik yang sudah di bentuk menjadi buku maupun masih berbentuk artikel-artikelnya.

Pemikiran Carl Gustav Jung
Secara garis besar perkembangan pemikiran Carl Gustav Jung bermula pada saat Jung memilih untuk studi kedokteran dan studi ilmu psikiater di universitas Basel dari tahun 1895-1900. Di sana Jung belajar ilmu psikiatris, sebab di satu pihak ia sudah melakukan riset empiris tentang gejala-gejala Occult (gaib) dan spiritisme, dan di pihak lain Jung dapat menemukan ide Krafft Ebbing dalam bukunya Lehrburch der Psychiatrie,bahwa ilmu psikiatri sebagai ilmu memiliki satu sifat yang sangat subyektif dan bahwa penyakit jiwa (psikose) adalah “penyakit kepribadian” dan bukan kerusakan fisiologis otak saja.

Pada waktu itu Jung mengerti bahwa hanya dalam ilmu psikiatri dia dapat menemukan sekaligus dua kebutuhan, yakni kebutuhan akan obyektivitas empiris, yang hanya terdapat dalam ilmu eksakta atau ilmu alam, dan kebutuhan akan pengertian subyektif terhadap maksud atau makna seperti terdapat dalam ilmu manusia. Jung akan selalu berusaha menggabungkan dalam karyanya dua aspek ini, ialah penyelidikan fakta-fakta empiris dan tafsiran makna sebagai cerminan dan struktur kompleks psike atau jiwa.
Jung adalah seorang sarjana dan ilmuwan yang sangat kompeten dan mempunyai suatu pemikiran dan fakta-faktanya di mana-mana : dalam mitos-mitos kuno dan cerita-cerita dongeng modern ; dalam kehidupan primitif dan peradaban modern ; dalam agama Timur dan dunia-dunia Barat ; dalam alkemi, astrologi, telepati jiwa dan kesusastraan, dan kewaskitaan, dalam mimpi-mimpi dan penglihatan orang-orang normal ; dalam antropologi, sejarah, kesusastraan, dan kesenian; dan dalam penelitian klinis dan eksperimental.

Dalam usianya yang ke 85, Jung masih menyempatkan diri dalam berkarya. Salah satu karyanya adalah analisa mengenai adanya mimpi. Mimpi lebih di identikkan sebagai alam tak sadar. Menurut Jung, Manusia mengembangkan kesadaran secara perlahan-lahan dan susah payah dalam suatu proses yang melalui begitu banyak abad 11 Carl Gustav Jung, Masih dalam pemikiran Jung, orang yang menyangkal adanya alam tak sadar sebenarnya beranggapan bahwa pengetahuan tentang psike yang kini ada pada kita sudah lengkap. Dan keyakinan ini justru jelas-jelas salah; sama salahnya dengan anggapan bahwa kita sudah mengetahui semua yang harus di kenal dalam alam semesta.

Psike merupakan bagian dari alam, dan dan rahasianya tidaklah terbatas. Terlepas dari bukti                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                penelitian medis yang terkumpul, ada dasar-dasar logis yang kuat untuk menolak pernyataan seperti “tidak ada alam tak sadar”. Mereka yang mengatakan demikian hanya mengungkapkan satu “misoneisme” usang – ketakutan terhadap hal yang baru dan yang tak di kenal.

Ada sebab-sebab historis yang menimbulkan penolakan terhadap ide tentang bagian tak di kenal dari psike manusia. Kesadaran merupakan hasil penemuan mutakhir dari alam dan masih dalam tahap eksperimental. Kesadaran itu rapuh, terancam oleh bahaya-bahaya tertentu, dan mudah terluka. Sebagaimana di catat oleh para antropolog, salah satu gangguan mental paling umum di kalangan bangsa primitif ialah apa yang di sebut mengalami kehilangan jiwa, berarti keterpecahan kesadaran. Banyak bangsa primitif beranggapan bahwa seorang manusia selain memiliki jiwanya sendiri juga memiliki roh alam dan bahwa roh alam ini bisa menjelma dalam bentuk seekor binatang buas atau sebatang pohon, dengan binatang atau pohon itu individu manusia memiliki semacam identitas psikis. Inilah yang di sebut partisipasi mistik oleh etnolog prancis terkemuka, Lucien Levy-Bruhl. Jika roh alam itu seekor binatang, maka binatang itu di anggap semacam saudara bagi orang itu. Seseorang yang bersaudarakan seekor buaya, Misalnya di anggap aman bila berenang di sungai yang penuh buaya. Jika roh alam itu sebatang pohon, maka pohon itu di anggap memiliki sesuatu pengaruh serupa pengaruh orang tua terhadap orang bersangkutan. Dalam kedua contoh itu luka pada roh alam di tafsir sebagai luka pada orangnya.

Menurut Jung, mimpi ialah fantasi- fantasi dangkal, mudah buyar, tak dapat dipercaya, kabur, dan tak pasti.Untuk menjelaskan pandangan Jung, Jung ingin melukiskan bagaimana mimpi
berkembang melewati suatu masa bertahun-tahun, dan bagaimana Jung sampai pada kesimpulan bahwa mimpi merupakan sumber yang universal dan berlimpah untuk menyelidiki kemampuan simbolis manusia.
Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa.
Motivasi awal Jung menyelidiki tipologi manusia adalah keinginannya untuk mengerti dan memahami pandangan Freud tentang gangguan mental sangat berbeda dari pandangan Adler.
Pokok kajian Jung sangat khas adalah mengenai arkhetipe-arkhetipe tiap kejadian. Dalam makalah ini, kami membahas tentag stuktur kepribadian yang terdiri dari ego, ketidaksadaran pribadi, serta ketidaksadaran kolektif.
STRUKTUR KEPRIBADIAN
a. Ego
Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran sadar. Ego melahoirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang, dan berada pada kesadaran.
b. Ketidaksadaran pribadi
Berdekatan dengan ego, yang terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah sadar tetapi kemudian direpresikan, disupresikan, dilupakan atau diabaikan karena terlalu lemah untuk menciptakan kesan. Dalam ketidaksadaran pribadi terdapat kompleks-kompleks yang merupakan kelompok pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan.
c. Ketidaksadaran kolektif
Merupakan gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang, masa lampau tidak hanya meliputi sejarah ras manusia namun juga leluhur pramunusiawi atau nenek moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif hamper sepenuhnya terleps dari segala segi pribadi individu. Semua manusia memiliki keidaksadaran kolektif yang hampir sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan stuktur otak pada semua ras manusia dan disebabkan oleh evolusi umum.
Ketidaksadaran kolektif merupakan pondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun aku, ketidaksadaran pribadi, dan semua hal lain yang diperoleh individu. Apa  yang dipelajari seseorang sebagai hasil dar pengalaman secara substansial dipengeruhi oleh ketidaksadaran kolektif yang melakukan peran mengarahkan atau menyeleksi tingkah laku sejak  awal kehidupan.
Ketidaksadaran memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dipisahkan dari alam sadar, karena dengan dipisahkan itu ia mendapatkan semua materi yang bersifat subliminial yaitu semua hal yang sudah dilupakan, maupun kearifan dan pengalaman selama berabad yang tak terhitung jumlahnya tertanam dalam organ-organ arkhetipenya.
Apabila kebijaksanaan dari ketidaksadaran itu diabaikan oleh ego, maka akan mengganggu proses rasional sadar dengan menguasainya danmembelokkannya
Ke dalam bentuk yang menyimpang. Simtom-simtom, fobia, delusion, irrasionalitas lain berasal dari proses-proses ketidaksadaran yang diabaikan itu.
d. Arkhetipe
Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran (ide) universal yang mengandung unsure emosi yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran atau visi yang dalam kehidupan normal berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi. Asal usul arkhetipe merupakan suatu deposit permanent dalam jiwa dari suatu pengalaman yang secara konstan terulang selama banyak generasi. Misalnya banyak generasi yang telah melihat matahari terbit setiap hari. Pengalaman berulang yang mengesankan ini akhirnya tertanam dalam ketidaksadara kolektif dalam suatu bentuk arkhetipe dewa matahari, badan angkasa yang kuat, berkuasa dan pemberi cahaya.
Arkhetipe-arkhetipe tidak harus berpisah satu sama lain dalam ketidaksadaran kolektif. Mereka saling melengkapi dan berfusi. Arkhetipe pahlawan danarkhetipe laki-laki tua yang bijaksana bisa berpadu menghasilkan “kesatria” seseorang yang dihormati dan disegani karena ia seorang pemimpinberjiwa pahlawan sekaligus arif bijaksana.
Mitos, mimpi, penglihatan-penglihatan, upacara agama, simtom neurotic dan psikotik serta karya senimerupakan sumber pengetahuan paling baik tentang arkhetipe. Diasumsikan terdapat banyak arkhetipe dalam ketidaksadaran kolektif. Beberapa diantaranya yang sudah berhasil diidentifikasikan adalah arkhetipe kelahiran,kelahiran kembali, kematian, kekuasaan ,sihir, kesatuan, pahlawan, anak, Tuhan, setan, laki-laki tua yang bijaksana, ibu pertiwi, binatang.
e. Persona
Persona adalah topeng yang dipakai pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta tuntutan tentang arketipenya sendiri. Ia merupakan peranan yag dibrikan masyarakat kepada seseorang yang diharapkan dimainkan dalam hidupnya. Tujuannya adalah unutk menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan seringkali ia melupakan hakikat kepribadian sesungguhnya. Apabila ego mengidentifikasikan diri dengan persona, maka individu menjadi lebih sadar akan bagian yang dimainkannya daripada perasaanya sesungguhnya. Ia menjasi terasing dari dirinya, dan seluruh kepribadiannya menjadi rata atau berdimensidua. Ia menjadi manusia tiruan belaka, sekedar pantulan masyarakat, bukan seorang manusia otonom.
f. Anima dan Animus
Jung mengaitkan sisi feminis kepribadian pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe feminine pada pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus. Erkhetipe ini ditentukan oleh kelenjar-kelenjar seks dan kromosom namun juga ditentukan pengalaman dimana pria dan wanita hidup berdampingan selama berabad lamanya.
Arkhetipe-arkhetipe tidak hanya menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan cirri-ciri lawan jenisnya tetapi mereka juga dapat tertarik pada lawan jenisnya. Pria memahami kodrat wanita berdasarkan animanya, wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya.
g. Bayang-bayang
Bayang-bayang mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Arkhetipe bayang-bayang mengakibatkan munculnya perasaan, tindakan yang tidak menyenangakan dan patutu dicela masyrakat dalam kehidupan dan tingkah laku. Selanjutnya semua ini bisa disembunyikan dari pandangan public oleh persona atau direpresikan kedalam ketidaksadaran pribadi.
h. Diri (self)
Arkhetipe ini mengungkapkan diri sebagai lambang, dan lambang utamanya adalah mandala atau lingkaran magis.
Diri adalah tujuan hidup, suatu tujuanyang terus menerus diperjuangkan orang tetapi yang jarang tercapai. Ia memotivasikan tingkah laku manusia dn mencarikebulatan, khususnya melalui cara-cara yang disediakan oleh agama. Pengalaman religius sejati merupakan bentuk pengalaman yang paling dekat dengan ke diri (self-hood) yang mampu dicapai oleh kebanyakan manusia. Jung menemuka diri dalam penelitian-penelitian dan observasinya tentang agama Timur, dimana perjuangan kearah kesatuan dan persatuan dunia melalui praktik ritual keagamaan seperti Yoga yang jauh lebih maju daripada agama di kalangan Barat.
i. Sikap
Jung membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian, yakni sikap ekstraversi dan sikap introversi.
Ekstrover adalah kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrover memiliki sifat social, lebih banyak berbuat daripada merenung dan berpikir. Ia juga adalah orang yang penuh motif-motif yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal.
Jung percaya bahwa perbedaan tipe kepribadian manusia dimulai sejak kecil. Jung mengtakan bahwa “tanda awal dari perilaku ekstrover seorang anak adalah kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan dan perhatian yang luar biasa, yang diperankan pada objek-objek, khususnya pada efek yang diperoleh dari objek-objek itu.  Ketakutannya pada obje-objek sangat kecil. Ia hidup dan berpindah antara objek-objek itudengan penuh percaya diri. Karena itu ia bebas bermain dengan mereka dan belajar dari mereka. Ia sangat berani. Kadang ia mengarah pada sikap ekstrem sampai pada tahap risiko. Segala sesuatu yang tidak diketahuinya selalu memikat perhatiannya.
Bentuk neurotic yang sering diderita orang ekstrover adalah hysteria. Hysteria akan semakin besar dan panjang untuk menarik perhatian orang lain dan untuk menimbulkan kesan yang baik bagi orang lain. Mereka adalah orang yang suka diperhatikan, suka menganjurkan, berlebihan dipengaruhi orang lain, suka bercerita, yang kadang mengaburkan kebenaran.
Introvert adalah suatu orientasi kedalam diri sendiri. Secara singkat seorang introvert adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak social. Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada pikiran dn pengalamannya sendiri. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upaya mencukupi dirinya sendiri, sebaliknya orang ekstrover membutuhkan orang lain.
Jung menguraikan perilaku introvert sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari kejadian-kejadian luar, tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang berada di tengah orang banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah orang banyak. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri terhadap pengaruh dunia luar. Ia oran gyang tidak mudah percaya, kadang menderita perasaan rendah diri, karena itu ia gampang cemburu dan iri hati. Ia mengahadapi dunia luar dengan suatu system pertahanan diri yang sistematis dan teliti, tamak sebagai ilmuan, cermat, berhati-hati, menurut kata hati, sopan santun, dan penuh curiga.
Dalam kondisi kurang normal ia menjadi orang yang pesimis da cemas, karena dunia dan manusia sekitarnya siap menghancurkannya. Dunianya adalah suatu pelabuhan yang aman. Tempat tinggalnya (rumah) adalah yang teraman. Teman pribadinya yang terbaik. Karena itu tidak mengherankan orang-orang introvert sering tampak sebagai orang yang cinta diri tinggi, egois, bahkan menderita patologis.
Salah satu tanda introvert pada diri seorang anak  adalah reflektif, bijaksana, tenggang rasa, pemalu, bahkan takut pada objek baru. Sedangkan cirri introvert pada orang dewasa adalah kecenderungan menilai rendah hal-hal atau orang lain.
j. Fungsi Psikologis Kepribadian
  • Perasaan adalah fungsi evaluasi, ia adalah nilai benda-benda yang bersifat positif maupun neatif bagi subjek. Fungsi perasaan memberikan kepada manusia pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kenikmatan dan rasa sakit, amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan dan cinta.
  • Penginderaan adalah fungsi perseptual atau fungsi kenyataan. Ia menghasilkan fakta-fakta konkret atau bentuk representasi dunia.
  • Intuisi adalah persepsi melalui proses-proses tak sadar dan isi di bawah ambang kesadaran. Orang-orang yang intuitif melampaui fakta-fakta, perasaan-perasaan dan ide-ide dalam mencari hakikat kebenaran.
  • Berpikir melibatkan ide-ide dan intelek. Dengan berpikir manusia berusaha memahami hakikat dunia dan dirinya sendiri.
Pikiran dan perasaan disebut fungsi rasio karena mereka memakai akal, penilaian, abstraksi dan generalisasi. Mereka memungkinkan manusia menemukan hukum-hukum dalam alam semesta. Pendriaan dan intuisi dipandang sebagai fungsi irasional karena mereka didasarkan pada persepsi tentang hal yang konkret,khusus, dan aksidental.
DINAMIKA KEPRIBADIAN
Dinamika kepribadian bersifat rentan terhadap pengaruh-pengaruh dan modifikasi dari luar, ia tidak akan mencapai keadaan stabil yang sempurna, hanya bisa bersifat stabil relative.
a. Energi Psikis
Energi psikis merupakan manifestasi kehidupan, yakni energi organisme sebagai system biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain, yakni dari proses metabolic tubuh. Energi psikis tidak dapat diukur atau dirasakan, namun terungkap dalam bentuk daya-daya actual atau potensial. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian,dan perjuangan adalah contoh-contoh dari daya actual dalam kepribadian;disposisi, bakat, kecenderungan, kehendak hati, dan sikap adalah contoh daya potensial.
b. Prinsip Ekuivalensi
Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan unutk menghasilkan suatu kondisi tertentu, maka jumlah yang akan dikeluarkan itu akan muncul di salah satu tempat lain dalam sistem.
Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan dari salah satu system, misalnya ego, maka energi itu akan muncul pada suatu system yang lain, mungkin persona. Atau jika makin banyak nilai direpresikan ke dalam sisi bayang-bayang kepribadian, maka nilai itu akan tumbuh kuat dengan mengorbankan stuktur lain dalam kepribadian.
c. Prinsip Entropi
Prinsip entropi menyatakan bahwa jika dua benda yang berbeda suhunya bersentuhan maka panas akan mengalir dari benda yang suhunya lebih panas ke benda yang suhunya leih dingin. Prinsip entropi yang digunakan Jung unutk menerangkan dinamika kepribadian menyatakan bahwa distribusi energi dalam psikhe mencari keseimbangan. Misalnya orang yang terlalu ekstrovert terpaksa mengembangkan bagian introvert dari kodratnya. Kaidah umum dalam psikologi Jungian adalah setiap perkembangan yang berat sebelah akan menimbulkan konflik, tegangan, tekanan, sedangkan perkembangan yang seimbang dari semua unsur kepribadian akan menghasilkan keharmonisan, relaksasi dan kepuasan.
d. Penggunaan Energi
Seluruh energi psikis digunakan untuk keperluan kehidupannya, dan untuk pembiakan spesies. Ini merupakan fungsi instingtif yang dibawa sejak lahir seperti lapar dan seks.

            DAFTAR PUSTAKA
Gabbard, G.O, 2004, Long Term Psychodynamic Psychotherapy a Basic Text, London, American University Press.
Sabur, Alex, 2003,  Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia. 
Rahayu, Siti, 2006, Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya, Yogyakarta, UGM Press.
Alwisol, 2005, Psikologi Kepribadian, Malang, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang.
Semiun, Yustinus, 2006, Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud, Yogyakarta, Kanisius.
Sumadi Suryabrata, 2005, Psikologi Kepribadian, Jakarta, CV. Rajawali.
Koeswara, E, 1991,  Teori-teori Kepribadian, Bandung,  Eresco.
Bischof, Ledford J, 1970, Interprening Personality Theories,  Harper and Row Publisher, 2nd Edition, New York.
Jaali, H, 2008, Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta.
Rahayu, Siti, dkk. 2006, Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya, Yogyakarta, UGM Press
Koeswara, E, 1991,  Teori-teori Kepribadian, Bandung,  PT. Eresco.
Masrun, 1977,  Aliran-aliran Psikologi, Yogyakarta,  Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Berry, Ruth, 2001, Freud: Seri Siapa Dia, Jakarta, Erlangga. 
Boeree, C.G, 2005, Sejarah Psikolog,  Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Alih Bahasa: Abdul Qodir Shaleh),  Yogyakarta, Primasophie.
Boeree, C. G, 1997, Personality Theories,  Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia, (Alih bahasa, Inyiak Ridwan Muzir),  Yogyakarta,  Primasonhie.
Koeswara, E, 1991, Teori-teori Kepribadian, Bandung,  Eresco.
Supratik, 1993, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Yogyakarta,  Kanisius.
Alwisol, 2005,  Psikologi Kepribadia,  Malang,  Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.  
Payne, Malcolm, 2005, Modern Social Work Theory, Edisi Ketiga, New York, Palgrave Macmillan.
Rahayu, Siti, dkk,  2006,  Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya,  Yogyakarta, UGM Press.
Bimo Walgito, 2010, pengantar psikologi umum, Andi, Yogyakarta.
Neil J. Salkin, 2009, Teori-Teori Perkembangan Manusia, Bandung, Nusa Media.
Calvin s. Hall dan Garden Lindzey, 1993, Teori-Teori Psikodinasmika (klinis),Yogyakarta, Kanisius




0 comments:

Post a Comment