30.11.17

BANTUL DALAM DARURAT BANJIR



BANTUL DALAM DARURAT
BANJIR


I R W A N T O
NIM. 163104101125
FAKULTAS PSIKOLOGI UMUM

Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana, cermati saja kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografisnya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki 17.508 pulau yang terletak di antara dua benua (Asia dan Australia), dan laut (Laut Hindia dan Pasifik), dan merupakan pertemuan 3 lempeng utama dunia yaitu lempeng Indo Australia, Eurasia dan Pasifik. Indonesia pun mempunyai 150 aliran sungai dan 129 gunung api aktif (80 gunung aktif berstatus berbahaya) (Mochtar, 1975). Jenis bencana mencakup bencana alam, penyakit pandemik, kegagalan teknologi dan kecelakaan, serta bencana sosial (seperti kerusuhan atau teror). Buku saku ini akan memaparkan persiapan dan penanggulangan bencana alam yang sering melanda Indonesia yaitu, angin topan, banjir, gempa bumi, kebakaran, kekeringan, letusan gunung berapi, longsor, dan tsunami. Sejak tahun 1980 hingga 2010 telah terjadi 321 kejadian bencana alam, yang terbanyak adalah bencana banjir yang melanda 118 kali. Jumlah korban jiwa secara keseluruhan mencapai 192.474 orang dan kerugian materil hingga 211 trilyun rupiah. Adapun bencana alam terbesar dalam 3 dekade terakhir adalah gempa bumi dan tsunami yang melanda saudara kita di Nangroe Aceh Darussalam di tahun 2004. Pemerintah memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Kesadaran pemerintah terhadap upaya penanggulangan telah dimulai sejak zaman kemerdekaan dan terus berkembang sesuai zaman. Sejak tahun 2008, Peraturan Presiden Ri Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN) diberlakukan. Pembentukannya merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Bersama BNPN, mari kita bersiap menghadapi resiko bencana di Bumi Indonesia (Hardjosoemantri, 1993).
"Ada 132 laporan (bencana) di sejumlah kecamatan, tetapi kami belum memperinci secara detail," kata Manager Pusdalops BPBD Bantul, Aka Lukluk Firmansya2 kepada wartawan, Selasa (28/11/2017). Menurut Aka, akibat bencana ini banyak warga diungsikan. Beberapa titik pengungsian seperti di Desa Sriharjo, Selopamioro, Karangtengah Kecamatan Imogiri, Desa Srimartani Kecamatan Piyungan, Desa Segoroyoso Kecamatan Pleret), dan Desa Muntuk Kecamatan Dlingo. "Untuk total jumlahnya (pengungsi) kami belum tahu. Cuma di Sriharjo (Imogiri) menurut catatan terakhir ada sekitar 200 KK yang mengungsi," jabarnya. Akan melanjutkan, banyak warga terpaksa mengungsi karena di sejumlah titik ketinggian banjir mencapai 1,5 sampai 3,5 meter. Oleh karenanya warga terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Selain banjir, di Bantul juga banyak terjadi longsor seperti di Kecamatan Imogiri, Pundong dan Pleret. Untuk mengantisipasi munculnya korban, BPBD dan kepolisian akhirnya menutup jalan yang dinilai rawan terdampak longsor. "Seperti Jalan Cino Mati yang menghubungkan Pleret dengan Dlingo ditutup sementara. Karena tebing di kanan-kiri jalan labil dan dikhawatirkan terjadi longsor," tutupnya. Hingga beberapa desa yang tergenang air, warga mengungsi di sejumlah titik. Di wilayah Imogiri pengungsian ada beberapa titik seperti wilayah Karangrejek, Pusung Growong dan Karang Tengah. Ratusan warga mengungsi di rumah tetangga dan kerabat serta masjid yang tidak tergenang. Rumah warga tergenang akibat luapan Sungai Oya.

Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menetapkan status tanggap darurat bencana setelah bencana banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan rumah roboh terjadi hampir merata di setiap wilayah di Kabupaten Bantul. "Bapak Bupati (Bantul) hari ini sudah menetapkan status tanggap darurat bencana Kabupaten Bantul, mulai tanggal 29 November sampai dengan 12 Desember 2017," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanto, Rabu 29 November 2017.
Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Sedangkan Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai. Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Definisi banjir adalah keadaan dimana suatu daerah tergenang oleh air dalam jumlah yang besar. Kedatangan banjir dapat diprediksi dengan memperhatikan curah hujan dan aliran air. Namun kadangkala banjir  dapat datang tiba-tiba akibat dari angina badai atau kebocoran tanggul yang dapat disebut banjir bandang. Penyebab banjir mencakup curah hujan yang tinggi; permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut; wilayah terletak pada suatu cekungan  yang dikelilingi perbukitan dengan sedikit resapan air; pendirian bangunan sepanjang bantaran sungai; aliran sungai tidak lancer akibat terhambat oleh sampah; serta kekurangan tutupan lahan di daerah hulu sungai (Hadi, 2005). Meskipun berada di wilayah “bukan langganan banjir”, setiap orang harus tetap waspada dengan kemungkinan bencana alam ini (Prawirosumantri, 1986).
Sebagai langkah persiapan yang harus dilakukan adalah:
  1. Menata daerah aliran sungai dari hulu ke hilir secara terpadu sesuai dengan fungsi lahan.
  2. Pembangunan system pamantauan dari peringatan diri dari wilayah yang sering terkena banjir.
  3. Memasang pompa dan penghalang ombak untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
  4. JANGAN MEMBANGUN RUMAH DI BANTARAN SUNGAI.
  5. JANGAN MEMBUANG SAMPAH KE SUNGAI.
Persiapan di tingkat komunitas adalah:
  1. Bersama aparat setempat membersihkan lingkungan sekitar, terutama pada saluran air atau selokan dari sampah.
  2. Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk pengungsian. Lengkapi dengan fasilitas alat evakuasi, dapur umum, MCK, dan pasokan air bersih.
  3. Bentuklah tim penanggulangan banjir di tingkat warga.
Sedangkan persiapan yang harus dilakukan dalam keluarga adalah:
  1. Bila memungkinkan tinggikan bangunan rumah, buat dinding penghalang bajir, dan lindungi rumah dengan cat waterproof.
  2. Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air.
  3. Buatlah rencana penyelamatan dan komunikasi apabila banjir dating.
  4. Persiapkan ketersediaan air bersih, P3K, dan alat evakuasi standar.
Apabila terjadi banjir, Hal-hal yang harus dilakukan adalah:
  1. Matikan aliran listrik di dalam rumah dan dan hubungi petugas PLN untuk mematikan aliran listrik.
  2. Segera mengamankan barang-barang berharga ke tempat lebih tinggi.
  3. Mengungsi ke daerah yang lebih tinggi sedini mungkin. Apabila akan meninggalkan rumah, pastikan dalam keadaan terkunci dan aman.
  4. JANGAN BERJALAN ATAU BERKENDARA DI ALIRAN BANJIR UNTUK MENGHINDARI TERSERET ARUS.
Hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi banjir adalah:
  1. Secepatnya membersihkan rumah dan halaman dari sisa air banjir, lumpur dan sampah.
  2. Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular, lipan, tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk yang ikut terbawa aliran banjir.
  3. Gunakan antiseptic untuk membunuh kuman penyakit.
  4. Segera gunakan persediaan air bersih untuk mengurangi risiko diaer karena penyakit ini paling sering menjakiti korban banjir.
  5. Terus mengikuti perkembangan informasi mengenai banjir dari media serta petugas di komunitas anda (Hamzah, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Hadi, S. P. 2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hamzah, A. 2008. Penegakan Hukum Lingkungan. Jakarta: Sinar Grafika.
Hardjosoemantri, K. 1993. Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gajah Mada University.
Mochtar, K. 1975. Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada Pers.
Prawirosumantri, S. 1986. Kebijaksanaan Pembangunan Perumahan Dalam Skala Besar, hal. 86-97. Dalam Blaang. C. D (ed) Perumahan Dan Pemukiman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 
DOKUMENTASI
            

0 comments:

Post a Comment