16.10.17

Teori Belajar Sosial Albert Bandura


REVIEW TOKOH ALBERT BANDURA

Nama               : Suci Indah Permata Sari
NIM                : 163104101137
Mata Kuliah    : Psikologi Kepribadian II
Dosen              : FX. Wahyu Widiantoro S, psi

Penerbit           : UMM Press
Penulis             : Alwisol

Teori Belajar Sosial Albert Bandura
Albert bandura mengembangkan teori belajar sosial dari teori behavioristik. Ia merumuskan hakekat bagaimana manusia belajar dari observantional learning (pembelajaran melalui pengamatan). Bandura menggunakan konsep utama dari teori belajarnya mengenai hakekatnya belajar dari kegiatan sosial (interaksi individu dengan yang lainnya) melalui pengamatan terhadap orang lain yang sedang melakukan tindakan atau belajar tanpa melakukan tindakan terlebih dahulu dan tanpa secara langsung mendapatkan reinforcement dan hukuman atas perilaku tersebut. Bandura menerima banyak prinsip teori perilaku, tetapi ia lebih banyak fokus pada efek isyarat pada perilaku dan pada proses mental internal, dengan menekankan efek pemikiran pada tindakan dan pemikiran. Bandura melakukan percobaan mengenai teori belajar sosial dipengaruhi oleh kelompok peneliti aliran teori “belajar behavioristik”. Bandura melihat bahwa hewan yang dipergunakan dalam percobaan memperlihatkan tingkah laku sendiri untuk kebutuhan diri sendiri, bukan percobaan interaksi individu dengan individu atau kelompok. Jadi peneliti aliran teori belajar behavioristik menurutnya berbicara pada tataran sosial.
a. Prinsip Dasar Teori Belajar Sosial Bandura. Bandura membangun teori belajar sosial atas dasar prinsip :
1) Faktor­ yang saling menentukan. Bandura menyatakan bahwa setiap individu pada dasarnya adalah sebuah sistem (self-system). Individu sebagai sebuah sistem menggambarkan perilaku, berbagai faktor pada diri, dan peristiwa-­peristiwa yang dialami dan disaksikan di lingkungan secara bersama­-sama saling mempengaruhi satu sama lain. Berikut ini gambaran bentuk interaksi berbagai faktor pembentuk sistem diri.
2) Kemampuan untuk membuat atau memahami simbol . bandura menggambarkan bahwa manusia mampu memahami dunia secara simbolis melalui gambar-gambar kognitif, jadi orang lebih bereaksi terhadap gambaran kognitif dan sekitar dari pada dunia itu sendiri. Pentingnya kontekstual dalam belajar sosial ditunggangi oleh kemampuan manusia berpikir dan memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk berpikir, maka hal-hal yang telah berlalu dapat disimpan dalam ingatan dan hal-hal yang akan datang dapat pula “diuji” secara simbolis dalam pikiran.
3) Kemampuan berpikir kedepan .Manusia memiliki kemampuan berpikir ke depan, di samping kemampuan mengingat hal-­hal yang sudah pernah dialami, kemampuan berpikir atau mengolah simbol tersebut dapat dimanfaatkan untuk merencanakan masa depan. Orang dapat menduga bagaimana orang lain bisa bereaksi terhadapnya, dapat menentukan tujuan, dan merencanakan tindakan-tindakan yang dapat diambil untuk mencapai tujuannya dengan menggunakan prediksi atau pikiran kedepan, karena biasanya pikiran mengawali tindakan.
4) kemampuan untuk mengalami apa yang dialami oleh orang lain. Manusia mampu belajar dengan cara memperhatikan orang lain berperilaku dan memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Ini yang dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain.
5) Kemampuan mengatur diri sendiri.Manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri. Seberapa giat orang bekerja dan belajar, berapa jam ia harus tidur, bagaiamana bersikap di muka umum, bagaimana mengerjakan pekerjaan kuliah dengan teratur, dan lain-lain merupakan contoh prilaku yang dikendalikan. Perilaku ini tidak dikerjakan untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan standar dan motivasi yang ditetapkan diri sendiri. Meskipun orang akan berpengaruh oleh perilaku orang lain, namun tanggung jawab utama tetap berada pada diri sendiri.
6) Kemampuan untuk berefleksi.Manusia memiliki kemampuan merefleksi diri atau perenungan untuk memikirkan kemampuan diri sendiri. Manusia mampu memantau ide-­idenya sendiri dan menilai kepantasan ide-­ide yang ia miliki sekaligus menilai diri mereka sendiri.
Pembelajaran Pengamatan (Observational Learning) dalam Teori Belajar Sosial Bandura
Karakteristik dari belajar sosial, yang terbukti sangat penting dan efisien adalah seorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model.  Yang disebut model adalah orang-orang yang perilakunya dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Dari sudut pandang Bandura, orang/pengamat tidak hanya sekedar meniru perilaku orang lain (model), namun mereka memutuskan dengan sadar untuk melakukan perilaku yang dipelajari dari mengamati model.
a)   Fase Perhatian
Fase pertama dalam pembelajaran pengamatan ialah memberikan perhatian pada orang yang ditiru.
b)   Fase Pengingatan (retensi)
Agar dapat mengambil manfaat dari perilaku orang lain yang telah diamati, seorang pengamat harus dapat mengingat apa yang yang telah dilihatnya.
c)   Reproduksi
Komponen ketiga dalam proses peniruan adalah mengubah ide gambaran, atau ingatan menjadi tindakan. Pada tahap reproduksi, segala bayangan/citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori para peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa-apa yang telah mereka serap misalnya dengan menggunakan sarana post-test.
d)   Fase Motivasi     
Tahap terakhir dalam proses pembelajaran pengamatan ialah motivasi. berfungsi sebagai reinforcement ‘penguatan’ bersemayamnya segala informasi dalam memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta didik yang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini ada baiknya ditunjukkan bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi atau perilaku

Kelemahan Teori Albert Bandura
Teori pembelajaran Sosial Bandura sangat sesuai jika diklasifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.

 Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui system kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata – mata reflex atas stimulus ( S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri.


Kesimpulan 
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Salah satu asumsi awal dan dasar teori kognisi sosial Bandura adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari berbagai sikap, kemampuan, dan perilaku, serta cukup banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil dari pengalaman tidak langsung. 

0 comments:

Post a Comment