31.5.17

KEBIASAAN MENGHUJAT DI MEDIA SOSIAL = ORANG YANG TIDAK LULUS ‘TOILET TRAINING’ PADA MASA KECILNYA



RESENSI ARTIKEL: TOILET

Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Sepanjang hayat, semua orang tentu mempunyai 8 tugas perkembangan. Tugas perkembangan itu harus dilakukan dan harus lulus. Bila tugas perkembangan pada awalnya gagal dilakukan, maka hal itu akan mempengaruhi tugas perkembangan selanjutnya. Individu akan berperilaku aneh, untuk ‘menebus’ kegagalan tugas perkembangannya pada masa lampau. Konsep tentang tugas perkembangan psikososial ini dikemukakan oleh Erik Erikson (1902-1994), seorang ahli psikologi. Tugas perkembangan tahap pertama, misalnya, adalah anak belajar untuk mempunyai rasa percaya pada orang lain. Bila ia tidak mampu / tidak lulus dalam tugas ini maka ia akan menjadi orang yang selalu curiga (trust vs mistrust). Tugas perkembangan pertama ini terjadi ketika anak berusia 0-1 tahun.


Tugas perkembangan yang dibahas dalam tulisan ini adalah tugas perkembangan kedua yaitu otonomi vs perasaan malu dan ragu-ragu. Tugas ini berlangsung ketika anak berusia 1-3 tahun. Tugas perkembangan ini juga sering disebut dengan fase anal (anus). Pada tahap ini, anak diajar tentang toilet training yaitu semacam pelatihan dari orangtua agar anak mampu mengendalikan keinginanannya untuk membuang kotoran tubuhnya (buang air besar dan air kecil). Membuang kotoran itu harus tepat tempatnya, tepat waktunya, tepat caranya, dan tidak mengganggu orang lain.

Prinsip toilet training yaitu mengajari anak untuk menyadari apa yang dirasakan dalam tubuhnya, dan merencanakan kapan hal yang tidak mengenakkan itu harus dikeluarkan tanpa merugikan orang lain. Anak juga belajar bahwa dirinya tahu tentang kondisinya sendiri dan kondisi lingkungan, sehingga anak belajar bahwa dirinya bisa mengendalikan diri sendiri (otonomi). Anak juga belajar tentang cara-cara bagaimana membuat orang lain menjadi bahagia (tidak mengganggu orang lain).

Agaknya, pelatihan sederhana seperti toiliet training ini ternyata tidak dikuasai oleh mayoritas masyarakat kita. Ini tentu saja sangat menyedihkan. Apa saja contoh perilaku orang-orang yang pada masa kanak-kanaknya tidak lulus toilet training? Dalam artikel ini ada dua perilaku yang akan dibahas.

Perilaku pertama adalah banyaknya anggota masyarakat yang tidak mampu menggunakan toilet di rumah / di tempat umum dengan semestinya. Mendapatkan toilet publik yang bersih adalah seperti mimpi saja. Bahkan toilet di bandara saja tidak kering lantainya, padahal petugas pembersih toilet selalu berjaga di dekat toilet tersebut. Sekolah-sekolah pun jarang mempunyai toilet yang kering lantainya, bersih jambannya, wangi udaranya, terang lampunya, dan terjaga privasinya. Dampaknya, toilet sering menjadi tempat yang paling dibenci / menakutkan bagi kebanyakan anak-anak sekolah. Oleh karena itu tepatlah kiranya bila Steven Kandouw, Wakil Gubernur Sulawesi Utara, mencanangkan Revolusi Toilet. Toilet yang bersih akan membuat masyarakat menjadi sehat, maju, dan membanggakan.

Perilaku kedua yang menggambarkan kegagalan orang-orang dalam toilet training pada masa anak-anak adalah kebiasaan menghujat di media sosial. Media sosial merupakan tempat bagi banyak orang untuk menyumpah, menghujat, memfitnah, menipu, menghasut, dan meneror orang lain. Media sosial digunakan sebagai tempat primitif seperti halnya sungai untuk mengeluarkan hal-hal yang tidak mengenakkan bagi tubuh. Orang primitf yang sudah sangat ingin buang hajat tidak akan berpikir dua kali bila melihat sungai. Ia tidak akan memperhitungkan bahwa tindakannya akan merugikan orang lain. Ia tidak akan sempat berpikir bahwa ‘kotorannya’ akan menularkan penyakit pada orang lain. Ia merasa benar membuang ‘hajat’ di media sosial, karena orang lain juga melakukan hal yang sama. Jadilah media sosial seperti jamban atau sungai yang sangat kotor, bau, dan tidak menyehatkan. Akankah kita juga akan menjadi manusia primitif?


Artikel ini sangat bagus, karena memberi pencerahan kepada pembaca tentang alasan-alasan psikologis bagi perilaku-perilaku tidak bijaksana yang ada di media sosial. Hal ini karena penulis memang mempuanyi latar belakang yang sesuai dengan topik tulisannya. Kalimat-kalimatnya yang disusun juga mudah dipahami. Tulisannya membuat kita semua (termasuk saya) malu, karena telah melakukan hal-hal negatif di media sosial.

Hal-hal yang kurang dari artikel itu adalah hal-hal yang bisa dilakukan bagi pembaca untuk mengurungkan niat ‘membuang hajat’ di media sosial. Penulis tidak melakukannya mungkin karena keterbatasan tempat menulis.


Sumber resensi:

Utami, M.S.S. (2017). Toilet. Kompas. 24 Mei, halaman 6.

0 comments:

Post a Comment