15.4.17

Pacaran Untuk Menikah Atau Menikah Untuk Pacaran



Pacaran Untuk Menikah Atau Menikah Untuk Pacaran
Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Umum II


Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan manusia. Suatu tren baru muncul pada akhir abad 21 ini, terutama pada mudamudi muslim. Setelah sebelumnya muncul suatu tren menikah dini untuk mencegah perzinahan, pada akhirakhir ini berkembang pula suatu mode pernikahan tanpa melalui proses pacaran. Pernikahan tanpa pacaran ini dilakukan baik dengan pasangan pilihan sendiri maupun dengan orang yang dijodohkan. Pernikahan dengan atau tanpa masa pacaran pasti mempunyai sisi positif dan sisi negatifnya. Banyak pendapat, pertentangan dan perdebatan tentang perlu tidaknya masa pacaran sebagai sebuah hubungan heteroseksual maupun dalam hubungannya dengan pernikahan.
Munculnya hubungan pacaran dan menikah karna adanya rasa cinta antar individu satu sama lain, menurut Abraham Maslow seorang tokoh psikologi mengutarakan tentang cinta, ia mengatakan cinta adalah suatu proses aktualisasi diri yang bisa membuat orang melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif dengan cinta seseorang akan mendapatkan kebahagiaan bila mampu membahagiakan orang yang di cintainya.
Banyak kasus tentang berpacaran yang terjadi dikalangan remaja, tujuan mereka berpacaran pun berbeda-beda ada yang hanya sekedar untuk memiliki status saja atau ada juga yang awalnya berkomitmen untuk bisa melanjutkan kejenjang yang lebih serius, namun sayangnya zona pacaran dikalangan remaja ini termasuk bebas, sehingga banyak para remaja yang terjebak akibat pacaran. Berbeda hal nya dengan orang dewasa yang memiliki hubungan dengan lawan jenis karna memiliki tujuan untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius atau menikah, sehingga setelah menikah baru lah mereka menghabiskan waktu berdua atau berpacaran tentunya dengan cara yang telah sah.
Setiap individu tidak bisa menghindar dari kata cinta, dari awal individu lahir hingga sepanjang usianya kata cinta akan selalu mengiringi kehidupannya. Namun cinta yang sehat dan baik akan membawa kebahagiaan seutuhnya bagi setiap individu, sebaliknya cinta yang salah karna nafsu semata akan membawa bencana sendiri bagi pelakunya. Oleh sebab itu menikah pada usia dini juga merupakan wujud pengakuan cinta yang sehat, karna menikah dahulu baru berpacaran bukan berpacaran terlebih dahulu baru menikah.

Daftar Pustaka

Ardhianita iis & Andayani Budi (2008). Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Berpacaran dan Tidak Berpacaran. Jurnal Psikologi, 32(2), 101-111

Budiman, A. S. A. (1999). Hubungan antara Berpikir Positif dan Kepuasan Pernikahan. Skripsi (Tidak Diterbitkan) Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

0 comments:

Post a Comment