20.4.17

Gangguan somatoform



Oleh : Subur Triyono ( 16.310.410.1119 )
Fakultas  : Psikologi
UP'45 Yogyakarta 

Gangguan somatoform sendiri merupakan sekumpulan kondisi yang melibatkan keluhan atas gejala fisik yang seolah-olah memerlukan penanganan medis namun dalam pemeriksaan tidak ditemukan patologis atau abnormalitas fisik untuk menjelaskan keluhannya. DSM-IV-TR
mengklasifikasikan Gangguan Somatoform dalam tujuh subkategori mayor yaitu: (1) Gangguan Somatisasi, (2) Gangguan Somatoform Yang-Tak-Tergolongkan (YTT), (3) Gangguan Konversi, (4) Gangguan Nyeri, (5) Hipokondriasis, (6) Gangguan Dismorfik Tubuh, (7) Gangguan Somatoform lainnya (APA, 2000).
Faktor Psikososial
Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikis dibawah sadar yang mempunyai tujuan tertentu. Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai sutu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai contoh: mengerjakan ke pekerjaan yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (sebagai contoh: kemarahan pada pasangan), atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan (sebagai contoh: nyeri pada usus seseorang).
Beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari rumah yang tidak setabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor sosial, kultural dan juga etnik mungkin juga terlibat dalam perkembangan gangguan somatisasi.
Faktor Biologis
Ditemukan adanya faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer nondominan. Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi.
Contoh kasus
  Budi Santoso Spegawai swasta berusia 30 tahun ini sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin.  Budi juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Dia bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes, namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal.Pria itu tentunya tidak percaya hal tersebut, karena sebenarnya dia merasa ada yang salah memang dengan dirinya. Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Budi disarankan untuk datang ke bagian psikiatri/jiwa karena mungkin ada problem psikis yang melatari keluhannya.
Sumber :
jeffrey S.DKK.2003.Psikologi Abnormal Jilid 1

0 comments:

Post a Comment