1.11.16

DUA PTN MENOLAK, TIGA PTS MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG


Sri Mulyaningsih
Fakultas Psikologi Universitas ’45 Yogyakarta


Sudah menjadi mimpi bagi remaja lulusan sekolah menengah atas bila dapat melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri. Bayangan jenjang karir yang gemilang sudah terpatri pada benak masing – masing. Pandangan bahwa berkuliah di kampus negri dipandang terhormat, dan merupakan siswa – siswa pilihan.
Hal semacam inilah yang juga menjadi keinginan saya 5 tahun silam.
Lulus dengan nilai rerata baik, membuat saya menjadi semangat mendaftar 2 PTN terkemuka di Yogyakarta. Optimisme yang tinggi bahwa saya akan diterima. Segala keperluan berkas sudah disiapkan dan terlegalisir. UGM dan UNY menjadi tujuan utama.

Pengumuman telah terpampang di website maupun surat kabar. Hasilnya, nol besar. Dari kedua PTN tersebut tidak ada keterangan bahwa saya diterima. Seketika juga frustrasi melanda, putus asa mendera, dan semangat hilang. Aku gagal. Perasaan itu sangat kental terasa saat itu. Perasaan tidak berguna dan enggan menuntut ilmu lagi bermunculan. Berprasangka buruk pada sistem penyeleksian. Berprasangka buruk pada pihak Universitas tersebut, dan lain sebagainya. Semua adalah umpatan dalam hati. Memang mungkin Allah tidak menakdirkan untuk menuntut ilmu di Perguruan Tinggi, mungkin juga ditempat lain, pikir ku kala itu. Keputusan akhir adalah saya bekerja.

Dua tahun berselang, keinginan untuk studi lanjut stata 1 kembali hinggap. Sudah terlambat bila akan mendaftar beasiswa ke PTN kembali. Beralih ke perguruan swasta dan mulai mencari peluang – peluang. Dua PTS saya lamar, UST dan UPY. Selama proses mendaftar beasiswa di dua PTS tersebut. Atasan kerja saya juga menyarankan untuk mendaftar di PTS dimana beliau mengajar yaitu, UP’45. Saya pun mendaftar di PTS saran atasan saya ini. Demi, mencari sebanyak – banyaknya peluang – peluang diterima.

Pengumuman diterima hampir bersamaan. Dari ketiga PTS tersebut semua menerima saya. Beasiswa pertama saya terima dari UST pada Prodi Pendidikan Fisika. Beasiswa kedua saya terima dari UPY pada Prodi Pendidikan Matematika. Untuk UP’45 saya tidak melalui jalur beasiswa, sehingga sudah pasti diterima pada Prodi Psikologi, sesuai dengan bidang pekerjaan saya setahun terakhir.

Saat itu kebingungan hebat melanda saya. Dimanakah saya harus berlabuh menimba ilmu?. Dengan segala pertimbangan dan saran dari kerabat terdekat. Hingga menyusun skala prioritasnya juga kelebihan dan kekurangan masing – masing prodi. Saya jatuhkan pilihan pada Psikologi, UP’45.

Kegagalan yang pernah saya rasakan dulu berubah menjadi rasa syukur yang teramat sangat. Bertemu dengan sahabat – sahabat yang hebat. Bertemu dengan dosen – dosen yang luar biasa. Mengeksplore diri menjadi lebih kreatif juga saya dapatkan di Universitas ini. Walau banyak diluar sana yang menganggap miring tentang Universitas ini, namun bagi saya, justru disini saya dapat bebas berekspresi dan menjadi berprestasi.

Bimbingan – bimbingan yang luar biasa hampir 24 jam diberikan oleh para dosen untuk mahasiswanya. Ketelatenan dalam menyampaikan materi membuat kita enggan bila harus absen dari matakulianya. Sikap kekeluargaan yang tercipta membuat ketidaksanggunagn antara mahasiswa dan dosen seperti tidak ada. Suasana kelas yang damai tidak riuh dengan bincang – bincang lirih. Membuat nyaman meyerap ilmu. Keadaan keadaan ini mungkin tidak akan dialami bila ada pada kelas berskala besar seperti dua PTN yang menolak saya tadi.

Kesimpulannya adalah, bahwa Allah sudah menyiapkan sesuatu hal yang indah dibalik setiap kegagalan. Karena kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, dan bisa pula jika kegagalan adalah kunci kita masuk pada pintu kesuksesan.  

0 comments:

Post a Comment