6.1.16

MENJADI GURU UNTUK MURID



RINGKASAN ARTIKEL: MENJADI GURU UNTUK MURID
Chusnul Rizatul Unsha
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
 
 
Kurikulum 2013 yang cenderung administratif telah dihentikan (ditunda). Ujian nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan, dan ada dorongan agar murid naik kelas terus. Siapa yang mengevaluasi murid? Siapa yang memotivasi murid? Jawabannya satu: guru.
Saatnya guru ditantang seberapa mampu kehadirannya mengelola pembelajaran di kelas tanpa bertopeng keramat ujian nasional. Oleh karena itu penting bagi guru 1) menyiapkan diri degan muatan ilmu sebagai isi pelajaran dan 2) mengasah diri terus-menerus dalam membawakan materi di hadapan murid.
Bagaimana mesti mengajar dengan penuh kecintaaan kepada murid? Pertama, pandanglah murid sebagai pribadi yang membutuhkan guru. Jika dipahami seperti itu, maka guru akan lebih merelakan mambantu murid tumbuh dengan pemahamanakan pelajaran. Tidak boleh terjadi di guru hadir di kelas untuk diri sendiri, atau pintar untuk dirinya sendiri.lantas bertepuk dada menganggap nilai-nilai muridnya rendah pada mata pelajarannya.
Kedua, memperkaya variasi metode dan cara penyampaian pelajaran yag efektif untuk muridnya. Kemalasan memahami konteks murid yang dihadapi tampak pada guru yang hanya mengandalkan satu cara pengajarandi kelas.Tidak jarang guru berdalih murid-murid tidak mudah tidak mudah memahami pelajaran karena kemampuan mereka yang rendah. Sementara guru sendiri tidak melakukan Otokritik. Padahal, angka-angka capaian hasil belajar murid sebenarnya mencerminkan kemampuan guru sendiri.

Sumber tulisan:
Kartono, St. (2015). Menjadi Guru untuk Murid . Kedaulatan Rakyat , hal 12 14 Desember

0 comments:

Post a Comment