7.1.16

"Tawuran Demi Eksistensi"



RINGKASAN ARTIKEL: KENAKALAN PELAJAR KINI TAK SEGAN PAKAI SENJATA TAJAM
Chusnul Rizatul Unsha
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Seringnya tawuran pelajar terjadi di wilayah Sleman, tak tanggung-tanggung para oknum pelajar berkelahi antarsekolah ini membekali diri mereka dengan senjata yang membahayakan, bahkan bisa menghilangkan nyawa. Seperti yang terjadi beberpa pekan lalu di Triharjo Sleman. Masyarakat resah karena melihat dua kelompok pelajar berkumpul, lalu melaporkannya kepada polisi. Begitu polisi datang puluhan pelajar tunggang langgang.
Fenomena tawuran dikalangan pelajar di Panasan pekan lalu itu di telusuri oleh Tribun Jogja. Disimpulkan bahwa beberapa pelajar yang ikut dalam kelompok tersebut tidak tahu menahu tentang awal permasalahan antarsekolah tersebut hingga menimbulkan permusuhan antarsekolah. Bahkan mereka mengakui kalo saja berhadapan sendiri-sendiri belum tentu berani. Siswa-siswa itu berkelompok untuk menghadang siswa lain. Salah satu siswa (Deden) mengaku ada peran alumnus dalam memberi doktrin kepada adik kelas. Deden mengakui bahwa ada kepuasan tersendiri saat melukai lawan.
Lain halnya dengan kasus Gondes di Banguntapan Bantul yang mengaku semasa SMA dia sering dimintai tolong untuk menyerang lawan sekolah lain. Bahkan adik-adik kelasnya mau diajak tawuran meski tak tau pokok permasalahannya. Dia sering berkelahi secara individu supaya namanya tenar. Dengan begitu semakin dihargai dikalangan teman sekolahnya ataupun sekolah lain.
Fenomena masayarakat seperti ini adalah bidangnya pembahasan psikologi. Mulai dari psikologi sosial sampai psikologi kepribadian. Para pelajar ini memiliki penyimpangan perilaku sosial yang negatif akibat konformitas yang terjadi di lingkungannya belajar. Apa yang mereka lakukan untuk sebuah ketenaran dan kepuasan yang dilakukan dengan cara yang tidak benar. Sebuah eksistensi dari para remaja yang didapatkan melalui kekerasan merupakan sebuah tindakan yang menyimpang. Ingin perhatian lebih yang bisa jadi tidak ia dapatkan dari tempat yang ia harapkan mendapat perhatian lebih. Emosi remaja terhadap konformitas memang sangat labil dalam usia-usia SMA. Karna pada masa ini, seorang anak mengalami proses Social Competition, yang mana anaka akan ingin terlihat menonjol dan berkompetisi.
Sumber tulisan:
nto. (2015). Berkelahi Untuk Eksistensi . Tribun Jogja , 11 Desember

0 comments:

Post a Comment