15.4.17

PERILAKU MENYONTEK DITINJAU DARI KEPERCAYAAN DIRI


PERILAKU MENYONTEK DILIHAT DARI KEPERCAYAAN DIRI
Fahrunisa Yeni Astari
16.310.410.1156
PSIKOLOGI UMUM

          Kepercayaan diri adalah suatu bagian dari kehidupan yang unik dan berharga. Dengan kepercayaan diri yang dimiliki diharapkan ketika menyelesaikan tugas atau ujian di sekolah, siswa akan percaya pada kemampuan yang dimiliki sehingga perilaku menyontek dapat dihindari.Kata menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi pelajar dan mahasiswa. Setiap orang pasti ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, dan sudah tentu berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Masalah menyontek selalu terkait dengan tes atau ujian. Banyak orang beranggapan menyontek sebagai masalah yang biasa saja, namun ada juga yang memandang serius masalah ini. Fenomena ini sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah atau madrasah, tetapi jarang kita dengar masalah menyontek dibahas dalam tingkatan atas, cukup diselesaikan oleh guru atau paling tinggi pada tingkat pimpinan sekolah atau madrasah itu sendiri. Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari afektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek menyontek (Irawati, 2008).
Lawson (dalam Amriel, 2008) mengindikasikan bahwa siswa yang melakukan tindakan kebohongan akademik cenderung akan berbohong di tempat kerja. Kenyataanya, fenomena menyontek lebih serius dari pada pandangan umum. Kompleksitas yang terungkap dari temuan-temuan Barat tentang “kejahatan akademis” ini juga relevan situasi di dunia pendidikan Indonesia. Penemuan tersebut sejalan dengan pendapat Haryono, dkk (2001), bahwa perilaku menyontek adalah perilaku yang jamak dijumpai dalam dunia pendidikan. Hampir semua pelajar mengetahui atau pernah melakukannya. Perilaku ini adalah perilaku yang salah tetapi ada kecenderungan semakin ditolerir oleh masyarakat kita. Masyarakat memandang bahwa pelajar yang menyontek adalah sesuatu yang wajar.
Mengapa siswa gemar menyontek?
           Pertanyaan ini memang klasik. Tapi, para guru dan otoritas pendidikan kita sampai hari ini masih terus garuk-garuk kepala karena belum berhasil menemukan metode tercanggih untuk menghentikan kebiasaan menyontek anak-anak didik.
Rendahnya rasa percaya diri bisa menyebabkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, delinkuensi, dan masalah penyesuaian diri lainnya. Ketika tingkat percaya diri yang rendah berhubungan dengan proses belajar seperti prestasi rendah, atau kehidupan keluarga yang sulit, atau dengan kejadiankejadian yang membuat tertekan, masalah yang muncul dapat menjadi lebih meningkat (Santrock, 2003).
          Ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku menyontek yang ditunjukkan dengan r sebesar - 0,425 dengan p=0,000 (p<0,01). Hal ini berarti variabel kepercayaan diri mencakup aspek-aspek yang ada di dalamnya dapat dijadikan sebagai prediktor untuk memprediksi atau mengukur perilaku menyontek. Semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah perilaku menyontek, dan semakin rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi perilaku menyontek.

Daftar pusaka
Admin. (2004). Masalah Menyontek (Cheating) di Dunia Pendidikan. (dalam http:// www.asmi.ac.id/artikel.asp.htm/, diakses 7 Maret 2008)
Azwar, Saifuddin. (2003). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset
Irawati, Intan. (2008). Budaya Menyontek di Kalangan Pelajar. (dalam http:// www.kabarindonesia.com/, diakses 2 Mei 2009)

0 comments:

Post a Comment