8.1.21

PERAN KELUARGA YANG BERDAMPAK POSITIF BAGI INTERAKSI SOSIAL


Ujian Ahir Psikologi Sosial II

Dosen Pengampu : Dr.Arundati Shinta, MA

Yudit Ilham Ramadhana / 19310410018

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Sumber Gambar : Bersatu.com
 

Lingkungan sosial adalah suatu tempat atau daerah masyarakat untuk berinteraksi dengan masyarakat dilingkungannya. Lingkungan sosial sendiri terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sepermainan. Lingkungan berperan besar pada kepribadian seseorang, terutama pada kepribadian remaja. Remaja sendiri merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dimana masa remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis. Remaja juga merupakan tahapan perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai kesulitan, berupa beradaptasi menuju dewasa dan pencarian jati diri.

Remaja memiliki pilihannya sendiri untuk mendapatkan predikat dalam circle lingkungannya. Predikat paling menonjol dalam setiap lingkungan adalah tuntutan sebagai individu yang baik. Berinteraksi baik dengan dengan selalu mengikuti dan menjalankan norma-norma pada setiap lingkungan merupakan salah satu cara agar dapat meminimalisir stigma buruk pada individu. Remaja yang “sedang beproses” untuk mematangkan jati dirinya merasa kesulitan dengan tuntutan lingkungan yang tak pandang bulu dengan tingkatan usia.

Keluarga memiliki peran besar terhadap remaja dengan interaksi sosialnya. Tingi rendahnya interaksi sosial remaja dapat diterangkan melalui tinggi rendahnya keharmonisan keluarga dan tinggi rendahnya konsep diri. Keharmonisan keluarga dapat dibentuk dengan selalu berkomunikasi yang baik dan seringnya bertatap muka. Banyak anak yang merasa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, seperti kasus orang tuanya yang menjadi TKI, orang tua yang bercerai dan orang tua yang jarang pulang karena pekerjaan, sehingga anak mencari tempat pelarian yang berpotensi membentuk kepribadiannya. Untuk menciptakan keharmonisan keluarga, setidaknya ada enam aspek yang harus diperhatikan, sebagaimana dalam Maria (2007) :

1. Menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.

2. Mempunyai waktu bersama keluarga.

3. Mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga.

4. Saling menghargai antar sesama anggota keluarga.

5. Kualitas dan kuantitas konflik yang minim.

6. Adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keluarga memiliki peran krusial dalam membentuk pribadi seorang remaja. Sesudah remaja melewati fase pendewasaan, ia akan menjadi individu yang utuh secara matang pada lingkungannya. Jadi alangkah baiknya bahwa melakukan interaksi sosial terutama pada lingkungan keluarga dengan bertatap muka secara intens, agar dapat tercipta keharmonisan yang berdampak pada interaksi lingkungan yang baik.

 

 

Referensi :

Lumintang, J., Sapara, M,M., & Paat, C,J. (2020). Dampak Lingkungan Sosial Terhadap Perubahan PPerilaku Remaja Perempuan di Desa Ammat Kecamatan Tampan’Amma Kabupaten Kepulauan Taulud. Jurnal Holistik. 13(3), 2-3.

Xiao, A. (2018). Konsep Interaksi Sosial Dalam Komunikasi, Teknologi, Masyarakat. Jurnal Komunikasi,Media dan Informatika. 7(2),94-99.

Yunistiati, F., Djalali, M., & Farid, M. (2014). Keharmonisan Keluarga, Konsep Diri dan Interaksi Sosial Remaja. Persona:Jurnal Psikologi Indonesia. 3(01), 71-82

 

 .

0 komentar:

Posting Komentar