12.10.20

 

Stop di Kamu, Jangan di Sebar

 

Sekar Pramesthi Armindariani/19310410072

Fakulta Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


 Pemanfaatan media sosial saat ini berkembang dengan luar biasa. Media sosial mengizinkan semua orang untuk dapat bertukar informasi dengan sesama pengguna media tersebut. Perilaku penggunaan media sosial pada masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif, membuat informasi yang benar dan salah menjadi bercampur aduk. Keberadaan internet sebagai media online membuat informasi yang belum terverifikasi benar dan tidaknya tersebar cepat. Hanya dalam hitungan detik, suatu peristiwa sudah bisa langsung tersebar dan diakses oleh pengguna internet melalui media sosial. Namun, saat ini banyak orang menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian, provokasi dan hoax (berita bohongMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks adalah berita bohong atau berita tidak bersumber. Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Menurut Silverman (2015), hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun 'dijual sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta

(sumber gambar Dinas Komunikasi dan Informatika Bandung )     


Di era jaman sekarang semua baik berita terkini maupun berita kemarin mudah di akses melaui media sosial, oleh karena itu hoax cepat menyebar di semua media. Banyak pada ummnya orang-orang memyakini bahwa berita itu benar ini  dipicu karena budaya malas memabaca atau kurang telitinya membaca suatu berita yang biasaya hanya membaca judul berita tanpa melihat isi atau hanya melihat isi sekilas tanpa memikirkan apa itu berita hoax atau fakta.  Berita hoax dengan judul menarik atau memprovokasi inilah biasanya langsung di bagikan atau di sebar malaui media sosail begitu saja. Tanpa kita sadari hoax memiliki dampak negatif yang sangat merugikan  alam sebuah studi, para psikolog sepakat bahwa berita hoax bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti post-traumatic stress syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan. Tidak hanya itu, psikolog percaya, orang yang terpapar berita hoax juga bisa membutuhkan terapi, karena diselimuti kecemasan, stres, dan merasa kesepian karena berita palsu.  

(sumber gambar DISKOMINFO)   


Oleh karena budaya membaca sangat penting bagi kehidupan. Cara sederhana untuk mengetahui itu berita hoax atau bukan kita dapat berharti-hati dengan judul  yang provokatif, cermatin alamat stitus, perikasa fakat berita, cek keaslian foto/video, bersikap skeptis, belajar menilai kabar,

 

Referensi

Wisnubrata.(2019).Kompas. “Dampak Buruk Berita Hoax pada Kesehtan Ment.”  

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/10/08/120209420/dampak-buruk-berita-hoax-pada-kesehatan-mental-ini-penjelasannya?page=all

Liputan6.(2019).Hoax Adalah, Ciri-ciri dan Cara Mengatasinya di Dunia Maya Dengan Mudah”

https://www.liputan6.com/news/read/3867707/hoax-adalah-ciri-ciri-dan-cara-mengatasinya-di-dunia-maya-dengan-mudah     

Referesni gambar  

Agar Terhindar dari Berita Hoax.(2018).

 https://www.tebingtinggikota.go.id/berita/artikel/agar-terhindar-dari-berita-hoax 

Apa itu Hoax?

https://badungkab.go.id/instansi/diskominfo/baca-artikel/532/Apa-itu-Hoax.html

0 comments:

Post a Comment