10.6.20

Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar”


Oleh:
Alia Nanda Rumekti
(19.310.410.066)

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak lain pada umumnya tanpa selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosional, atau fisik, teramasuk penyandang cacat (BPBP, 2016-2019). Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK relatif sering ditemukan di lingkungan masyarakat. Berbagai bentuk pengecualian bahkan deskriminasi pun sering mereka alami. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya pamahaman dari para pengasuh atau pendidik bagi ABK. Kesulitan yang biasanya dihadapi oleh para pendidik dan pengasuh ABK adalah permasalahan dalam belajar. Pendampingan pada ABK membutuhkan pengetahuan yang cukup, kesabaran, kehati-hatian, ruang penelitian, informasi dan pelayanan (D. Adams, 2020).
Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar” mungkin dapat menjadi pilihan untuk lebih memahami tentang ABK. Seminar yang merupakan hasil kerjasama Biro Psikologi UP45, Universitas Ahmad Dahlan, MGBK Kabupaten Bantul, dan Volunteer Biro Psikologi UP45. Seminar Online ini dihadiri oleh 170  peserta dari berbagai kalangan. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ibu Muya Barida, M. Pd dan Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi. Seminar ini merupakan Seminar Online kedua yang diadakan oleh Biro Psikologi UP45 selama masa pandemi Covid-19.
Seminar Online yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2020 ini menghadirkan narasumber pertama yaitu Ibu Muya Barida, M. Pd. Ibu Muya Barida, M. Pd selaku Dosen Universitas Ahmad Dahlan sekaligus Kepala Pusat Layanan Difabel UAD, lebih fokus kepada jenis-jenis ABK dan penanganannya dari sisi Bimbingan dan Konseling. Dalam materinya, beliau menguraikan tentang orang yang dikategorikan sebagai ABK menurut Pasal 129 ayat (3) PP No. 17 Tahun 2010. Kategori tersebut memuat tunanetra, tunarungu, tunadaksa, Down Synndrom, Cerebral Palsy, Slow Learning, Mental Retardasi, Autism, Kesulitan belajar Spesifik (Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia, Disfraksia), ADHD, dan lain-lain. Setiap kategori itu memiliki ciri dan karakteristik berbeda. Beliau juga menyampaikan bahwa kadang gejala dari setiap kategori diatas mirip, tetapi ternyata berbeda. Maka dari itu, di sekolah, peran Guru BK (Bimbingan Konseling) dalam hal ini sangat diperlukan untuk mengenali dan mengarahkan potensi setiap karena keragamannya.
Seminar ini juga menghadirkan narasumber yang kedua, yaitu Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi. Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi adalah Dosen Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta sekaligus Praktisi Pendidikan Anak. Dalam materinya, beliau menuturkan tentang sosialisasi Anak Istimewa di lingkungan sekolah. Penekanan dalam materi ini adalah Teori H. Gardner dan Vigotsky. Kecerdasan manusia bukan hanya pada IQ, melainkan juga kemampuannya dalam mengatasi masalah. Sosialisasi Anak Istimewa ini tentu melalui beberapa tahapan. Salah satunya adalah melakukan pendekatan dan observasi baik pasif maupun aktif. Sosialisasi ini sangat bermanfaat bagi siswa dan guru. Siswa akan cenderung lebih percaya diri, lebih kreatif, menghargai perbedaan secara wajar, dan sebagainya. Kemudian bagi guru, hal ini dapat menghadirkan kesempatan belajar untuk memahami cara mengajar siswa yang beragam, menjadikan mengajar sebagai hal yang menyenangkan, dan guru menjadi lebih profesional.
Antusias peserta dalam Seminar Online ini sangat luar biasa. Terutama dari kalangan guru yang pada umumnya menangani siswa di sekolah dan anak di rumah. Pertanyaan yang diajukan pun beragam. Seperti cara penanganan pada ABK, cara mensosialisasikan kondisi anak kepada orangtua, kiat membangun sinergitas antar pihak sekolah-orangtua-dan anak, dan sebagainya. Salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah tentang cara pembelajaran daring bagi ABK selama masa pandemi Covid-19. Dalam hal ini, peran orangtua dan shadow teacher sangat diperlukan. Jika sekolah memiliki Shadow Teacher, maka shadow teacher ini dapat dihadirkan di rumah untuk mendampingi si anak istimewa dalam belajar. Namun pemasalahannya adalah tidak setiap sekolah memiliki shadow teacher. Sehingga orangtua harus diberikan pemahaman seluas-luasnya untuk mendampingi ABK dalam belajar di rumah.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak istimewa yang memiliki hak kemerdekaan yang sama dalam belajar. Peran pendampingan sekolah dan rumah sangat penting dalam mendukung kemerdekannya. Seminar dan pelatihan penanganan ABK juga berperan dalam mengasah keterampilan penanganan ABK bagi para pendidik dan pengasuh ABK. Kecerdasan bagi ABK sangat mungkin diraih melalui kerjasama dari orang tua, guru, dan anak. Maka dari itu, sinergikan ketiganya untuk kemerdekaan belajar si Istimewa!

Panitia Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar”:
1.    Alia Nanda Rumekti            (19310410066)
2.    Imelta Indriani Alfiah           (19310410062)
3.    Mayli Qisty Rofiq                (19310410095)
4.    Nico Hari Al-‘Arafi               (173104101165)
5.    Novia Zahra Zakiah            (19310410025)
6.    Rio Wahyu Nugroho           (173104101166)
7.    Trias Sabila Rahmah          (19310410036)

Daftar Pustaka:

BPBP. (2016-2019). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud RI.
D. Adams, A. C. (2020). Raising Your Child With Special Needs: Guidance & Practice. Kuala Lumpur: Institut Terjemahan & Buku Malaysia Berhad.



0 comments:

Post a Comment