15.6.20

Mengenal Agresivitas Serta Pencegahan Perilaku Agresif


Putri Wulandari / 19310410067
Dosen Pembimbing : Dr. Arundati Shinta, MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Sosial

Pengertian Agresivitas lengkap - Dunia Psikologi  Bentuk-Bentuk Agresivitas Secara Umum - Dunia Psikologi
Agresivitas berasal dari kata Agresi (KBBI) yang berarti perasaan marah atau tindakan kasar akibat kekecewaan atau kegagalan dalam mencapai pemuasan atau tujuan. Perasaan dan tindakan agresif ini dapat diarahkan kepada orang ataupun benda.
Agresi (Psikologi Sosial) berarti perilaku yang dimaksudkan untuk melukai, menyakiti ataupun merusak. Batasan ini tidak berlaku untuk perilaku khusus seperti proses pengobatan gigi yang menyakitkan atau kecelakaan. Beberapa perilaku yang termasuk ke dalam batasan tersebut antara lain menampar, menghina dan bergosip. Perilaku semacam itu bisa dilakukan dengan tenang ‘dingin’ (tanpa diiringi perasaan takut atau penyesalan) dan terencana rapi sampai hasilnya tampak nyata atau justru dilakukan secara meledak-ledak (impulsif).
Schneiders (1955) mengartikan perilaku agresif sebagai luapan emosi atas reaksi terhadap kegagalan individu yang ditunjukkan dalam bentuk perusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku (nonverbal). Sars (1985) beranggapan bahwa agresi merupakan setiap perilaku yang bertujuan meyakiti orang lain atau adanya perasaan ingin menyakiti orang lain dalam diri seseorang. Sedangkan Moore dan Fine (dalam Koeswara, 1988) memandang perilaku agresif sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu atau objek-objek lain.
Perilaku agresif menurut Murry (Halll & Lindzey,1993) didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat melalui; berkelahi, melukai, menyerang, membunuh atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresif dari seorang individu atau kelompok. Dill dan Dill (1998) melihat perilaku agresif sebagai perilaku yang dilakukan berdasarkan pengalaman dan adanya rangsangan situasi tertentu sehingga menyebabkan seseorang itu melakukan tindakan agresif. Perilaku ini bisa dilakukan secara dirancang, seketika atau karena rangsangan situasi. Tindakan agresif ini biasanya merupakan tindakan anti sosial yang tidak sesuai dengan kebiasaan, budaya maupun agama dalam suatu masyarakat. Bandura (1973) beranggapan bahwa perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir. Perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial seperti interaksi dengan keluarga, interaksi dengan rekan sebaya dan media massa melalui modelling.
Ada beberapa perspektif agresif yang mencoba untuk menjelaskan perilaku agresif dari sisi pendekatan biologis, yaitu perspektif etologi, sosiobiologi, serta genetika perilaku. Dalam perspektif Etologi, perilaku agresif disebabkan oleh karena faktor instingtif dalam diri manusia dan perilaku ini dilakukan dalam rangka adaptasi secara evolusioner (Brigham,1991; Dunkin, 1995). Perilaku agresif yang dikembangkan biasanya merupakan upaya untuk mempertahankan teritori dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Dalam konsep ini dikenal dengan agonistic aggression (Brugham, 1991) yaitu suatu perilaku agresi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan teritori dan hirarki dominasi. Bahkan Zastrow (20028) masih meyakini dan beranggapan bahwa manusia itu sama halnya dengan hewan, yang juga memiliki naluri (instinct) bawaan yang sifatnya agresif. Pendapat ini menyiratkan bahwa naluri (instinct) merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan yang bisa membangkitkan perilaku agresif. Perilaku ini akan muncul manakala kebutuhan-kebutuhan dasarnya (basic needs) tidak terpenuhi, seperti halnya kebutuhan akan makan, rasa aman dan kebutuhan dasar lainnya.
Perspektif sosio-biologi percaya bahwa perilaku agresif berkembang karena adanya kompetisi sosial yaitu kompetisi terhadap sumber daya yang terbatas. Dalam pandangan ini, manusia diharapkan bertindak agresif ketika sumber daya yang penting itu terbatas, ketika mengalami ketidaknyamanan, ketika sistem sosial berjalan dengan tidak baik  dan ketika ancaman dari pihak luar (Dunkin, 1995). Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Tindakan ini dilakukan manusia agar tetap survive, untuk tetap menjaga dan mengembangkan kemanusiawiannya ataupun membangun dan mengembangkan komunitas. Tanpa agresi manusia akan punah atau dipunahkan oleh pihak lain (Wiggins, Wiggins & Zanden, 1994; Zastrow, 2008). Perilaku agresif menurut perspektif ini merupakan sesuatu yang fundamental karena merupakan strategi adaptasi dalam kehidupannya.
Dalam pandangan lain, kecenderungan perilaku agresif merupakan bagian dari sifat bawaan genetik individu yang diwariskan dari orang tuanya (hereditay). Pandangan semacam ini dikenal sebagai perspektif genetika perilaku. Individu-individu yang berhubungan secara genetis memiliki kecenderungan agresif yang satu sama lain lebih serupa, dibanding individu-individu yang tidak memiliki hubungan secara genetis ( Krahe, 2001).
Agresivitas dilihat dari segi emosi merupakan hasil dari emosi marah. Misalkan anda merasa ada sesuatu yang salah telah terjadi dan hal itu membuat anda marah. Emosi marah itu menjadi-jadi dalam diri anda, sehingga rasanya dada anda akan meledak, keringat bercucuran, muka merah padam dan nafas terengah-engah. Akhirnya, bila anda berani dan mampu, anda kemudian menyerang orang yang menjadi sumber kemarahan itu. Namun semua itu tentu tidak kan berakhir dengan baik.
Ada beberapa faktor psikologi yang menyebabkan munculnya agresivitas yaitu adanya rasa frustrasi, alasan instink dan sebagai reaksi emosi yang sifatnya negatif. Mengapa frustrasi bisa menyebabkan timbulnya perilaku agresif? Frustrasi merupakan suatu perasaan yang timbul ketika tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang terhalang oleh suatu hal. Semakin kuat motivasi seseorang untuk mencapai tujuan itu, maka semakin besar frustrasinya apabila tujuan itu tidak tercapai. Meskipun demikian, frustrasi tidak selalu menimbulkan perilaku agresif. Berdasarkan teori frustrasi-agresi (the frustration-aggression theory) yang dikemukakan oleh Dollard et al. (1939), frustrasi ternyata bisa menimbulkan motif untuk bertindak agresif. Tindakan agresif itu bisa ditunjukkan untuk diri sendidri ataupun orang lain. Jika ditujukkan untuk diri sendiri maka seseorang yang frustrasi tersebut akan melakukan bunuh diri atau menyakiti dirinya sendiri. Bila ditujukkan untuk orang lain, maka orang lain itu bisa berarti sumber dari penyebab terjadinya frustrasi atau bukan sumber dari penyebab frustrasi tetapi orang yang dipersepsikan lebih lemah sehingga tidakberani membalas perlakuan agresif itu.
Emosi negatif penyebab munculnya perilaku agresif terjadi karena seseorang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya seseorang dihina mengenai hal-hal yang dianggapnya berharga seperti integritas, kejujuran kepandaian dan lain sebagainya.
Manusia memang mempunyai kapasitas untuk berperilaku agresif. Meskipun demikian, tidak selalu dalam segala situasi ia akan berperilaku agresif. Hal itu bergantung pada perilaku psikisnya dan juga situasi di sekelilingnya.
Penanganan masalah perilaku agresif harus dilihat dan dilakukan secara menyeluruh, artinya semua pihak termasuk orang tua, guru, tetangga ataupun lingkungan sekitar. Salah satu teknik dalam mengatasi agretivitas yaitu menerapka suatu hukuman apabila seseorang melakukan kesalahan. Namun jangan menyudutkannya tetapi berikanlah dorongan atau motivasi  sehingga dapat mengembangkan perasaan bahwa seseorang yang menjadi korban perilaku agresif sebenarnya mampu mempertahankan dirinya sendiri. Perilaku agresif juga bisa terjadi karena disebabkan oleh pola asuh yang salah yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak. Oleh sebab itu diharapkan orang tua lebih dapat memperhatikan pola asuh dan mulai mendengarkan keluh kesah yang dialami oleh anaknya sehingga perilaku agresif tidak dapat terjadi dikemudian hari. 

Sumber :
Nors, Icha. 2011. Perilaku Agresif : Penyebab dan Penanganannya. https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/icha_nors/perilaku-agresif-penyebab-dan-penangannya_5509803a8133117249b1e23e. (diakses tanggal 15 Juni 2020).

2020. Agresivitas. Power Point Pesentasi dalam Materi Perkuliahan Juni 07, Yogyakarta.

Susantyo, Badrun. 2011. Memahami Perilaku Agresif : Sebuah Tinjauan Konseptual. Informasi. Volume 16 No.3 https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Sosioinforma/article/view/48. (diakses tanggal 15 Juni 2020. 

Sumber Gambar :
https://duniapsikologi12.blogspot.com/2017/03/pengertian-agresivitas-lengkap.html
https://duniapsikologi12.blogspot.com/2017/03/bentuk-bentuk-agresivitas-secara-umum.html

0 comments:

Post a Comment