27.4.20


 TEORI DISONANSI KOGNITIF MENJAWAB PERASAAN PARA PEROKOK

Andi Purnawan/19310410002
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen Pembimbing: Dr. Arundati Shinta, MA.


(Sumber Gambar: Dream.Co.Id)

Merokok merupakan perilaku yang sering kita jumpai di lingkungan sekitar. Perilaku tersebut telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat terutama di kalangan kaum Adam.  Dalam segala kegiatan, rokok menjadi salah satu barang yang senantiasa tidak lupa dibawa dalam saku celana. Mirisnya sebagian orang lebih bisa menahan lapar dari pada tidak menghisap tembakau dalam kesehariannya. Hal itu disebabkan oleh candu dalam rokok yang sering mereka konsumsi. Perilaku merokok selalu menuai kontra dengan seseorang yang tidak merokok. Orang yang tidak merokok selalu menganggap bahwa para perokok terkesan seenaknya sendiri saat merokok, tidak melihat situasi dan kondisi di sekitar. Mereka menganggap bahwa para perokok tanpa berdosanya tidak memikirkan dampak yang akan ditimbulkan khususnya dampak kesehatan bagi orang-orang sekitarnya. Benarkah semua perokok demikian?
Tidak semua perokok memiliki asumsi yang sama. Beberapa perokok sebenarnya merasa tidak nyaman dengan perilaku mereka sendiri. Rasa bersalah terkadang juga muncul pada sebagian orang yang merokok terutama mereka yang merokok di tempat umum berdekatan dengan orang yang tidak merokok. Sebut saja DR (nama inisial) salah seorang yang merupakan perokok aktif. Dia mengakui bahwa perilakunya tidak disukai oleh orang-orang di sekitarnya. “Saya sudah lama merokok, dan perilaku ini sangat dibenci oleh istri saya karena dianggap tidak peduli dengan kesehatan dan tidak menghargai orang yang tidak merokok”, ungkap DR. Laki-laki yang berumur 32 dan sudah berumah tangga itu juga mengaku bahwa dia sebenarnya ingin menghentikan perilaku merokoknya namun masih sulit. “Keinginan saya untuk berhenti merokok sebenarnya sudah lama, namun ini terasa sulit mungkin faktor kecanduan dan lingkungan yang menjadi penyebab saya belum bisa berhenti merokok”, jelasnya.
Berbagai kebijakan dikeluarkan  pemerintah Indonesia dalam menanggulangi pengendalian tembakau melalui PP No. 19 Tahun 2003 dengan mewajibkan setiap produsen rokok untuk mencantumkan label peringatan bahaya merokok pada setiap kemasan rokok (Octaviana, Shella, 2016). Tidak lupa petugas kesehatan sering mengadakan sosialisasi bahkan menempelkan berbagai poster guna memperingatkan masyarakat akan bahaya yang disebabkan oleh perilaku menghisap rokok. Apakah para perokok menyadari akan bahaya dari yang mereka lakukan? Seperti yang sudah dibilang DR, dia paham betul akan bahaya yang timbul karena perilaku merokok khususnya bagi kesehatan. “Menghisap rokok sama saja menghisap racun. Tentu tidak baik untuk kesehatan baik diri sendiri maupun orang di sekitar yang tidak merokok. Namun kembali lagi dengan kebiasaan, dan menurut saya orang yang tidak merokok pun juga pasti akan mengalami sakit”, tegasnya.
Seseorang yang tidak nyaman akan perilakunya sendiri dan berusaha untuk mengurangi ketidaknyamanannya itu bisa dijelaskan dengan Teori Disonansi Kognitif. Menurut Richard West dan Turner (2008), Teori Disonansi Kognitif merupakan sebuah teori dalam Psikologi Sosial yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Istilah Disonansi Kognitif pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Leon Festinger pada tahun 1950an. Dalam kasus yang dialami DR, dia sadar perilakunya membuat orang lain bahkan dirinya sendiri tidak nyaman. Hal yang dapat dia lakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain adalah berusaha mengurangi kebiasaan merokok di setiap harinya dan selalu ke toilet jika ingin menghisap rokok. “Saya menghargai orang lain yang tidak merokok dengan cara mengurungkan diri di toilet saat merokok. Saya juga mengurangi rokok di setiap harinya agar bisa semakin termotivasi untuk berhenti merokok”, ulasannya.
Berbagai penjelasan dari DR yang merupakan salah satu perokok aktif merupakan contoh aplikatif dari Teori Disonansi Kognitif. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa perasaan tidak nyaman akibat perilaku yang saling bertentangan. DR mengalami ketidaknyamanan akan perilakunya sendiri yaitu merokok. Teori Disonansi Kognitif juga memaparkan bahwa seseorang akan mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan. Langkah yang dilakukan DR untuk mengurangi ketidaknyamanannya yaitu dengan merokok di dalam toilet. Dia juga berusaha mengurangi kebiasaannya dalam merokok. Hal tersebut merupakan motivasi DR untuk mengatasi ketidaknyamanannya. Sebagai orang yang tidak merokok tentu sebaiknya tidak terlalu memandang buruk orang yang merokok. Memberikan edukasi agar mereka dapat termotivasi dan peduli akan kesehatan diri dan orang sekitarnya merupakan langkah yang bijak.

Referensi:
Octaviana, Shella. (2016). Pengaruh Gambar Seram Kemasan Rokok terhadap Disonansi Kognitif Perokok di Kota Serang (Skripsi). Banten (ID): Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.  
West, Richard dan Turner, Lynn H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: PT. Salemba Humanika.

Sumber Gambar:
Nuraini, Tantiya Nimas. (2019). 10 Bahaya Perokok Pasif, Hindari Sekarang Juga!. Dream.Co.Id.

1 comment: