30.3.20

STAY AT HOME


KEMBALI KE RUMAH, TEMPAT TERNYAMAN


Oleh Ika Fatmawati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Pekan ini kita masih melaksanakan anjuran pemerintah untuk menjaga jarak sosial dan tetap berada di rumah. Kita kembali melakukan segala aktifitas di rumah bersama keluarga tercinta. Sekolah, kampus diliburkan, dan anak- anak mengikuti pelajaran dengan cara online. Banyak instansi memberlakukan Work From Home (kerja dari rumah) pada karyawannya.

Rumah merupakan salah satu bagian dari lingkungan yang akrab dan dikenal oleh individu. Meskipun penataan lingkungannya tidak asri, tetapi merupakan tempat berlindung. Kecenderungan kita ketika berada di rumah yakni tidak menimbulkan stress, menimbulkan rasa aman, dan tidak menimbulkan konstipasi. Bahkan ada pepatah yang mengatakan rumahku adalah syurgaku, sebagai gambaran bahwa rumah adalah tempat terindah dan ternyaman.

Memulai kuliah online, sekolah online, bekerja secara online tentu saja membutuhkan penyesuaian. Penyesuaian karena dilakukan di rumah, ada anggota keluarga yang lain yang harus diperhatikan juga. Perilaku penyesuaian diri atau coping behaviour ini ada dua cara yakni adaptasi dan adjusment. Adaptasi yaitu mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan, sedangkan adjustment adalah mengubah lingkungan agar sesuai dengan diri pribadi.
 
Sebagai seorang mahasiswa yang sudah berkeluarga sekaligus bekerja, tentu saja penyesuaian ini membutuhkan proses yang panjang. Pengaturan waktu antara mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan pekerjaan kantor, dan mendampingi anak- anak belajar di rumah akan kacau jika tidak cerdas dalam memanagemen waktu. Akhirnya anak- anak yang akan terkena dampaknya. Mereka akan merasa bosan dan jenuh karena belajar dengan orang tua tidak mengasyikkan.

Anak- anak merasa belajar di rumah tidak menyenangkan karena orang tua sibuk sendiri. Orang tua cenderung menjadi orang tua yang galak dan tidak bersahabat dengan anak. Padahal anak sendiri juga membutuhkan pendampingan yang lebih saat belajar online. Mereka bukan miniatur orang dewasa cepat paham dengan kondisi yang sedang terjadi.

Ada beberapa cara mengisi waktu bersama anak- anak ketika sudah jenuh dengan rutinitas. Pandemi covid- 19 ini harus kita sikapi dengan bijak. Kita menyampaikan kepada anak apa itu covid- 19, apa bahayanya, dan bagaimana kita harus bersikap. Salah satunya kita bisa mengajarkan anak membuat hand sanitizer alami dari daun sirih dan jeruk nipis.
 
Caranya, 10-12 lembar daun sirih dicuci bersih, ditiriskan, dan dipotong-potong kasar. Setelah itu, rebus segelas air bersih (200 ml) dengan panci stainless steel. Setelah mendidih, masukkan potongan daun sirih ke dalam panci dan kecilkan api sekitar 15 menit. Kemudian, matikan api dan biarkan sampai dingin. Setelah dingin, air disaring dan dimasukkan ke dalam botol spray, siap untuk digunakan. Ini bisa bertahan dipakai dalam 2-3 hari (Jawa Pos.com).

Kegiatan ini akan memberikan kesan dan pengalaman yang tak ternilai harganya. Membantu membangun kelekatan antara anak dengan orang tua. Disisi lain, membuat hand sanitizer yang alami aman digunakan oleh anak- anak sehingga memotivasi mereka untuk senantiasa menjaga kebersihan diri. Menjadikan rumah sebagai sebaik- baik tempat untuk bereksplorasi dan berkarya.

Referensi :
- Sarwono, S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Jakarta: Grasindo & Program Pascasarjana Prodi Psikologi UI.
- Chapter. 8 Penyesuaian antara tingkah laku manusia dan lingkungannya, pp/ 107-118

0 comments:

Post a Comment