16.3.20

kuliah lapangan di RSJ ghrasia



Rr. Sekarlangit ayuningtyas (18.310.410.1179)
Psikologi abnormal
Wahyu widiantoro M.A



Kunjungan ke RSJ ghrasia dilaksanakan(7/03/2020) diikuti oleh 62 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45. Kunjungan ini di lakukan untuk memperdalam pengetahuan  mahasiswa Psikologi tentang jenis jenis ganguan jiwa dan penangananya di RSJ.  Kami di beri sambutan oleh pihak RSJ ghrasia  yang pertama oleh Ibu Tutik selaku ketua humas bagian pelaksanaan di RSJ beliau menjelaskan tentang prosedur-prosedur K3 dan pengarahan keselamatan di RS

Usai pengarahan mengenai tata tertib kunjungan, kami mengikuti sesi materi. Ibu Aril Halida, salah satu  Psikolog yang ada di Rumah Sakit Jiwa Grhasia menyampaikan materi yang berjudul
"Mental Health and Its Ilness". Ibu Aril menuturkan bahwa sebagian orang sangat mantap saat menjawab pertanyaan "Apakah anda sehat?". Namun ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan "Apakah anda sehat jiwa?". Hal tersebut disebabkan karena orang kurang  paham bagaimana indikator orang sehat jiwa, dan kurangnya literasi atau pemahaman tentang jiwa. Dan kebanyakan orang merasa malu atau enggan saat berobat di klinik kejiwaan, karena orang yang berobat di kejiwaan biasanya akan ditolak oleh keluarga atau komunitasnya.

Penyakit jiwa ada hubunganya dengan cemas dan depresi, cemas adalah kekhawatiran yang tidak mempunyai objek. Kecemasan dapat di alami oleh setiap orang apabila menghasdapi stimulus dari lingkungan tersebut.sementara ganguan kecemasan bersifat menetap dalam waktu lama yang tidak mereda dan intensitasnya kuat. Tidak semua rasa cemas itu berarti  ganguan kecemasan apabila individu tersebut dapat beradaptasi dengan stressor tersebut

 Ganguan jiwa merupakan sindrom klinik ganguan kejiwaan dengan beberapa kriteria yang pertama kumpulan dari gejala ganguan jiwa, jadi jika terdapat 1 gejala tunggal dan kurang  dari sebulan tidak dapat di katakan sebagai ganguan jiwa, kedua mengakibatkan penderitaan yaitu individu dengan ganguan tersebut dapat melaukai dirinya sendiri dan orang lain, ketiga hendaya  yaitu suatu disabilitas pada diri sendiri baik di pekerjaan dan sosialnya.

Suatu gangguan jiwa tidak bisa disebabkan hanya  melalui satu faktor saja. Setidaknya Ada 4 faktor yang menyebabkan seseorang bisa mengalami perilaku abnormal atau gangguan jiwa. Diantaranya faktor Biologis, Psikologis, Sosial, dan Spiritual. Dalam penjelasanya bu Aril juga menyampaikan mengenai jenis gangguan jiwa secara spesifik. Diantaranya Anxiety Disorder, Obsessive Compulsive Disorder, Substance Use Disorder, Anorexia Nervosa, Bipolar Disorder, dan sebagainya dimana hampir semua gangguan mental tersebut dapat muncul pertama kali di usia remaja. 

       Selain gangguan jiwa, bu Aril juga menyampaikan bagaimana seseorang bisa mengalami depresi. Depresi salah satunya disebabkan karena penurunan serotonin dan non epineprin dalam otak. Serotonin merupakan hormon yang mengatur perasaan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung murung dan sedih. Sedangkan non epineprin merupakan hormon yang mengatur kekuatan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung hilang minat, malas, atau lemas. Dalam kasus depresi berat, dapat muncul ide untuk bunuh diri karena hormon dopamin yang meningkat. 
 Gejala utama dari depresi adalah murung, hilang minat, dan mudah lelah. Dan gejala tambahannya meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, hilang atau naiknya nafsu makan, rasa bersalah, dan ide bunuh diri. Pada akhir materi, bu Aril menyampaikan mengenai Schizophrenia. Schizophrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Gejala pada Schizophrenia diantaranya delusi/waham, halusinasi, pikiran dan perkataan kacau, gerakan aneh, dan hilangnya ekspresi emosi. 

Health is nothing but without health everything is nothing! Yang artinya kesehatan bukanlah apa-apa tetapi tampa kesehatan semuanya bukanlah  apa-apa. Tugas kita sebagai Mahasiswa psikologi adalah merubah stigma penilaian negative kepada masyarakat luas tentang mental illness


0 comments:

Post a Comment