15.3.20

FIELD STUDY


KULIAH INTERAKTIF MELALUI FIELD STUDY

Oleh Ika Fatmawati
NIM 183104101185
Mata Kuliah : Psikologi Abnormal
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A


Kuliah yang monoton di dalam ruangan, mempelajari teori- teori kadang terasa membosankan bagi mahasiswa. Untuk itu Fx. Wahyu Widiantoro, S. Psi., M.A selaku dosen di Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta mengalihkan kegiatan perkuliahan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia (RSJG) untuk field study. Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa mendapatkan gambaran secara langsung seperti apa kondisi seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Field study yang dilaksanakan pekan lalu (7/03/2020) diikuti oleh 64 mahasiswa lintas angkatan dari Fakultas Psikologi Universitas 45 Yogyakarta. Fx. Wahyu Widiantoro, S. Psi., M.A memberi motivasi agar mahasiswa bertanya sebanyak- banyaknya apa yang ingin diketahui mahasiswa tentang gangguan kejiwaan. Mengacu dari teori yang sudah di sampaikan dalam perkuliahan, dengan harapan mahasiswa bisa lebih memahami posisi dirinya dan bidang keilmuan yang sudah dipilih.  

Psikolog Klinis yang mendampingi field study dari pihak RSJG adalah Aril Halida, S.Psi., M. Psi. Aril menyampaikan bahwa saat ini masyarakat harus melek tentang kesehatan mental dengan memahami indikator antara sehat jiwa dan sakit jiwa. Setiap orang mempunyai potensi mengalami gangguan kejiwaan. Menurut WHO, 1 dari 4 orang mengalami mental illness.

Multifaktor yang menyebabkan gangguan jiwa diantaranya adalah faktor biologis, psikologis, sosial, dan genetik. Toleransi stress dan problem solving setiap individu berbeda- beda, sehingga kita tidak boleh menyepelekan masalah yang sedang dialami oleh individu. Contoh efek bullying verbal, ada yang menganggapnya biasa saja, tetapi ada yang sampai membuat individu mengalami depresi.

Ada beberapa jenis gangguan jiwa secara umum yang terlihat saat usia masih balita yaitu ADHD, Anxiety, dan OCD. Obsessive Compulsive Disorder atau OCD bisa terbentuk karena faktor orang tua yang memiliki gangguan OCD juga. Gangguan jiwa yang muncul saat usia remaja diantaranya adalah bipolar, depresi, dan skizofrenia.

Aril menjelaskan bahwa depresi disebabkan karena penurunan serotonin dan epineprin di otak. Pada kasus depresi berat, dopamin dalam otak meningkat sehingga menjadi salah satu penyebab bunuh diri. Gejala utama depresi yaitu murung, hilang minat, dan merasa mudah lelah. Sedangkan gejala tambahannya adalah gangguan tidur, gangguan konsentrasi, sedih, dan lain- lain. Kecemasan yang sehat adalah kecemasan yang konstruktif, yaitu sebagai kontrol dan mengarah pada tindakan preventif.

Jenis gangguan jiwa lainnya yaitu skizofrenia. Skizofrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Gejalanya yaitu waham, halusinasi, pikiran dan perkataan kacau, gerakan aneh, dan gejala ini terus menerus ada selama 6 bulan. Secara biologis hal ini terjadi berkaitan dengan senyawa kimia di otak dan dopamin yang meningkat sehingga memori, fokus dan perhatian, tingkah laku dan kognisi menjadi terganggu. Orang Dalam Gangguan Jiwa mengakibatkan satu atau lebih  gangguan pada pekerjaan, hubungan interpersonal, hingga rawat inap.

Ada beberapa tindakan kuratif yang bisa dilakukan yakni konseling dan psikoterapi. Dengan metode konseling apabila masalah atau gangguan yang dialami individu belum terlalu berat. Menggunakan metode psikoterapi apabila masalah yang dialami individu sudah berat, dan harus dilakukan oleh profesional yang bersertifikat.

“Tiada kesehatan tanpa sehat jiwa. Bersyukurlah jika Tuhan memberikan kita kesempatan menjadi sosok yang melayani, dan bukan sosok yang harus dilayani.” Aril menutup dengan memberi motivasi kepada mahasiswa.

Dalam kegiatan field study ini mahasiswa diberi kesempatan untuk berkeliling ke bangsal rawat inap dengan beberapa tata tertib. Banyak hal positif yang mahasiswa dapatkan, tidak hanya membayangkan gangguan jiwa itu seperti apa, tetapi bisa melihat sendiri kondisi individu yang mengalami gangguan jiwa. Dengan melihat sendiri dan ada pendampingan dari pihak terkait tentunya lebih memahami karna tidak hanya membaca dari teori.

0 comments:

Post a Comment