12.3.20

Field Study at Grhasia Mental Hospital



Field Study at Grhasia Mental Hospital



Ditulis oleh :
Sekar Pramesthi Armindariani (19310410072) 
Dosen Pembimbing: 

FX. Wahyu Widiantoro, S. Psi. M. A. 
Dr. Arundati Shinta, M. A.  

  Rumah sakit jiwa adalah rumah  yang khusus untuk perawatan gangguan mental serius. Rumah sakit jiwa sangat bervariasi dalam tujuan dan metode. Beberapa rumah sakit mungkin mengkhususkan hanya dalam jangka pendek atau terapi rawat jalan untuk pasien berisiko rendah.  Dalam kesempatan kali ini Mahasiswa  Universitas Proklamasi 45 Fakultas Psikologi mengadakan Kunjungan dan Kuliah Lapangan di Rumah Sakit Jiwa Grahsia, sebanyak 50 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing  dari Fakultas Psikologi.  Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu 07 Maret 2020 dari pukul 08:00 hingga pukul 12:30,  kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memahami  tentang ganguan jiwa. 

   Kegiatan ini diawali dengan pengarahan dari pihak rumah sakit Grhasia. Pengarahan yang diberikan berupa prosedur K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), alur pelayanan dan tata tertib aturan kunjungan. Prosedur K3 yang disampaikan meliputi cara mengatasi dan menyelamatkan diri pada saat terjadi kebakaran dan gempa bumi. Ibu Tuti Handayu selaku Kepala Rumah Sakit Jiwa Grhasia, menyisipkan sejarah dari Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Rumah Sakit Jiwa Grhasia sempat melalui beberapa kali perubahan nama dari Koloni Orang Sakit Jiwa, Rumah Sakit Lali Jiwo, Rumah Sakit Jiwa Daerah DIY, Rumah Sakit Grhasia Pemerintah DIY, lalu kemudian pada tahun 2012 resmi mengubah namanya menjadi Rumah Sakit Jiwa Grhasia dan mendapat penetapan dan ijin operasional sebagai rumah sakit tipe A.


   Selanjutnya  tentang alur pelayanan Rumah Sakit Jiwa Grhasia yang di awali  dari IGD sebagai pasien umum atau psikiratrik. Kemudian dari IGD, pasien akan diarahkan untuk Rawat Inap atau Rawat Jalan. Bagi pasien Rawat Inap, pasien akan dibagi dalam 243 tempat tidur dalam 11 wisma. Diantaranya Wisma Bima, Arjuna, Abimanyu, Srikandi, Arimbi, dan beberapa wisma lainnya. Rumah Sakit ini memisahkan pasien perempuan dengan pasien laki-laki dengan pola wisma yang namanya diambil dari tokoh perempuan adalah wisma untuk pasien perempuan, sedangkan wisma yang namanya diambil dari tokoh laki-laki adalah wisma untuk pasien laki-laki. Dan bagi pasien yang menjalani Rawat Jalan, maka RSJG menyediakan Klinik Psikiatrik, psikologi, spesialis, dan NAPZA sesuai dengan keluhan dan arahan pihak rumah sakit.

 Sebelum berkeliling ke wisma perawatan, kami mengikuti sesi materi oleh Ibu Aril Halida, beliau adalah salah satu Psikolog di Rumah Sakit Grhasia. Beliau  menyampaikan materi  yang berjudul “Mental Health and Its Ilness" pada saat Ibu Aril menunturkan  “ Apakah anda sehat jiwa?”. Kami senyap saling pandang satu sama lain dan ragu menjawab pertannyaan ibu Aril, hal ini di karenakan sebagian orang kurang paham bagaimana indikator sehat jiwa sesunguhnya. Dan kebanyakakan orang umum enggan atau malu untuk berobat di RSJ, karena berobat atau konsultansi di RSJ adalah hal yang tabu di masyarakat.

    Ganguan jiwa adalah gangguan mental yang berdampak kepada mood, pola pikir, hingga tingkah laku secara umum. Seseorang disebut mengalami ganguan jiwa, jika gejala dan tanda gangguan jiwa  yang dialami membuatnya tertekan dan tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara normal. Ganguan jiwa tidak hanya di sebabkan oleh satu fakator saja setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan ganguan jiwa diantaranya faktor Biologis, faktor Sosial, faktor Psikologi, dan faktor Spiritual. Dalam pemaparan materinya bu Aril juga menyampaikan jenis ganguan jiwa secara spesifik  Diantaranya Anxiety Disorder, Obsessive Compulsive Disorder, Substance Use Disorder, Anorexia Nervosa, Bipolar Disorder, dan sebagainya dimana hampir semua gangguan mental tersebut dapat muncul pada usia dini. 



   Selain gangguan jiwa, bu Aril juga menyampaikan bagaimana seseorang bisa mengalami depresi. Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan serotonin dan nor epineprin dalam otak. Serotonin merupakan hormon yang mengatur perasaan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung murung, kemarahan,mudah tersinggung sedih. Sedangkan nor epineprin merupakan hormon yang mengatur kekuatan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung hilang minat, malas, atau lemas. Dalam kasus depresi berat  dapat meningkatnya hormon dopamin yang menyebabkan munculnya ide bunuh diri.  Gejala utama dari Depresi adalah murung berkepanjangan, mudah lelah, hilang minat dan adapun gejalah tambahannya yaitu sulit  tidur, tidak nafsu makan, dan adanya ingin bunuh diri atau melukai diri sendiri. Pada akhir penyampaian materi, bu Aril memberikan gambaran mengenai Schizophrenia. Schizophrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Gejala pada Schizophrenia diantaranya delusi/waham, halusinasi, pikiran dan perkataan kacau, gerakan aneh, dan hilangnya ekspresi emosi.



  Usai sesi materi, sebelum mahasiswa berkeliling pihak dari Rumah Sakit, memberitahukan tentanng tata tertib kunjungan diantranya  tidak diizinkan mengunakan HP selama berkunjung dalam Rumah Sakit, dilarang merekam atau mengambil gambar pasien sebagai bentuk merahasiakan identitas pasien, dan dilarang dalam memberikan sesuatu kepada pasien. Pada pukul 11.30, kami melakukan kungjungan dan pengamatan pada pasien yang berada di wisma Srikandi dan wisma Bima. Di wisma Srikandi merupakan wisma bagi pasien perempuan sudah dalam fase maintanance dan sudah bisa diajak berkomunikasi. Pada fase maintanance di RSJG diberikan kegiatan rehabilitasi mental berupa kegiatan las, futsal, musik, membatik, pertanian, dan pendekatan kerohanian sesuatu agama yang dianut masing-masing pasien. Wisma Bima merupakan wisama bagi pasien laki-laki  yang baru masuk rawat inap di RSJG. 

 Kunjungan Studi Kuliah Lapangan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia memberikan kami banyak pengetahuan. Kami menjadi tahu dan paham sehat jiwa,  mengenal ganguan kejiwaan secara spesifik, bagaimana suatu depresi terjadi, dan tata laksana pada pasien ganguan jiwa.  Kami berharap setelah kunjungan ini kami dapat lebih peka dengan lingkungan sekitar, dan memberikantahukan tentang RSJ itu bukanlah hal yang memalukan.

0 comments:

Post a Comment