20.10.19

SEMINAR NASIONAL KESEHATAN JIWA

Ditulis oleh                  : Alia Nanda Rumekti
NIM                            : 19310410066
Dosen pembimbing     : Bp. FX. Wahyu Widiantoro, S. Psi., M. A.




          Kesehatan Jiwa belakangan ini menjadi pembahasan yang cukup hangat di kalangan masyarakat. Sejak diluncurkannya film Joker di layar lebar, Kesehatan Jiwa seperti menjadi sorotan publik. Sorotan tersebut kemudian memunculkan gerakan dan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan jiwa. Hal ini pula yang memotivasi saya untuk memilih jurusan di Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
            Salah satu kegiatan yang telah saya ikuti sebagai mahasiswa semester awal di Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta yaitu Seminar Nasional Kesehatan Jiwa. Pada tanggal 09 Oktober 2019, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, RSJD. DR. RM. Soedjarwadi, Klaten, Jawa Tengah, mengadakan Seminar Nasional Kesehatan jiwa yang dilaksanakan di Ruang Ondrowino RSJD. DR. RM. Soedjarwadi, Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan beberapa berasal dari profesi lainnya. Seminar Nasional yang mengangkat tema “Model Deteksi Faktor Risiko Bunuh Diri Remaja Sebagai Upaya Persiapan Sumber Daya Manusia Unggul Indonesia” ini menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Benny Prawira Siauw, M. Psi dan Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ.
            Benny Prawira Siauw, M. Psi adalah Head Coordinator  dari Into The Light Indonesia. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan materi yang berjudul Suicide Prevention : A Psychological Perspective. Dalam materinya beliau menyatakan bahwa perilaku bunuh diri berawal dari pemikiran hendak mengakhiri hidup dengan metode yang dapat mematikan dan dilakukan dengan sengaja. Beliau juga menyajikan sebuah data penelitian bunuh diri dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun dan 18 sampai 30 tahun. Berdasarkan data yang disajikan tersebut dapat dilihat bahwa usia gawat bunuh diri terletak pada rentang usia 13 sampai 15 tahun dengan nilai 12,3% untuk ASEAN student. Sedangkan nilai tertinggi untuk usia gawat bunuh diri pada kolom Indonesian student dengan nilai 6,9% terletak pada rentang usia 18 sampai 30 tahun.
            Terdapat berbagai faktor yang melatarbelakangi mengapa hal tersebut bisa terjadi. Diantaranya faktor pelecehan seksual, depresi, nilai atau IPK yang rendah, keinginan untuk memiliki prestasi atau pencapaian yang tinggi, tinggal bersama orangtua, dan lain sebagainya. Menurut Benny, tinggal bersama orangtua dapat menjadi salah satu faktor penyebab stress bahkan depresi karena sebagian orangtua sering memaksakan kehendak dan cita-cita masa lalunya yang tidak tercapai kepada anaknya. Dan ada juga orangtua yang tidak membuka ruang bicara sama sekali dengan anak. Stress menjadi pemicu munculnya psychache. Psychache merupakan rasa sakit psikologis atau emosional yang begitu intens hingga melewati ambang batas toleransi seseorang. Psychache ini dapat muncul saat vital needs tidak terpenuhi.
            Benny juga menjelaskan bahwa depresi muncul melalui tiga pandangan diantaranya diri sendiri, hidup atau lingkungan, dan masa depan. Kecenderungan seseorang yang merasa dirinya tidak berguna, tidak menyenangkan, hidupnya penuh halangan, merasa memiliki masa depan yang tidak baik, merasa masalah yang dihadapi tidak kunjung selesai, memiliki risiko yang cukup tinggi untuk mengalami depresi.
            Dalam kesempatan tersebut, Benny juga membagikan pengetahuan tentang pencegahan bunuh diri meliputi pencegahan universal (general population) dan pencegahan selektif (specific population). Untuk melengkapinya, Benny juga memberikan tanda peringatan bunuh diri diantaranya membicarakan keinginan bunuh diri, mencari cara mematikan untuk bunuh diri, putus asa akan masa depan, membenci dan menghujat diri sendiri, mengatur segala hal untuk ditinggalkan, mengucapkan perpisahan, menarik diri dari orang lain, dan melakukan perilaku yang merusak diri sendiri.
            Selain materi yang disampaikan oleh Benny Prawira Siauw, M. Psi, Seminar Nasional Kesehatan Jiwa ini juga menampilkan materi dari Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ. Beliau adalah Secretary General Of Asian Federation Of Psychiatric Associations sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta. Dalam kesempatan tersebut dr. Nova menyampaikan materi yang menjadi inti sekaligus tema dari Seminar Nasional Kesehatan Jiwa ini, yaitu Model Deteksi Faktor Risiko Bunuh Diri Remaja Sebagai Upaya Persiapapn Sumber Daya Manusia Unggul Indonesia. Dalam materi tersebut, dr. Nova menyampaikan tentang Teori Philips et al (1995), yaitu 5 aspek yang menunjukkan hubungan dua arah dengan ide bunuh diri, yaitu jejaring interpersonal, lingkungan sosio-ekonomi, identitas sosial, sumber daya pribadi dan stresor psikososial, faktor biologis dan status psikologis.
            Disajikan pula data tentang Sekolah Ramah Anak dan Standar Pelayanan Minimal. Pelaksanaan Sekolah Ramah Anak dilengkapi dengan instrumen yang menyatakan sekolah tersebut ramah anak, memaksimalkan fungsi guru BK atau Bimbingan Konseling, dan pengadaan raport kesehatanku yang memuat rata-rata  kesehatan mental dan fisik peserta didik. Sebagai pelengkap materi yang disampaikan, dr. Nova juga membagikan pengetahuan tentang 5 Future digital health system yang dikutip dari WHO diantaranya sistem kesehatan akan responsif dan berkelanjutan, peran tenaga medis dalam sistem kesehatan digital, pengobatan menjadi pencegahan, sistem kesehatan digital dapat membantu mengurangi ketidaksetaraan, dan digitalisasi memungkinkan para profesional punya lebih banyak waktu pembelajaran.
            Seminar Nasional Kesehatan Jiwa ini memberikan banyak pengetahuan baru bagi berbagai kalangan meliputi pencegahan bunuh diri, tanda peringatan bunuh diri, faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko bunuh diri, dan lain sebagainya. Seminar Nasional Kesehatan Jiwa ini diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Karena selain menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan jiwa, kegiatan ini dapat menjadi wadah bertukar pikiran antar berbagai kalangan dan dapat memperkaya wawasan. Terima kasih kepada Fakultas Psikologi, kepada Bapak Rektor, Ibu Dekan, dan Bapak-Ibu Dosen Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta sekalian yang telah memfasilitasi kami untuk terus mengembangkan potensi diri.





0 comments:

Post a Comment