3.10.19

PSIKOLOGI REMAJA DAN PERMASALAHANNYA

PSIKOLOGI REMAJA DAN PERMASALAHANNYA 


Rifdah Nur Aqilah
19310410061
Psikologi Umum 1
Dosen Bp. Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA

   Menurut WHO (www.depkes.go.id), remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2004, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

       Adapun perubahan fisik yang terjadi pada fase remaja yang begitu cepat, misalnya perubahan pada kerakteristik seksual baik pada remaja laki-laki maupun remaja perempuan. Tidak hanya perubahan fisik saja, perubahan mental pun mengalami perkembangan (Alex Sobur, 2003). Pada fase ini, pencapaian identitas diri sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, idealistis, dan semakin banyak waktu diluangkan diluar lingkungan keluarga.

    Perkembangan dalam fase remaja ini sering disebut dengan fase pubertas (puberty). Pubertas bukanlah peristiwa tunggal yang tiba-tiba terjadi, namun bagian dari suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual) (ibid, hal 7). Contohnya, kita banyak melihat fenomena remaja yang duduk berjam-jam didepan kaca untuk penampilan yang sempurna dan meyakinkan bahwa dirinya menarik. Mengapa demikian? Karena hormon seksual pada remaja sudah berfungsi, maka dari itu mereka sudah mempunyai rasa ketertarikan dengan lawan jenis sehingga mereka begitu cemas dan tertekan apabila ada yang kurang dari penampilan dirinya. Mereka berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan berbagai cara. 

      Pada tahun 1904, psikolog Amerika, G. Stanly Hall menulis buku ilmiah pertama tentang hakikat masa remaja yang mengupas mengenai masalah “Strorm-and-Stress (Pergolakan dan Stress)”. Dalam bukunya, Hall mengatakan bahwa masa remaja itu merupakan masa-masa pergolakan yang penuh dengan konflik dan buaian suasana hati dimana pikiran, perasaan, dan tindakan bergerak pada kisaran antara kesombongan dan kerendahan hati, kebaikan dan godaan, serta kegembiraan dan kesedihan (ibid, hal 8).

    Gambaran yang diberikan media mengenai remaja sebagai sosok yang memberontak, gemar ikut-ikutan tren dan mode, menyimpang, dan terpusat pada diri sendiri – Rebel Without a Cause diakhir tahun 1950-an, dan Easy Rider di tahun 1960-an. Kembali pada fase pubertas, bahwasanya remaja itu memiliki ambisi yang meninggi, seringkali tidak realistis, sensitifnya terhadap penilaian orang lain pada diri mereka, sangat benci bila dianggap anak kecil dan pemikirannya yang terlalu muluk (berlebihan). Tanpa disadari, mereka mudah terperosok dalam suasana persaingan (ibid, hal 9). 

     Pertentangan dan pemberontakan itu bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional (Ruqayyah Waris Masqood, 1998). Oleh karena itu, dalam perkembangan remaja yang penuh gejolak, peranan keluarga, sekolah, masyarakat dan kebijakan pemerintah  dalam dunia pendidikan ikut andil besar untuk mengenali dunia mereka dan memberikan kesempatan untuk berkembang dalam potensi diri mereka (Oos M Anwas, 2010). Selain itu, pendidikan karakter tetap harus ditingkatkan penerapan kualitasnya baik itu di lingkungan keluarga maupun disekolah. 

        Study J Mark dan Monica J Taylor (dalam buku Pendidikan Karakter, tahun 2004) menunjukkan bagaimana pembelajaran dan pengajaran nilai sebagai cara membentuk karakter terpuji telah dikembangkan. Peran sekolah yang menonjol terhadap pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai dalam 2 hal, yaitu : “build and suplement the values children have already begun to develop by offering further exposure to a range of values that are current in society (such as equel opportunities and respect for diversity):and to help children to reflect, make sense of and apply their omn developing values.”












DAFTAR PUSTAKA
Anwas, Oos M. Oktober 2010. “Televisi Mendidik Karakter Bangsa: Harapan dan Tantangan”, dalam jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balitbang Pendidikan Nasional. Vol.16. Edisi III. Hal.261
http://ekaagustianip.blogspot.co.id/2013/10/kriminalitas-remaja.html www.depkes.go.id 
Ibid Hal. 7-9
Kusuma, Dony. 2004. Pendidikan Karekter. Jakarta: Grasindo.
Masqood, Ruqayyah Waris. 1998. Mengantar Remaja ke Syurga. Bandung: Mizan.
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development, Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga. 
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia. Hal. 7

0 comments:

Post a Comment