20.10.19

Film joker (2019) menurut sudut pandang ilmu psikologi



Film joker (2019) menurut sudut pandang ilmu psikologi


Rr.Sekarlangit Ayuningtyas Rahawarin

(18.310.410.1179)
Psikologi kepribadian 2





  Film joker yang di perankan oleh joaquin phoenix menuai banyak pujian oleh kritiskus film dan banyak penghargaan, namun siapa sangka film yg mapu menghibur kita tsb membawa beberapa dampak negatif. Mengutip dari pandangan seorang tokoh bernama albert bandura dan seorang psikolog sekaligus trainer no 1 di indonesia Dedy susantyo (2019) film joker mempunyai beberapa dampak negatif bagi orang yang menonton bagi orang yang sehat secara psikologis dan orang yang  mempunyai pernah punya ganguan ganguan psikologis ringan maupun berat.

      Di sini akan saya jelaskan satu persatu dampak negatif menonton film joker terhadap psikologis org yg menonton Dedy susantyo,(2019)

1)     Bagi orang yg punya riwayat ganguan jiwa berat/ringan dapat memicu munculnya kembali perasaan-perasaan tidak nyaman yang berujung pada mood swing, flat feeling, apatisme, kekacauan emosi,psikosomatik dsb.
2)     bagi yang sehat jiwanya melihat film ini dapat dapat membuat masukan pembendaharaan negatif yg masuk ke alam bawah sadar,karena alam bawah sadar hanya mapu menerima bukan menyaring hal tsb dan juga jiwa terbentuk dari apa yg dilihat dan di dengar

Hal ini juga mempunyai korelasi dengan teori social  learning dari Albert bandura Menurut Bandura dalam teori belajar sosialnya (Djuwita,2008), perilaku tersebut dapat terjadi
karena dua metode yaitu pembelajaran instrumental yaitu terjadi jika sesuatu perilaku di beri penguat atau diberi reward (hadiah), maka perilaku tersebut cenderung akan diulang pada waktu yang lain. Dan pembelajaran observasional yaitu terjadi jika seseorang belajar perilaku yang baru melalui observasi atau pengamatan kepada orang lain yang disebut ―model‖.
Lebih lanjut Bandura mengatakan bahwa, perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial seperti interaksi dengan keluarga, interaksi, dengan rekan sebaya dan media massa melalui modelling. Selain karena akibat dari mencontoh (model ) melalui mengamatan serta adanya penguatan dari lingkungan terhadap perilaku tersebut
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa satu faktor terbentuknya perilaku baru adalah karena adanya penguatan dari lingkungan, termasuk dalam hal ini ialah menonton film sebagai (model).


Referensi:
channel youtube kuliah psikologi retrivied on 10/10/2019/https://m.youtube.com/watch?v=cYanOKmqHT0
Djuwita, Ratna, Bullying: Kekerasan Terselubung Di Sekolah. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 10 (2) (2017)


0 comments:

Post a Comment