17.9.19

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BERDASARKAN PANDANGAN HIDUP ORANG JAWA


PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BERDASARKAN PANDANGAN HIDUP ORANG JAWA



Imelta Indriyani Alfiah
19310410062
Psikologi Umum I
Dosen Bp. FX. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A

Melihat kenyataan hidup khususnya di tanah Jawa, tidak terlepas dari tindak-tanduk (perilaku) yang mencerminkan tata krama, sopan santun dan budi pekerti yang luhur. Kondisi yang memprihatinkan saat ini, kemerosotan moral bangsa sudah mencapai titik terendah Masyarakat cenderung terpengaruh oleh budaya global dengan nilai-nilai baru yang mengesampingkan sopan santun.
Pandangan hidup Jawa sampai sekarang tampaknya belum dipahami secara merata. Bahkan belum sampai memahami, telah banyak orang yang menyalah artikan sehingga menimbulkan paham keyakinan yang kadang sulit sekali dipahami karena terkesan tidak masuk akal. Contoh kecil adalah “Ma Lima” (dibaca mo-limo), adalah ungkapan bahasa Jawa untuk menyebut perilaku yang merugikan manusia karena kecanduan akan mangan (makan makanan enak), minum (minum minuman keras atau mabuk-mabukan), main (min kartu atau berjudi), madat ( menghisap candu, kalau sekarang narkotika dan obat-obatan terlarang), madon (royal atau main perempuan). Orang Jawa mengajarkan agar setiap orang menghindari Ma Lima. Karena dilakukan dapat merusak unsur anatomis tubuh dan dapat mengganggu kestabilan jiwa dan lingkungan.
Pandangan hidup Jawa juga didasarkan pada pengakuan adanya jagad gedhe (makro kosmos) dan jagad cilik (mikro kosmos). Orang Jawa beranggapan bahwa kosmos atau alam raya merupakan sesuatu yang teratur dan tersusun secara bertingkat (hirarkis). Tugas moril dari manusia adalah menjaga keselarasan dengan tata tertib universal (Mulder, N., 1973: 36). Melalui berbagai nilai dan norma yang tertuang dalam kebiasaan, adat istiadat, dan sebagainya yang disampaikan dari generasi ke generasi seperti tentang pertautan kehidupan manusia dengan lingkungannya, harus diindahkan oleh setiap anggota masyarakat apabila masyarakat menghendaki kelestarian hidupnya terjamin (Endrapradana, P., 1991: 6)
Dasar pendidikan budi pekerti untuk generasi mendatang sudah sejak dulu diberikan oleh leluhur kita dalam berbagai bentuk warisan seperti petuah, ungkapan, kidung dan macapatan yang didalamnya terkandung berbagai filosofi dan tatanan yang dapat digunakan sebagai landasan untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku di tengah kehidupan sehari-hari. Corak dasar masyarakat Jawa adalah gotong royong dan kekeluargaan. Demi kebersamaan, ketentraman, dan kedamaian maka perlu adanya pelestarian ungkapan, kidung, tembang-tembang macapat untuk digunakan sebagai bahan pendidikan budi pekerti untuk membentuk manusia berhati mulia.

DAFTAR PUSTAKA
Endrapradana, P. 1991. Manusia dan Lingkungan Hidupnya. Malang: FPIPS IKIP Malang.
Jatman, D. 2000. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Mulder, N. 1973. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Subandriyo, B. 2000. Keselamatan Bagi Orang Jawa. Jakarta: BPK Gunung Mulia.


0 comments:

Post a Comment