26.9.19



KASUS PSIKOLOGI

Kasus H.M.

Henry Gustav Molaison alias H.M. mengalami tabrakan sepeda dan kepalanya terhantam keras, ketika berusia tujuh tahun. Sejak itu, ia sering mengalami kejang-kejang dan pingsan. Pada usia 16 tahun, ia mengalami kejang grand mal pertamanya, jenis kejang yang melumpuhkan otak secara keseluruhan. H.M. mengalami hal ini hingga sepuluh kali sehari.
Penat dengan semua ini, H.M. memohon pada seorang dokter untuk bereksperimen dengan otaknya. Pada masa itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebab kejang-kejang terdapat di sebuah area di hipokampus. Dokter kemudian melubangi tengkorak H.M., menyedot hipokampus dan sebagian jaringan di sekitarnya.
Kejang-kejangnya berhenti, namun muncul masalah baru. H.M. bisa mengingat namanya dan sejumlah peristiwa penting di masa lalu, tapi kesulitan mengingat hal-hal baru. Bahkan dia nggak bisa mengingat informasi baru selama 20 detik. Setiap acara tv, lagu yang ia dengar, orang yang ia temui, adalah sesuatu yang baru. Hipokampus H.M. telah hilang di kedua belah otaknya, membuat dia nggak mampu menyimpan informasi baru jangka panjang.


Kasus psikologi paling terkenal sepanjang masa
H.M. sumber: abc.net.au

Sejak itu H.M. menjadi semacam “selebriti” di dunia penelitian neurosains. Ia menjadi subyek penelitian lebih dari 100 psikolog dan ilmuwan, dan disebutkan di lebih dari 12000 jurnal. Pada masanya, kasus H.M. menjadi terkenal karena ilmuwan meyakini memori disimpan di korteks serebral.
H.M. mungkin sudah meninggal, namun peninggalannya abadi: otaknya disimpan dan direkam secara 3D. Kisahnya juga dibukukan di Permanent Present Tense, The Man With No Memory and What He Taught The World.


Kasus Phineas Gage

 Gage adalah seorang pekerja rel di Central Vermont, Amerika Serikat. Salah satu tugasnya adalah meledakkan bukit-bukit untuk membuat rel. Suatu hari, karena kerja sambil ngelamun, Phineas menjadi korban ledakan. Sebatang besi meluncur ke keningnya, menembus otak, dan menancap di situ.





Ajaibnya, Phineas selamat. Namun, teman-teman dan keluarganya menganggap Phineas sebagai orang yang berbeda. Dalam laporannya, Dr. John Harlow (1868) menulis bahwa, “Phineas kini menjadi tidak menghargai rekan kerjanya, tidak sabaran, berkelahi tanpa sebab, sering gelisah, keras kepala, impulsif, dan kekanak-kanakan”.
Nggak ada otopsi ketika Phineas meninggal. Pada 1867, kuburannya digali, dan tengkoraknya diberikan pada Harlow untuk diteliti. Namun, otaknya sudah nggak ada.
Tengkorak yang berlubang, serpihan tulang, dan infeksi diyakini merusak jaringan otak Phineas. Pada 2004, Tatiu dkk menggunakan CT-scan untuk menciptakan bayangan tiga dimensi untuk simulasi otak Phineas, dan dari penelitian mereka ditemukan bahwa yang tertembus besi adalah otak sebelah kiri.
10 Kasus Psikologi Paling Terkenal Sepanjang Masa
Kasus Gage yang terjadi 170 tahun lalu ini menjadi pelopor penelitian mengenai pengaruh kerusakan otak terhadap kepribadian.










INDRA SANTIKA I
indy/ 183104201194
@indiearab1
@indimalfoy
085743439917

0 comments:

Post a Comment