31.7.19

COSPLAY DALAM EKSPRESI PSIKOLOGI



Reni Suryani
173104101169



        Suasana kampus di siang yang begitu panas mendadak menjadi riuh dengan kehadiran serombongan orang asing dengan mengenakan pakaian yang sekilas tampak aneh. Sempat terdengar beberapa dari orang asing tersebut hendak merebut dan menguasai kampus. Mereka pun menyusun strategi untuk mengadu domba dan menggunakan cara-cara licik bahkan kekerasan. Bentrok fisik pun tak terhindarkan, beberapa dari segerombolan orang asing yang mengenakan pakain aneh tersebut ternyata membawa senjata yang mengerikan. Demikian penggalan kisah drama yang ditampilkan oleh Cosplay Hi no K community dalam acara Pentas Kreasi Seni, berjudul Ekspresi Psikologi di halaman Kampus Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Sabtu, 27 Juli 2019.


           Cosplay, merupakan kependekan dari kata costume dan play, berkembang dengan konsep yang mengadobsi kebudayaan animasi di Jepang, yang diwujudkan menjadi karya pakaian. Selain film animasi, adobsi ini bersumber dari komik, di Jepang dikenal dengan manga. Cosplay secara spesifik menunjukkan kecintaan beberapa orang remaja yang terdiri atas komunitas-komunitas, terhadap film animasi dan karakter manga. Para cosplayer yang tampil dalam acara Ekspresi Psikologi UP45 dengan mengangkat tema “Seni Sebagai Ekspresi Multikultur Nusantara”, antara lain yang tergabung dalam Anoman, Kaitsu, dan Cosplay Jogja.




         Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi.,M.A., dosen Fakultas Psikologi UP45 menjelaskan alasan menghadirkan komunitas cosplay dalam acara Pentas Kreasi Seni Psikologi bahwa pada cosplay terdapat banyak sekali kemampuan seni yang dikembangkan. Adapun unsur seni yang dikembangkan antara lain fashion design, kemampuan craftmanship, pembelajaran make up, keterampilan membuat pola dan menjahit, seni fotografi dan foto editing, termasuk audio dan video editing, aktivitas akting dan koreografi. ”Cosplay ini adalah seni berpakaian dan seni berakting, keduanya harus ada secara bersamaan, sebagai bagian peniruan karakter pakaian dan kepribadian tokoh yang diidolakan”, ungkap Wahyu.


        Persiapan rekan-rekan cosplayer untuk acara pentas kreasi seni kali ini cukup memakan waktu relative singkat. Cosplay bukanlah hobi yang murah, diperlukan kemauan dan kerja keras cermat untuk menghasilkan pakaian cosplay dengan kualitas baik, termasuk penggunaan aksesorinya. Seperti costum yang saya kenakan, memerankan karakter Ueno Tsuruhime dari series Sengoku Basara. Saya tertarik dengan karakter tersebut karena Tsuruhime mempunyai karakter yang pemberani, disamping itu dia mempunyai sifat pemalu. Diungkapkan oleh Resti yang mengenakan costum tokoh Date Masamune dari series Basara “Saya sangat mengidolakan tokoh Masamune, maka saya dengan mudah menirukan cara jalannya”, ungkap Resti. Lain halnya dengan Muhammad Firman, ”Saya membutuhkan beberapa hari untuk menyusun naskah skenarionya agar ceritanya sesuai karakter tokoh yang dikenakan oleh teman-teman.”, ungkap Firman.

        Hi No K community menampilkan cerita anime dari Jepang yaitu Sengoku Basara yang di gabungkan dengan acara Indonesia yaitu Opera Van Java.  Inilah nama anggota Hi No K Community yang meramaikan acara ekspresi psikologi pada hari sabtu, 27 Juli 2019 yaitu  Firman sebagai Yukimura Sanada, Vidiana Sebagai Kasuga, Noe sebagai Ishida Mitsunari, Reni sebagai Ueno Tsuruhime, Resti sebagai Date Masamune, Intan sebagai Matsu Maeda,  Fahrul sebagai Motochika Chosokabe, Galih Restu sebagai Ranmaru, Atox sebagai Akechi Mitsuhide. Ada pula hiburan komedi yang dikemas oleh cabaret tersebut seperti Galih Kusuma sebagai pak dalang dan Aris adalah anggota yang membantu penampilan cabaret tersebut.



       “Sesuai dengan judul acara Ekspresi Psikologi, serta tema yang diangkat dalam Pentas Kreasi Seni kali ini yaitu Seni Sebagai Ekspresi Multikultur Nusantara. Cosplay merupakan ekspresi yang terwujud dalam desain dan seni bermain peran, cosplayer melalui pakaian yang di kenakan harus memahami karakter sehingga mampu memerankan karakter suatu tokoh tertentu. Pembuatan pakaian cosplay yang berdasarkan pada cerita, dongeng, dan komik-komik tentunya membutuhkan kemampuan kreativitas dan sebagai bentuk akulturasi antara ide-ide kebudayaan Jepang dan Indonesia”, ugkap Wahyu.



   Kegiatan pentas kreasi seni psikologi UP45 mengundang berbagai komunitas seni di Jogjakarta, Siswa- siswa SMA dan sederajat yang tergabung dalam group seni, serta generasi muda pelaku dan penggiat seni. Antusiasme peserta acara ditunjukan dengan hadirnya beragam komunitas seni yang berpartisipasi dalam memeriahkan acara antara lain yaitu Daun Sirih Band, kelompok band yang terdiri dari para alumni UPN Jogja, Dinamic Dino dan C5 band dari UKM Seni UAD, Cosplay Hi no K community, UKM SENI K-HISTA dari UP45, Psikoband dan Psiko Idol dari Fakultas Psikologi UP45, Anjas Stand Up Comedy, Akustik Rui Fatima Mandeira perwakilan mahasiswa dari Timor Leste.




0 comments:

Post a Comment