10.4.19

Semua Manusia adalah Baik


Semua Manusia Adalah Baik
Abraham Maslow


Psikologi Humanistik
Nurul Widiastoni

            Di dalam buku Psikologi Kepribadian 2 yang berjudul Teori-Teori Holistik di sebutkan bahwa Maslow telah mengemukakan sejumlah asumsi  yang menakjubkan tentang kodrat manusia. Manusia memiliki kodrat bawaan yang pada hakikatnya adalah baik atau sekurang-kurangnya netral. Kodrat manusia menurut pembawaanya tidak jahat. Jadi insting manusia itu adalah baik tanpa harus di jinakkan dengan latihan dan sosialisasi.
 Kepribadian berkembang  melalui pematangan dalam lingkungan, daya-daya kreatif manusia akan muncul untuk merealisasikan kodratnya. Jika ada manusia mengalami neurotik itu di sebabkan karena lingkungannya melalui ketidaktahuan dan patologi sosial atau karena terjadi distorsi dalam pikiran mereka.
Maslow juga berpendapat bahwa banyak orang takut akan dan mengundurkan diri  dari menjadi manusia sepenuhnya (diri yang teraktualisasikan). Sifat destruktif dan kekerasan bukan merupakan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif apabila kodrat batinya di belokkan, di sangkal atau di kecewakan. Ada perbedaan antara Kekerasan patologis dan agresi sehat dalam melawan ketidak adilan, prasangka, dan penyakit sosial lainnya.
Maslow juga pernah mengatakan orang yang hidup sebagai orang primitif adalah sebutan bagi orang yang memiliki tuntutan hidup yang tinggi menjadikan masyarakat modern melakukan pengabaian terhadap potensi-potensi yang  ia miliki. Ia menjadi kurang berani menyuarakan kebenaran demi mengisi perut yang kosong.
Teori ini mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk yang tidak akan puas hanya dengan terpenuhi satu kebutuhan, tetapi ia akan puas jika semua kebutuhan terpenuhi. Sobur (2003 dalam Mawaddah 2010: 25 ) mengatakan bahwa Maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Ia membahas lima tingkat kebutuhan yaitu, (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, tidak hanya fisik, tetapi juga mental, psiokologikal dan intelektual, (3) kebutuhan akan kasih sayang, (4) kebutuhan akan harga diri, (5)aktualisasi diri, memiliki arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Orang menjadi jahat bisa di katakan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan. Apalagi kebutuhan dasar yang sangat penting di dahulukan. Mereka tidak memaksimalkan potensi dan daya kreatif yang dimilikinya sehingga berusaha memenuhi kebutuhan dengan jalan yang tidak baik. Misalnya  mencuri barang milik orang lain ataupun  melakukan korupsi (yang dilakukan para pejabat).
Dalam Ilmu Kriminologi di jelaskan bahwa setiap orang  mempunyai potensi untuk berbuat jahat. Potensi itu akan muncul ketika ada pemicunya. Demikian juga dengan anak-anak atau remaja. Seperti berita yang sedang ramai di bicarakan saat ini  tentang pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak. Kasus ini mendapat perhatian luas di media sosial sehingga muncul tagar #JusticeForAudrey. Memang begitulah manusia ketika kebutuhan untuk memuaskan nafsu jahatnya mengalahkan akal sehatnya. Apalagi ketika kejahatan dilakukan dengan bersama-sama (kelompok) yang awalnya ketika dilakukan sendirian merasa takut, maka akan menjadi berani ketika di lakukan bersama-sama.
Referensi
Ludiana, fika, dkk. 2017. Motivasi Warga Negara Asing Mengajar di English Fokus Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah Volume 2, Nomor 2:108-132.
Hall, Calvin S., & Lindzey, Gardner (2000), Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Dr. A. Supratiknya (ed.), Jogjakarta :Kanisius .

0 comments:

Post a Comment