8.4.19

Mengenal Skizofernia


Berkati Gaho (17.310.410.1162) Mata kuliah : Psikologi Abnormal

Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang termasuk dalam kelompok gangguan neurokognitif terjadi gangguan dalam proses pikir dan persepsi. Dalam sejarahnya pada awal tahun 1900, gangguan ini diistilahkan sebagai “dementia praecox” yaitu suatu kondisi menyerupai demensia dengan gangguan yang menonjol pada kognisi yang terjadi sebelum waktunya karena banyak mengenai orang-orang usia muda. Pada tahun 1911, oleh Alfred Bleuler, istilah tersebut kemudian digantikan dengan “skizofrenia” yang ditandai dengan empat gejala A yang menonjol (Asosiasi yang abnormal, gangguan Afek, Autisme, dan Ambivalensi). Seseorang dikatakan menderita skizofrenia jika gejala-gejala skizofrenia sudah dialami sekitar sekurangnya 1 bulan dan gejala menetap sekurangnya selama 6 bulan. Jika kurang dari itu maka orang tersebut dikatakan menderita psikotik akut atau lir-skizofrenia.

Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2002).
Berdasarkan atas kriteria diagnostik yang tercantum dalam DSM IV-TR, maka seseorang dikatakan menderita skizofrenia bila mengalami dua atau lebih gejala berikut yang telah berlangsung selama sekurangnya satu bulan lamanya :
1.      Waham/delusi : gangguan isi pikir berupa suatu keyakinan yang salah, tidak sesuai realita, tidak dapat dikoreksi, dan tidak sesuai dengan latar belakang sosial dan budaya dari pasien.
2.      Halusinasi : gangguan persepsi di mana respon muncul tanpa adanya sumber stimulus dari lima panca indera. Halusinasi dapat berupa halusinasi pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi pengecapan, halusinasi perabaan, halusinasi penghiduan.
3.      Pembicaraan kacau : merupakan gangguan pada proses pikir, derajatnya bervariasi dari gangguan ringan seperti derailmenthingga kondisi berat berupa inkoherensia di mana kata-kata pasien tidak dapat dimengerti lagi sepenuhnya. 
4.      Perilaku kacau atau perilaku katatonik
5.      Gejala negatif seperti afek yang terganggu, ketiadaan pembicaraan, ketiadaan gerakan, sikap menarik diri berlebihan, dll.
Kriteria tersebut dapat ditegakan bila hanya ditemukan waham yang bersifat bizare (aneh) atau halusinasi pendengaran berupa suara yang terus-menerus berkomentar atau menyuruh-nyuruh pasien, atau suara-suara yang bercakap-cakap di antara mereka sendiri. Selain itu harus ditemukan pula gangguan yang jelas pada fungsi sosial dan pekerjaan. Masa awal kondisi ini dapat berlangsung beberapa bulan hingga tahunan dengan perilaku menarik diri yang sangat menonjol atau perubahan pada perilaku dan emosi. Kemungkinan kondisi organik, penyalahgunaan zat, dan gangguan mood harus sudah disingkirkan.

Contoh kasus :
Tn. B adalah seorang pria single berusia 26 tahun. Dua bulan lalu, ia baru saja putus dari pacarnya yang sudah dipacarinya selama 5 tahun dan sudah berencana untuk menikah tahun depan. Semenjak putus dari pacarnya, ia menjadi pendiam dan banyak mengurung diri di kamar. Kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama dan sejak satu bulan lalu menurut keluarganya, ia berubah. Tn.B tidak mau mengurus dirinya sendiri, tidak mau makan dan tidak mau mandi. Untuk makan Tn.B sampai perlu dipaksa oleh keluarganya, ia selalu curiga bahwa makanan yang diberikan pada dirinya mengandung racun hingga ia mati-matian menolak untuk makan makanan tersebut padahal makanan tersebut dimasak langsung oleh ibunya sendiri. Ia hanya mau makan jika membeli di luar, itu pun jika makanan itu dibelinya sendiri.
Tn.B juga sering kali nampak melamun dan jika diajak bicara kadang-kadang menjawab tidak sesuai dengan ditanyakan. Pembicaraannya kacau dan tidak dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Ia berkali-kali marah tanpa alasan yang jelas dan membawa-bawa pisau di dalam rumah. Perilakunya ini menyebabkan keluarganya ketakutan dan ketika ayahnya bertanya mengapa ia melakukan hal itu, ia mengatakan mendengar suara orang yang menyuruhnya. Beberapa kali keluarganya memergoki bahwa ia tidak tidur di malam hari dan kadang-kadang mengatakan ia ketakutan karena ada mahluk halus di dalam kamarnya. Pada satu kesempatan, Tn.B nampak berbicara sendiri seperti bercakap-cakap dengan orang yang tidak kelihatan. Karena perilakunya mengancam orang-orang di sekitarnya, akhirnya Tn.B dibawa ke psikiater dan dari pemeriksaan diketahui bahwa bibinya dari pihak ayah mengalami gejala serupa dengan Tn.B.

Jadi marilah kita mengenali lebih lanjut apa penyebab penyebab terjadinya skizofren supaya kita dapat mencegah terjadinya skizofren pada orang orang yang kita sayangi, selain itu juga agar kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana ciri ciri orang yang mengalami skizofren. Agar dapat diproses dengan cepat.

Referensi :
Dr.Fransiska 2012. Mengenal Skizofernia dalam https://www.kompasiana.com/dr.fransiska/551a28008133116a7e9de0ed/ Diakses pada tanggal 2 Desember 2012
Stuart. 2002. Skizofernia Dalam https://www.researchgate.net/publication/324264901_ Di akses pada 4 April 2018

0 comments:

Post a Comment