8.4.19

“KETERBATASAN FISIK BUKAN PENGHALANG”


“KETERBATASAN FISIK BUKAN PENGHALANG”
Nama : Meissy Bella Sari
Nim : 163104101143
Mata Kuliah : Psikologi Humanistik

  
Di dunia ini tidak semua orang terlahir dengan sempurna. Sebagian manusia ada yang memiliki kekurangan. Baik kekurangan material, bahkan kekurangan fisik. Mereka yang memiliki kekurangan, jika tidak mampu untuk menyadari bahwa diri mereka berharga dan mampu melakukan apa yang orang lain sebagian dari mereka ada yang merasa depresi, tidak berdaya, bahkan mereka memilih unutk mengakhiri hidup. Namun, mereka yang mampu menyadari bahwa diri mereka adalah invidu yang berharga dan merasa bahwa mereka sama dengan individu lain, mereka mampu menjalani kehidupan seperti orang-orang normal. Sebagian dari mereka ada juga yang melakukan hal yang luar biasa dengan kekurangan yang mereka miliki.
Menurut Seligman, “Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.
Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Menurut Seligman dan Csikszentmihalyi (2000), psikologi positif memiliki tiga dimensi yaitu pada level subyektif, individual, dan grup/kelompok.
·         Pada level subyektif, tingkatan dari psikologi positif seperti perasaan senang, bahagia, nyaman, dan sebagainya yang mana hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut.
·         Pada level individual, terlihat sebuah pola perilaku yang dapat diamati oleh individu lain dan lebih bersifat eksternal jika dibandingkan dengan level subyektif yang hanya sebatas internal individu, lebih fokus pada positive individual traits
·         Pada level kelompok, psikologi positif berfokus pada mengembangkan, menciptakan, dan menemukan suatu situasi yang positif dimana lebih kearah lingkungan bagaimana lingkungan tersebut dapat menciptakan sebuah kekuatan individu.
Asumsi dasar psikologi positif adalah “The Good Life”, dimana merupakan kombinasi dari tiga elemen yakni hubungan yang positif dengan orang lain (positive connections to other), pribadi yang positif (positive individual), serta karakter atau kepribadiaan dan regulasi kehidupan yang berkualitas (traits and life regulation qualities).
Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh yaitu kisah dari seorang pria dewasa berusia 33 tahun berinisial YS yang mengalami keterbatasan fisik hanya memiliki 2 kaki kecil tanpa lengan dan tangan. Awalnya YS sempat merasakan depresi begitupula yang dirasakan ibu YS. Namun dengan besar hati YS mampu menerima kekurangan yang harus dialaminya, YS menyadari keterbatasannya itu tentu saja akan merepotkan banyak orang, namun ia bertekad untuk mampu berguna bagi orang lain dan kekurangan itu bukan penghalang baginya. Meskipun melakukan aktivitas sehari mengalami kesulitan namun ia berusaha untuk menyelesaikan sesuai dengan kemampuannya tanpa ingin merepotkan orang lain, untuk mengisi kesehariannya YS memilih menjadi guru mengaji di rumahnya tanpa meminta bayaran dari setiap anak muridnya hal tersebut merupakan kebahagiaan tersendiri baginya. Murid-muridnya kebanyakan adalah anak-anak SD di sekitar perumahannya yang datang kepadanya  untuk menimbah ilmu membaca Iqra dan Al-qur’an.
Analisa pada kasus di atas jika di kaitkan dengan psikologi positif di lihat dari 3 dimensi yakni level subjektif, level individu dan level kelompok. Pada level subjektif, tergambarkan bagaimana YS yang merasakan kebahagian dan kenyamanan tersendiri ketika ia memutuskan menjadi guru mengaji meskipun kondisinya seperti itu. Pada level individual, bisa diamati melalui pola perilaku yang ditunjukkan oleh YS selama masa hidupnya, yang tetap berjuang dalam segala keterbatasannya mengajarkan para murid-muridya. Dan terakhir pada level kelompok, dibalik kondisi yang serba kekurangan, YS menciptakan kekuatannya melalui situasi- situasi positif yang ia ciptakan sendiri di dalam lingkungannya yakni salah satunya tadi dengan mengajar.
Selain itu YS juga mencapai asumsi dasar di dalam psikologi positif yakni The Good Life. Asumsi tersebut memiliki 3 komponen dimana YS selalu menjalin hubungan yang positif dengan orang lain (positive connections to other), memiliki pribadi yang positif (positive individual), serta menciptakan karakter/kepribadiaan dan regulasi kehidupan yang berkualitas (traits and life regulation qualities). hal ini nampak semasa hidupnya saat YS memutuskan untuk mengajar, bertemu dengan murid-muridnya, menjalin hubungan yang baik dengan murid-muridnya.
Jadi dapat disimpulkan Psikologi positif menekankan pada kebahagiaan, keunggulan, dan pengoptimalan fungsi kemanusiaan. Setiap manusia berhak untuk mendapatkan kebahagian dalam kehidupannya, manusia juga memiliki keunggulan pada dirinya, dan untuk mendapatkan kebahagiaan serta mampu memiliki keunggulan, setiap manusia harus mampu mengoptimalkan fungsi kemanusiaannya.  Dan mencapai “the good life” tentunya tidak terlepas dengan menjalin hubungan positif dengan orang lain, memiliki pribadi yang positif, serta menciptakan karakter atau kepribadian yang berkualitas.

Martin Seligman.
Irawan, Nova Eka. (2015). Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi dari Klasik sampai Modern.IRCISOD

0 comments:

Post a Comment