6.4.19

IBU ADALAH PENDIDIK YANG UTAMA


IBU ADALAH PENDIDIK YANG UTAMA
Siti Hanifah (16.310.410.1151)

Anak merupakan bentuk cerminan dari kedua orangtuanya begitupun nampak jelas terlihat saat saya pernah mendampingi anak-anak belajar di TK, terlihat nyata bagaimana orangtua mendidik anaknya sehingga tercermin saat mereka belajar ditaman kanak-kanak, ada salah satu orangtua yang membuat saya salut namanya Ibu Ernita, ibu 2 anak ini selain sibuk dengan pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga yang mengurus anak suami juga sebagai perawat disalah satu rumah sakit di Yogyakarta, beliau tetap memprioritaskan keluarganya utamanya anak. Disini sang anak pun benar-benar begitu dermawan, kritis, disiplin, dan teratur diusianya yang masih 6 tahun, saat sebelum dan sesudah makan harus cuci tangan, sampah dibuang pada tempatnya dll. Pernah suatu ketika sang anak melihat temannya bertengkar kemudian melerai dan disuruh kedua temannya ini meminta maaf atau saat gaduh dikelas anak ini selalu memperingatkan kalau akan mengganggu teman yang lain.
Tak hanya itu ketika bulan ramadhan anak ini dilatih oleh sang ibu untuk belajar perpuasa, suatu ketika ditengah jam pelajaran tiba-tiba anak ini demam, ada beberapa guru yang menyarankan pada anak tersebut untuk minum namun sang anak benar-benar menolak dengan berkata “ saya tidak mau minum buk, saya sedang berpuasa ini kan kewajiban.” Walaupun sudah dijelaskan oleh beberapa guru anak ini tetap menolak, badannya panas tinggi waktu itu, baru setelah ibunya datang kesekolah dan diberi pengertian dengan penuh kasih sayang oleh sang ibu, anak ini akhirnya membatalkan puasanya mau minum, makan dan minum obat. Diusianya yang masih belia, anak ini sudah punya perinsip yang kuat atas dasar didikan dari kedua orangtuanya, anak ini pun sangat kritis dan selalu dermawan membagi jajan yang dibawa dari rumah. Betapa besar pengaruh ibu dalam diri anak ini.  Sang ibu pun selalu memberi dukungan-dukungan yang positif dan memberi pehargaan setiap kali anak ini melakukan suatu kebaikan, penghargaan entah hanya sebuah pujian atau juga berbentuk barang.
Dalam diri anak ini dapat dilihat bagaimana “ diri” itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak, tergantung pada cinta dan kasih sayang yang diterima anak dalam masa kecil. Penerimaan cinta ini utamanya dari ibu, dan dari bapak; tetapi bisa juga dari pengasuhan orang dewasa lain, misalnya pengasuh bayi, kakek-nenek, atau pembantu. Pada waktu “diri” itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagai “Penghargaan positif” atau positif regart.    
“Penghargaan positif” merupakan suatu kebutuhan yang bisa memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari “penghargaan positif”. Akan tetapi tidak setiap anak menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima cinta, kasih sayang, dan persetujuan dari orang-orang lain (biasanya kedua orangtuanya, utamanya ibu). Sebaliknya, anak kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat bergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan “penghargaan positif” ini dipuaskan dengan baik. Dan tentunya disini peran ibu sangat besar dalam mendidik sang buah hati.

DAFTAR PUSTAKA :
Baihaqi MIF. (2008). Psikologi pertumbuhan -Kepribadian sehat untuk mengembangkan optimisme.                Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


0 comments:

Post a Comment