8.4.19

Gender Identity Disorder


Berkati Gaho 17.310.410.1162 Mata kuliah : Psikologi Abnormal

Gangguan identitas gender merupakan gangguan yang penderitanya merasa jika dirinya adalah pria atau wanita, terjadi konflik antara identitas gender nya dengan anatomi gendernya. Identitas jenis kelamin disini adalah kondisi psikologi yang mencerminkan perasaan dari dalam diri seseorang entah itu sebagai laki-laki ataupun wanita. Identitas gender ini adalah refleksi dari dalam diri seseorang yang berkaitan dengan keberadaan dirinya, entah itu sebagai pria ataupun wanita. Sehingga identitas jenis kelamin atau gender identity adalah berkaitan dengan sikap, perilaku, serta atribut lainnya yang penentuannya dilakukan secara kultural baik itu maskulinitas ataupun feminitas. Konsep tentang normal dan abnormal ini biasanya berkaitan dengan pengaruh sosial budaya. Perilaku seksual yang dianggap normal bila memang sesuai dengan norma yang ada di masyarakat dan dianggap menyimpang jika di luar dari kebiasaan masyarakat.

Nevid (2002), menjelaskan bahwa gangguan identitas gender  yaitu identifikasi yang kuat dan persisten terhadap gender lainnya. Adanya ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lain, preferensi untuk menggunakan pakaian gender lain, adanya fantasi yang terus menerus mengenai menjadi lawan jenis, bermain dengan lawan jenis,
Perasaan tidak nyaman yang kuat dan terus menerus, biasa muncul pada anak-anak. Anak laki-laki mengutarakan bahwa alat genitalnya menjijikkan, menolak permainan laki-laki, sedangkan pada perempuan adanya keinginan untuk tidak menumbuhkan buah dada, memaksa buang air kecil sambil berdiri.

Penyebab gangguan identitas gender ini berawal ketika masa kanak-kanak, biasanya akan teramati pada rentang usia 2-4 tahun. Gangguan identitas gender ini sering dikaitkan dengan perilaku lintas gender semisal sering berpakaian layaknya lawan jenisnya, lebih senang bermain dengan lawan jenis, serta melalukan permainan yang biasanya dinggap sebagai permainan yang dilakukan lawan jenisnya.
Belum ada teori ataupun penelitian yang pasti apakah hal yang menjadi penyebab gangguan identitas gender ini. Meskipun beberapa hal diantaranya dikaitkan faktor biologis, terkait dengan hormon seseorang hanya saja belum ada data yang tersedia mengenai hal tersebut. Faktor biologis lainnya merupakan kelainan yang terjadi pada struktur otak ataupun kromosom, namun ini pun juga tidak ada penjelasan yang lebih konklusif.

Selain itu hal lainnya yang menjadi penyebab dari munculnya gangguan ini juga bisa berasal dari faktor sosial serta psikologis.  Psikodinamika menjelaskan jika orang yang mengalami gangguan identitas gender tidak akan berkaitan dengan tipikal dari sejarah keluarganya. Faktor keluarga mungkin akan berperan serta dalam mengkombinasikannya dengan kencederungan dari faktor biologisnya. Penderita gangguan identitas gender seringkali memperlihatkan gender yang berlawanan dengan alat bermain serta pakaiannya ketika masih anak-anak. Hormon penatal di dalam dirinya juga tidak seimbang.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi gangguan identitas gender ini, antara lain adalah:
1. Body Alternations
Dalam terapi ini, usaha yang dilakukan bertujuan untuk mengubah bentuk tubuh seseorang agar memang sesuai dengan identitas gendernya. Untuk melakukan terapi ini, setidaknya penderita gangguan ini harus mengikut psikoterapi 6-12 bulan dan menjalani hidup sesuai dengan yang memang diinginkannya. Perubahan yang dapat dilakukan mulai dari bedah kosmetik, elektrolisis untuk pembuangan rembut wajah, pengisian hormon dan lainnya.
2. Mengganti Kelamin
Meskipun cara ini cukup kontroversial dan bertentangan dengan aturan yang ada, namun banyak penderita identitas gender yang memilih hal tersebut untuk mengatasi gangguan yang dideritanya. Tentu sebelum memutuskan untuk melakukan operasi penggantian kelamin, benar benar dipikirkan terlebih dahulu dengan matang. Jika penderita mengalami delusi paranoid, maka ahli bedah bisa menolak permintaannya. Pria yang ingin mengubah dirinya menjadi wanita biasanya akan ditingkatkan hormon estrogennya. Sedangkan wanita, ditingkatkan hormon androgennya. Sebelum operasi dilakukan, wajib bagi pasien untuk hidup sebagai lawan jenisnya kurang lebih satu tahun.

Jadi dari ulasan diatas mengenai gangguan identitas gender. Tentu saja cara mengatasi yang paling tepat adalah mengembalikan penderita sesuai dengan gender yang dimilikinya. tentu dukungan dari keluarga adalah hal terpenting.

Refrensi:

Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., Greene, Beverly. (2002). Psikologi abnormal jilid dua edisi kelima. Jakarta : Erlangga. Davison, Gerald C dkk, Psikologi Abnormal Edisi ke – 9

Gangguan Identitas Gender (Gender Identity Disorder) dalam https://dosenpsikologi.com/gangguan-identitas-gender  Diakses pada tanggal 16 Agustus 2017.

Nevid 2002. Gangguan jenis identintas jenis kelamin dalam https://www.slideshare.net/widyawira3/gangguan-identitas-jenis-kelamin. Diakses pada tanggal 20 Desember 2014.





0 comments:

Post a Comment