30.3.19

Psikologi Dan Kesurupan

Psikologi Dan Kesurupan
Nama: Yohanes Susilo
Nim : 173104101164
Dosen Pengampu: FX. Wahyu Widiantoro,.SPSI,.MA.



Kesurupanmerupakan istilah umum yang biasa digunakan dan dipahami masyarakat untuk menunjukan fenomena individu atau sekelompok individu yang mengekspresikan perilaku diluar kesadaran pribadi. Istilah kesurupan itu sendiri memiliki nama lain yaitu kerasukan. Bagaimana Psikologi memahami fenomena kesurupan?
Kesurupan bisa terjadi karen tekanan dan stres yang dihadapi individu atau kelompok. Kesurupan juga bisa terjadi karena beberapa situasi seperti kelemahn fisik atau sakit, praktek agama dan ritual buadaya. Pencegahan kesurupan bisa dilakukan dengan mengelola situasi serta kepribadian dan keyakinan individu atau kelompok. Karena situasi dan kepribadian serta kyakinan merupakan faktor kunci terjadinya kesurupan maka perlu dikelola untuk mencegah kesurupan(Siswanto, 2015)
Harian suara merdeka melaporkan pada hari Selasa (11/10/2010) di SMK 1 Pasuruan sekitar 17 siswa-siswi di ruang kelas 10, 11, 12 menjerit dan meronta-ronta secara massal. Kejadian tersebut merupakan ketiga kalinya. Pertama pada saat kegiatan perkemahan Sabtu Minggu (Persami), Sabtu malam (8/10), dan kedua usai upacara bendera di sekolahnya, Senin (9/10).
Psikologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, maka psikologi tentunya menghindari penjelasan yang sifatnya metafisik, yaitu penjelasan yang sifatnya supranatural, meskipun secara logika bisa masuk akal menurut pemahaman umum. Psikologi adalah ilmu perilaku. Hanya perilaku yang dapat diamati, diukur dan dicatat. Konsep roh, setan, jin dan sebagainya oleh masyarakat awam disebut sebagai makhluk halus, di luar kajian psikologi. Maka psikologi membatasi diri pada penjelasan perilaku individu yang mengalami kesurupan, bagaimana dinamikanya sampai bagaimana cara menanganinya secara ilmiah dan terukur.
Perilaku kesurupan, meskipun untuk setiap individu yang mengalami, sebenarnya memiliki banyak kemiripan atau kesamaan. Kemiripan atau kesamaan inilah yang kemudian bisa dikategorikan dan dikelompokan menjadi tema-tema sejenis, lalu disusun secara sistematis, dicari kaitannya satu dengan yang lain menjadi suatu narasi logis agar bisa dipahami. Proses melakukan kategorisasi, menamai ke dalam tema-tema tertentu, dan menyusun serta mengaitkan secara sistematis ini tidak terlepas dari paradigma atau sudut pandang yang digunakan oleh ilmuwan psikologi.


Referensi
Siswanto. 2015. Psikologi Kesehatan Mental: Awas Kesurupan! Yogyakarta: Penerbit Andi.

0 comments:

Post a Comment