16.3.19

PENGELOLAAN DIRI YANG CERDIK BAGI MAHASISWA KARYAWAN

KULIAH SAMBIL BEKERJA, WHY NOT?


Ika Fatmawati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Pendidikan merupakan suatu hal yang mendasar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas masyarakat yang berkarakter. Sekarang ini bukan alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi hanya karena sudah bekerja. Hal ini karena kini banyak perguruan tinggi yang menawarkan program kuliah dengan waktu kuliah yang luwes sesuai dengan waktu luang mahasiswa karyawan. Waktu yang biasa ditawarkan oleh pengelola universitas kepada mahasiswa karyawan adalah sore, malam, bahkan akhir pekan. Sebagai catatan, warga yang bekerja sambil menuntut ilmu di perguruan tinggi disebut mahasiswa karyawan.

Menyandang status sebagai mahasiswa karyawan adalah sangat berat. Alasannya, mahasiswa harus piawai menata waktu antara bekerja, belajar, dan pergi kuliah. Tidak sedikit mahasiswa karyawan itu ada yang sudah berkeluarga. Kerumitan pengelolaan waktu tentu bertambah. Salah satu cara untuk sukses meniti karir di organisasi tempat kerja dan juga menuntut ilmu di perguruan tinggi adalah selalu berpikir positif dan selalu berusaha mendapatkan AQ dalam level tinggi.


Berpikir positif membantu para mahasiswa karyawan untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik dengan optimal. Dampak dari cara berpikir positif adalah efikasi diri individu dalam bidang akademik menjadi meningkat (Dwitantyanov, Hidayati & Sawitri, 2010). Individu menjadi lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Hal ini karena berpikir positif membuat individu cenderung berperasaan positif serta memandang tujuan akademik tertentu dapat diraihnya.

Hal berikutnya yang juga ikut menentukan kesuksesan mahasiswa karyawan dalam menyelesaikan kuliahnya dengan tuntas adalah kemampuan Adversity Quotient (AQ). AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup melalui perjuangan yang tidak kenal lelah. Seseorang yang mempunyai level AQ tinggi menunjukkan bahwa ia mampu mengatasi kesulitan-kesulitan hidup tanpa menjadi putus asa. Kesulitan itu bisa saja terjadi di tempat kerja atau di bangku kuliah.

Stoltz (dalam Arifah, 2010), dalam bukunya yang berjudul "Turning Obstacles into Opportunities" mendiskripsikan AQ sebagai pendaki gunung. Ada tiga jenis pendaki gunung yaitu quitter atau mudah menyerah, camper atau berkemah di tengah perjalanan, dan climber atau pendaki yang mencapai puncak. Tipe quitter adalah mahasiswa yang mengira bahwa menuntut ilmu di perguruan tinggi swasta seperti UP45 adalah hal yang mudah. Mahasiswa tersebut kemudian menemui kenyataan bahwa mengikuti kuliah di Psikologi UP45 ternyata sangat tidak mudah. Perilaku mahasiswa dengan tipe quitter ini kemudian akan menghilang dari perkuliahan ketika menemui kesulitan perkuliahan. Jadi bila mahasiswa menginginkan gelar S.Psi. dengan segera maka mereka harus fokus dan berjuang dengan sungguh-sungguh.

Selanjutnya mahasiswa dengan tipe camper adalah mereka yang mempunyai kebiasaan asal masuk kuliah saja dan tidak perlu berprestasi tinggi. Hal ini akrena yang dipentingkan mereka adalah segera lulus. Mereka tidak akan mengulang pelajaran yang nilainya kurang memuaskan, jarang protes, jarang mempunyai ide-ide untuk perbaikan diri, dan cenderung pasif. Selanjutnya seorang mahasiswa karyawan yang sukses dalam berkarir dan sekaligus dalam dunia akademik, cenderung mempunyai AQ dengan level tinggi dan jenisnya adalah climber. Ia tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai dengan gemilang.

Sulitkah mendapatkan kemampuan AQ yang tinggi? AQ bukan bersifat bawaan tetapi bisa dipelajari. Cara mempelajarinya yaitu dengan memperhatikan fisik, kesehatan, daya tahan mental, kestabilan emosi, kemampuan sosial, keimanan, ibadah, ketrampilan dan seksualitas. Usahakan hal-hal fisik dan psikhis tersebut selalu dalam kondisi normal / tidak berlebihan. Sebagai contoh, kondisi fisik mahasiswa keryawan biasanya cenderung lemas. Hal ini karena pikiran dan tenaga mereka sudah diperas di tempat kerja pada pagi hari, kemudian pada sore harinya mereka masih diharuskan untuk menyimak ‘pidato’ dosen yang sering kali tidak bermutu. Pidato / kuliah dosen yang tidak bermutu (tidak bisa konkrit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari) tersebut sering kali mengusik kondisi emosi mahasiswa. Mahasiswa karyawan menjadi mudah tersinggung, sehingga sangat mungkin proses belajar-mengajar di perguruan tinggi menjadi kacau.

Untuk mengatasi kondisi emosi yang tidak stabil tersebut, maka mahasiswa karyawan perlu mempunyai metode pelampiasan emosi yang sehat. Contoh pelampiasan emosi yang sehat adalah olah raga. Jadi mahasiswa karyawan yang sedang tersinggung karena kuliah dosen yang tidak bermutu tersebut, maka segeralah berolah raga. Berolah raga tidak perlu jogging di lapangan, cukup berjalan kaki naik turun tangga. Proses fisik seperti naik turun tangga itu akan menenangkan emosi yang meledak-ledak. Bila hal itu dilakukan secara rutin, maka mahasiswa karyawan akan menjadi cerdik dalam mengelola emosi sehingga AQ-nya berada dalam level tinggi.

Tantangan yang juga harus dihadapi mahasiswa karyawan adalah munculnya rasa malu karena teman-teman kuliah pada umumnya berusia lebih muda. Selain itu, teman-teman kuliah tersebut juga baru saja lulus dari SMA, dan kemampuan penguasaan teknologi informasi sangat bagus. Mereka juga berani berdebat dengan dosen dan orang yang lebih senior usianya. Mahasiswa karyawan yang tidak mempersiapkan mental untuk menghadapi situasi seperti ini, cenderung merasa malu. Akibatnya mereka akan withdrawl atau menarik diri dari pergaulan. Dampak berikutnya adalah prestasi akademik mundur, dan mungkin saja mereka akan menghilang dari pergaulan kampus.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya mempertimbangkan untuk menuntut ilmu di Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Ada dua aspek positif yang menjadi latar belakang bagi keputusan saya. Pertama, Fakultas Psikologi UP45 dikelola oleh dosen-dosen yang berkompeten tinggi. Saya bisa merasakan bahwa dosen saya mempunyai komitmen tinggi untuk memajukan mahasiswa. Caranya adalah dengan memberikan tugas yang berlimpah jumlahnya. Sangat tidak mudah menaklukkan dosen tersebut, namun saya mengagumi komitmennya. Selain itu, dosen berkomitmen tinggi tersebut sangat dekat dengan mahasiswa – bahkan seperti teman saja -, dan beliau sering mengajak mahasiswa untuk bersama-sama melakukan kegiatan pengadian pada masyarakat. Saya sangat salut dengan dosen tersebut.

Aspek kedua yang mendasari pemilihan saya pada Fakultas Psikologi UP45 adalah biayanya sangat terjangkau dan pelaksanaan perkuliahan sangat memperhatikan kondisi mahasiswa karyawan. Hal yang tidak terduga adalah dukungan dari keluarga dan instansi tempat saya bekerja. Mereka memahami bahwa Fakultas Psikologi UP45 telah dikelola dengan baik, terbukti dari nilai akreditasinya yang bagus yaitu B. Saya menjadi sangat bersyukur dan bersemangat 45 menuntut ilmu di Fakultas Psikologi UP45.

Sebagai penutup tulisan ini adalah perlunya mahasiswa karyawan untuk selalu berpikir positif dan berlatih untuk menjadi mahasiswa tipe climber. Saya selalu berdoa agar saya bisa berprestasi tinggi, cepat diwisuda dan segera menyandang gelar S.Psi. Bekerja tidak menjadi penghalang bagi saya untuk berprestasi tinggi dalam bidang akademik. Situasi di UP45 yang mungkin saja kurang kondusif adalah wahana bagi saya untuk melatih AQ hingga level tinggi. Jadi, kuliah sambil kerja, siapa takut?


Referensi :

Arifah, B. (2010)Smart parenting with love. Jakarta: Progressio Publishing

Dwitantyanov, A., Hidayati, F., & Sawitri, D.R. (2010). Pengaruh pelatihan berpikir positif pada efikasi diri akademik mahasiswa (Studi eksperimen pada mahasiswa Fakultas Psikologi UNDIP Semarang). Jurnal Psikologi UNDIP. 8(2), Oktober, 135-144.

0 comments:

Post a Comment